vierzig // extra part yang didedikasikan utk pembaca yang kebingungan

2.9K 306 145
                                        

Jantung Aga ingin meloncat keluar saat Kara menarik tangannya untuk dengan segera menyingkir dari taman  karena hujan semakin deras, ditambah angin yang semakin kencang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jantung Aga ingin meloncat keluar saat Kara menarik tangannya untuk dengan segera menyingkir dari taman  karena hujan semakin deras, ditambah angin yang semakin kencang. Aga ulangi, Kara menarik tangannya. Menarik tangannya artinya Kara memegang tangannya. Rasanya, Aga semakin dekat dengan kata pulang.

"Kar, lo kurang tinggi angkat payungnya, gua basah dikit ini."

Kara menoleh, tatapan tajamnya menghujam Aga. "Masih untung gua payungin. Lagian, lo tambah tinggi, ya?"

Bilang saja Aga alay atau bagaimana, tapi dia senang Kara masih menghafal perbedaan tinggi mereka yang, dulu, tidak terlalu jauh. Sekarang, Aga bisa menaruh dagunya tepat di ubun-ubun Kara.

Mereka berjalan beriringan menuju rumah Aga. Sepanjang perjalanan itu pula, Kara tetap mencekal tangan Aga, seolah Aga anak kecil yang kalau dilepas cekalannya, akan hujan-hujanan.

"Bukain. Ngapain melongo?" tanya Kara ketika mereka tiba di depan kediaman Mahavira.

Aga terkekeh. "Sori-sori, abisnya gua masih kangen jadi nggak fokus."

Kara hanya memutar bola mata dan memayungi Aga ketika cowok itu membuka pintu pagar.

"Silakan, Tuan Puteri."

"Najis."

Aga menggembok lagi pagar, masih dipayungi oleh Kara yang berusaha jinjit agar cowok itu tidak kebasahan.

"Ngobrol di luar aja, ya," pinta Kara.

Aga mengangguk. Dia mempersilakan Kara duduk di kursi yang ada di beranda rumah. Lalu Aga duduk di depannya.

"Jadi?"

Kara terdiam beberapa saat. "Jadi apa?"

"Lo ke mana aja selama ini? Kenapa ganti nomor? Gua yakin, lo udah cukup dewasa, jadi nggak mungkin ganti nomor cuma buat ngehindar dari gua." Aga berusaha mengabaikan kenyataan bahwa Kara dengan rambut sebahu merupakan perpaduan yang pas layaknya nasi goreng pakai telor dan nugget.

Kara memainkan kaosnya. "Ya emang nggak sih. Awalnya. Gua sempet kehilangan hape, ja—"

"Wah! Sama! Serius sih, Kar, kita tuh, jodoh, cuma dulu masih tertunda aja."

Kara memutar bola matanya. "Lo ngerti nggak sih, yang namanya kebetulan?"

"Nggak. Gua ngertinya yang namanya takdir. Terus?"

"Ya udah dong. Nomornya diblokir biar nggak disalahgunain. Terus, gua ganti ponsel, ya udah."

Aga menopang dagunya. "Lo emang nggak hafal nomor gua? ID line gitu?"

"Ha...? Ya, nggaklah. Lo 'kan, suka ganti-ganti LINE."

"Gua udah baca surat-surat lo, Kar."

Raut wajah Kara seperti maling yang tertangkap basah. Cewek itu mengumpat pelan. "Serius? Surat empat tahun lalu?"

"Empat setengah tahun," koreksi Aga.

"Lo dapet dari mana?!"

Aga tertawa. "Kar, lo segitunya nggak mau bawa lagi, ya, semua yang bersangkutan sama gua?"

"Nggak sih. Itu kotak, 'kan, gua bawa ke Aussie biar bisa gua taruh surat yang gua tulis, terus waktu gua ke Jakarta, gua bawa, niatnya mau gua kubur gitu di taman belakang, siapa tau nanti mau gua baca lagi. Nostalgia gitu. Eh, tau-taunya lupa kalo gua simpen di bawah tempat tidur," jelas Kara panjang lebar. "Lo baca? Semuanya?"

Aga mengangguk. "Makasih udah sesayang itu sama gua dulu. Please let me fix these things, Kar. Biar sayangnya lo bisa sampe sekarang dan ke depannya."

Kara menatap Aga yang menatapnya dengan tatapan seperti dulu. Kara tahu, cowok itu mungkin masih menyayanginya.

"Nggak tahu."

Aga mengembuskan napas, tapi sebelum dia sempat menanggapi, Kara sudah lebih dulu bicara, "Gua nggak tahu, rintangan apa ke depannya kalo misalnya gua balik sama lo. Gua takut, kalau ternyata kita emang cuma bisanya saling nyakitin."

"Kar, kalau kita emang nggak ditakdirkan waktu umur tujuh belas kemarin, mungkin dua satu itu umur yang dirancang buat kita? Di mana gua juga udah cukup dewasa, dan gua tahu, lo jadi makin dewasa. Kita udah bukan ABG labil yang kalau nggak dikabarin langsung ngambek, Kara."

Kara memberengut. "Siapa yang ngambek. Dih."

Aga tertawa, dia rindu kebersamaan seperti ini bersama Kara. Setelah putus dengan cewek itu, Celine semakin gencar dekat-dekat dengan Aga, dan Aga semakin gencar jauh-jauh dengan Celine. Sampai akhirnya, Celine pun menyerah dan menjauhi Aga, bersamaan dengan berakhirnya kelompok mereka bersama. "Ya, lo, nggak di vidcall sama nggak di chat bentar aja, udah ragu gitu sama gua."

"Ya gimana, ya, Ga, gua cuma nggak mau ngulang kesalahan yang sama. Gua nggak mau ngebuang waktu—"

"Buat gua, sama lo itu nggak ngebuang waktu kok, Kar, kare—"

"Basi. Diem. Gua bukan Kara yang dulu, dan lo juga bukan Aga yang dulu. Sedangkan gua, mungkin jatuh cinta sama Aga yang usianya tujuh belas, dan lo, jatuh cinta sama gua yang usianya tujuh belas. Semuanya udah berubah, Ga. Nggak segampang itu lo ngajak balikan. Nggak ada yang akan menjamin kalo kita nggak mungkin saling nyakitin lagi."

Aga mengembuskan napas. "Kalo gitu, biarin gua kenalan dan PDKT dari awal sama Omkara yang umurnya dua satu ini. Karena gua percaya, kita emang ditakdirkan buat barengan."

***

A/N:

yea hello peeps

bisabisanya gue mau hiatus

padahal tawaran golden ticket belum beres

haha tp udah sold out ya gengs tinggal nunggu kepastian sj ini aku

so

ini buat kalian yang bingung dan membutuhkan penjelasan karena part endingnya gantung parah

akutu gak tega bikin aga nggak ketemu sama kara :(

tapi akutu juga nggak memastikan kalau happy ending.

jadi beginilah akhir dari cerita aga dan kara.

biarlah aga mengenal kara 21 tahun dan biarlah mereka menentukan apa mereka akan bareng lagi atau tidak.

serius, gue barusan liat funfact tmio, dan beberapa komen nggak gue bales. itu.... NGGAK MASUK DI NOTIF :( serius w sendiri juga kesel kalo suka gamasuk gitu. nah, kalau nanti w sempet, w bakalan baca satu2 (gak lewat notif) biar semuanya kebales. karena baca komenan kalian mewarnai hari-hariku.

i don't even know why i love kara so damn much😩

sincerely, yoursTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang