Setahun lalu

43 5 0
                                    

"Kita mau kemana kak?" Tanya adik Rani —Randy Calvin—

"Kita ke sekolah lo aja Ren."

"Yakin lo kak?" Randy memastikan.

"Please, kali ini aja." Pinta Rani.

"Oke." Randy meminta kepada supir pribadi keluarganya untuk menuju sekolah yang ia tempati sekarang dan memang Rani alumni dari sana. Sikapnya tadi bukan maksud melarang, tetapi dia khawatir kakaknya akan mengingat kejadian satu tahun lalu.

Sesampainya di sekolah mereka memutuskan duduk di salah satu bangku yang berada dipinggir lapangan. "Gak banyak yang berubah ya masih sama kayak dulu, yang beda cuma warna catnya aja." Ucap Rani sambil memperhatikan sekelilingnya.

"Kak, lo yakin gapapa?" Randy memperhatikan kakaknya lekat-lekat.

Rani tersenyum sekilas lalu menatap Randy "Apa sekarang gue keliatan kenapa-kenapa?"

Randy menggeleng "Ya siapa tau aja, diluarnya gapapa di dalemnya siapa yang tau." Tuturnya.

Rani hanya menatap lurus ke depan sambil menikmati semilir angin.

"Kamu yang semangat yaa latihannya." Rani memberi semangat seraya tersenyum tulus.

"Pasti, aku gak akan ngecewain tim wku apalagi kamu." Ucapnya mantap.

"Yaudah, aku pergi ke kantin dulu ya." Rani berjalan menjauh dari pacarnya.

"Kak Rani, kata temanku suka sama kakak!" Teriak seorang cowok dari arah taman.

Langkah Rani terhenti karena merasa dirinya terpanggil. Saat membalikan badan, satu meter dari tempatnya berdiri seorang cowok tersenyum ke arahnya. Tingginya tidak melebihi Rani, kulitnya putih mulus dan tatapan matanya lembut.

"Kak, jadi cewek gue mau?" Ucapnya to the point.

"Hah?" Rani benar-benar terkejut. Bagaimana bisa? adik kelasnya yang bahkan tidak dia ketahui namanya menembaknya secara langsung di pinggir lapangan dengan suara yang lumayan keras, dan pastinya pemandangan ini di saksikan oleh anak-anak futsal dan pacarnya.

"Iya, lo mau jadi cewek gue?" Ulangnya dengan percaya diri.

Rani panik, refleks ia menoleh ke arah pacarnya, cowok itu pun menatap dengan tatapan tajam. "Gue hari ini izin gak latihan, bro." Tuturnya sambil menyampirkan tas ransel dibahu sebelah kanan lalu pergi meninggalkan lapangan.

"Maaf ya dek, gue duluan ada urusan." Rani lalu berlari mengejar pacarnya yang sudah jauh dari pandangannya.

"Tapi kak, jawaban lo apa?" Teriaknya.

Rani masa bodoh dengan adik kelasnya itu, yang terpenting sekarang adalah pacarnya "Sayang, tungguin aku dong!" Teriak Rani, yang diteriaki pun tidak menoleh apalagi menghentikan langkahnya.

Rani berhasil menghalangi langkah pacarnya itu. "Kamu tuh ya, dengerin penjelasan aku dulu." Protes Rani.

TemporaryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang