Puzzle Ketiga

8K 1K 101
                                        


Namjoon menghela napas panjang saat memasuki ruang rapat dan disuguhi wajah frustasi rekan kerjanya. Kepala sekolah sudah berada di sana dengan raut wajah datarnya. Namjoon kemudian menyamankan posisinya di kursi rapat. 

"Sudah lengkap, mari kita mulai rapatnya." Namjoon berulang kali menghela napas panjang, melirik Kai yang duduk dengan wajah datarnya di sampingnya. 

"Kalian semua tahu, kan? Kita akan membahasa tentang apa? Ini bahasan yang berat dan aku berharap kalian bisa memberikan solusi terbaik untuk kepelikan ini." Namjoon meremat tangannya yang terasa dingin saat mendengar satu per satu keluhan dari rekan kerjanya. 

"Aku akan mengeluarkannya dari basket setelah turnamen." Pernyataan itu tentu membuat Namjoon membulatkan matanya. 

"Kenapa?" Namjoon menanyakan hal tersebut dengan spontan. "Dia berhenti berbicara, itu artinya dia berhenti mengomando di lapangan." 

Bahu Namjoon melemas mendengarnya hingga kemudian pandangannya tidak sengaja bertubrukan dengan pandangan kosong seseorang. Mata Namjoon membola saat menyadari siapa pemilik pandangan kosong itu. 

"Jungkook!" 

Namjoon bangkit dan bergegas keluar namun yang dilihat Namjoon adalah tatapan sendu Jungkook.

Tangan Jungkook gemetar, memainkan ujung alamameternya kakinya bergerak gelisah. 

"Sudah lama?" Jungkook mengangguk pelan kemudian semua orang keluar dan menatap Jungkook yang masih menunduk sembari memainkan jemarinya. 

"Kau mendengar semuanya?" Jungkook juga mengangguk pelan membuat semua orang yang ada di sana berdecih. 

"Baguslah, kau harus mempersiapkan performa terbaik di pertandingan terakhirmu nanti."

"Kai!"

"Kau sudah mendengarnya bukan? Apakah kau akan berhenti melakukan ini dan kembali menjadi anak yang baik, heum?" 

Jungkook tidak menjawab namun setelahnya Jungkook memilih mundur, kemudian berlari meninggalkan mereka yang berdiri dengan senyuman miring. 

"Kau tahu Namjoon, kami sengaja melakukannya. Karena ini sekolah terbaik di korea, aku ingin yang terbaik untuk sekolah ini." 

Kalimat sang kepala sekolah tentu saja membuat Namjoon mengepalkan tangannya kuat-kuat. 

"Kau tidak boleh bertingkah macam-macam. Besok kita akan menyidangnya di aula, di hadapan semua murid dan guru di sekolah ini." 

Mata Namjoon membola mendengarnya, menatap pemimpinnya dengan tatapan tidak percaya.




______



Jungkook mengepalkan tangannya kuat-kuat, napasnya tersengal menahan emosi yang meledak di dadanya. 

Membuat dadanya menjadi nyeri dan sesak, sehingga kini Jungkook hanya mampu mengepalkan tangannya kuat-kuat sembari menahan tangis dan amarahnya. Jungkook lelah, dia ingin marah dan mengeluhkan hidupnya. 

Jungkook ingin menangis dan menumpahkan semua rasa sesak di dadanya. 

Mingyu tersenyum sendu melihatnya, pandangannya beralih kepada teman-temannya yang lain yang merupakan bagian tim inti basket sekolah mereka. Jungkook adalah anak yang baik di sekolah, suka membantu dan tidak pernah berbuat jahat kepada orang lain. 

Perfect -The Series- [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang