Hari ini semuanya buruk. Dari mulai bangun kesiangan, Pak Amir yang hilang entah kemana, dan tadi pagi dan siang yang menjadi pusat perhatian banyak orang di sekolah. Benar-benar Hari yang sangat buruk.
Jangan di tanya seberapa buruknya hari ini bagiku. Bayangkan saja, aku, dua kali bersama si cowok aneh itu. Berangkat dan pulang. Dan lagi-lagi menjadi pusat perhatian banyak orang di sekolah.
"Buruk buruk buruk!!" teriakku.
"Kamu kenapa Key?" teriak nenek dari bawah.
"Enggak nek, Key gapapa."
"Jangan teriak-teriak, udah malem."
"Iya, nek."
Malam ini, rasanya biasa saja. Makanan yang biasanya aku makan lahap pun, rasanya biasa saja. Mungkin, singkatnya tidak nafsu. Masih terbayang-bayang dengan tatapan tajam orang-orang di sekolah tadi. Seperti singa yang akan menerkam mangsanya. Menyeramkan.
"Key? Kamu kenapa?" tanya nenek.
"Hah?"
"Kamu kenapa?" tanya nenek lagi.
"Enggak nek, Key gaapapa."
"Bener? Kalo ada apa-apa cerita ya ke nenek."
"Iya. Kayaknya key lagi kurang enak badan aja nek."
"Kenapa? Kok bisa?"
"Kecapean kayaknya."
"Ah, iya, bener juga."
"Iya."
"Yaudah, kamu naik aja sana ke kamar istirahat. Tinggalin makanannya di situ aja."
"Iya, nek. Key ke atas ya."
"Iya, hati-hati ya."
Sesampainya di kamar, aku langsung merebahankan diri di kasur. Hanya menatap langit-langit atap kamar. Itu yang sekarang sedang kulakukan. Jujur saja, aku benar-benar lelah. Baru saja dua hari sekolah di sekolah itu, tapi lelahnya sudah seperti ini. Tidak terbayang jika aku menetap di sekolah itu selama tiga tahun. Kira-kira, sudah seperti apa ya aku nanti?
Terlalu bosan. Itu yang sedang aku rasakan. Akhirnya, aku memutuskan untuk pergi ke balkon untuk menghirup udara segar. Baru saja menghirup udara dan menatap bintang dan bulan yang indah itu, tanpa kusadari ada yang menatapku dari jauh. Cepat-cepat menoleh dan ...
"Dia lagi. Kenapa dia harus ada di sini sih ya? Ah, iya, dia tetanggaku. Rumah kami persis sebelahan jadi ya wajar saja." batinku.
***
"Ngapain?" tanyanya membuka suara.
"Bosen. Sendirinya?" jawabku sambil menatap bulan dan bintang di langit yang sudah cukup gelap ini.
"Gue lagi cari angin aja. Lagi istirahat baru selesai main game." jawabnya dengan lembut.
"Main game?"
"Iya."
"Hobi kamu?"
"Iya."
"Hmm.. kak."
"Jangan panggil gue kakak. Kenapa?"
"Kan kamu lebih tua dari aku, ya jadi harus panggil kakak dong."
"Tapi gue gak mau."
"Iya, yaudah deh, panggilnya apa dong?"
"Bi aja."
"Itu nama kamu?"
"Iya."
"Serius nama kamu? Nama kamu cuma Bi? Gak ada yang lain? Maksudku gak ada nama panjang?"
"Ada, tapi gue gak mau ngasih tau."
"Kenapa?"
"Rahasia."
"Kenapa rahasia?"
"Nama lo siapa? Kita belum kenalan."
"Key."
"Oke, Key."
"Hmm .."
"Kenapa?"
"Mau ikut boleh gak?"
"Ikut? Ikut kemana?"
"Ikut kamu main game. Ayo dong, boleh ya? ya? ya?"
"Gue main game di kamar. Mau ikut?"
"Hah?"
"Gue main game di komputer."
"..."
"Jadi mau ikut?"
"Iya deh, gapapa. Bosen abisnya."
"Tunggu."
"Apa?"
"Masuknya gimana?"
"Hah?"
"Lo mau loncat dari situ ke sini?"
"Lewat depan aja. Lewat depan pintu rumah kan bisa."
"Bodoh."
"Apa? Kenapa? Kamu ngatain aku bodoh ya?!"
"Lo kan cewek. Masa main ke rumah gue terus masuk ke kamar gue? Emang lo di izinin juga ke sini malem-malem? Enggak kan?"
"Ah, iya, bener juga."
"Terus gimana?"
"Gak jadi."
"Yaudah gapapa."
"Iya."
"Gue masuk ya, gue tinggal."
"Iya."
"Duluan, bye."
"Bye."
Akhirnya, aku bergegas masuk ke dalam karna malam sudah semakin larut. Sedikit kecewa karna tidak bisa ikut bersama si cowok aneh itu.
Bosan. Itu yang selalu kurasakan ketika berada di dalam kamar. Tidak banyak yang kulakukan jika berada di dalam kamar. Paling-paling hanya memetik senar gitar, membaca novel, bermain handphone, mengerjakan pr, dan sudah paling sering menatap langit-langit atap kamar.
Terlalu bosan, dan sangat membosankan. Tadi, seharusnya aku ikut saja dengan si cowok aneh itu. Sepertinya, jika aku bisa ikut dengannya, rasa bosanku akan menghilang.
"Nanti, aku harus mengelilingi rumah. Mencari pintu atau jendela, supaya aku bisa kabur kerumahnya," batinku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Bulan Agustus
Ficção AdolescenteMasih di sini, menunggumu untuk pulang. Ini cerita tentang adik kecil yang kehilangan kakaknya. Atau mungkin, ini cerita tentang langit yang kehilangan bintang di malam hari.
