Chacha pun hanya diam saja mendengar Dinda, sambil memikirkan sesuatu. Sebenarnya Chacha ingin bercerita tentang hobinya yang menulis itu, tapi Chacha menunggu saat yang tepat untuk menceritakan bagaimana hobinya itu bisa muncul.
"Eh Cha kok lo diem aja si" kata Dinda dan mengagetkan Chacha.
"Oh, eh, iyah anu.. hmm udahlah ga usah di pikirin. Lagi pula itu kan udah lama" kata Chacha yang tak mau memberi jawaban pada Dinda.
"Udah lama apaan, ini kan baru enam bulan yang lalu sertifikatnya." Kata Dinda yang masih penasaran.
"Udahlah din, gak penting. Ayo kita ke ruang tamu aja. Cindy sama Devi udah pada disana." Kata Chacha. Sekali lagi dirinya menghindar dari pertanyaan Dinda.
Dinda pun mengangguk, dan mereka pun pindah keruang tamu.
"Ih ga asik banget film film di TV. Mendingan kita nonton drama korea aja deh, lebih seru dan dramatis bangeeeet, terutama pemain nya, banyak oppa oppa yang bikin gue suka bangeeet." Kata Devi, nada bicaranya sedikit di manja manjakan.
"Ih apaan sih lo. Hidup lo penuh drama mulu si" kata Cindy yang meledek perkataan Devi. Lalu mereka semua pun tertawa.
"Hehehe.. kan ga ada salahnya kita nonton drama korea." kata Devi
Akhirnya mereka pun menonton drama korea. Meskipun hanya Devi saja yang merasa asik.
"Udah mau maghrib nih. Cha kita pulang dulu yak." Kata Dinda pada Chacha
"Iya cha, kita pulang dulu yak." Lanjut Devi dan Cindy
"Oh oke oke, nanti kapan kapan insya Allah, gue ajak kalian nginep deh dirumah gue." Kata Chacha pada mereka.
Setelah mengantar mereka sampai depan gerbang, Chacha pun kembali lagi masuk ke dalam rumahnya, karena sebentar lagi, mamah dan papah nya pulang. Chacha punya pembantu dirumah, dan ia juga anak satu satunya. Jadi, terkadang Chacha suka merasa sepi, palingan hanya bibi saja yang menemaninya. Chacha gak punya temen dirumah, karena dia adalah anak baru. Dia pindahan dari Bandung. Papah nya pindah ke Jakarta, karena ada urusan pekerjaan.
Di kamar, Chacha langsung menuju meja belajar berwarna coklat muda dengan corak bunga. Dan ia pun duduk, dikursi meja belajar. Ia terus memperhatikan piala dan juga sertifikat yang ia punya. Chacha jadi teringat dengan seseorang yang selalu mengajarkan ia untuk berpuisi. Hingga pada akhirnya, ia pun suka menulis puisi. Saat ada lomba cipta puisi, Chacha dan sahabat kecilnya mengikuti lomba tersebut, sehingga mereka pun memenangkannya. Chacha mendapatkan juara tiga, dan sahabat kecilnya mendapatkan juara pertama. Wajar saja dia mendapat juara pertama, karena dia adalah anak yang memang pandai dalam hal berpuisi. Chacha juga masih suka dengan menulis puisi. Terkadang ia suka menulis puisi saat dia dilanda rindu dengan sahabat kecilnya. Hobinya untuk berpuisi tidak akan pernah hilang. Puisi adalah dirinya yang digambarkan oleh kata. Hanya saja, saat Chacha pindah ke Jakarta, dan berpisah dengan sahabat kecilnya itu, ia merasa ada bait yang menghilang. Indahnya berpuisi tak ia rasakan.
Seketika bayangan itu pun terbuyarkan dengan suara klakson mobil papah dan mamah yang berada di luar.
-
-
-
-
Kira kira Chacha lagi mikirin apa si? Hmm.. hmm.. hmm.. *mikir
Ayo yang lain katakan Hmm.. hmm.. lebih keras Hmm.. Hmm.. wkwkwk
Tunggu cerita selanjutnya yaa sayang☺
KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGE FOR LOVE
Teen FictionJudul : Change For Love Penulis :Epin Supini ZA PUBLISHER Open Order!!!! Change For Love Rp.59.000. Info lebih lanjut hub Saya Pribadi : 0855-9837-487 Sinopsis : Cinta dan persahabatan, selalu hadir untuk memberi warna warni dalam kehidupan seseora...
