Bartender/BadAss - Bagian 2 [Udara Baru]

91 12 0
                                        

Kubuka kedua pelupuk mataku perlahan, Langit terlihat mulai membiru malam telah tergantikan oleh pagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kubuka kedua pelupuk mataku perlahan, Langit terlihat mulai membiru malam telah tergantikan oleh pagi....
Aku mencoba untuk beranjak menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhku.
Huftttt Sebenarnya aku ini habis tertidur atau lari maraton sihh memgapa seluruh tubuhku basah oleh peluh?? Aneh.

Jeans, Craptop tidak lupa dengan jaket yg aku ikatkan dipinggangku aku melenggang keluar rumah mencoba menikmati udara pagi
Tetapi entah apa yang aku rasa, seluruh anggota tubuhku terasa begitu sakit
Mungkin saja ini efek dari berantakkannya pola makanku, pola tidurku, dan alkohol alkohol yang ku tenggak sebelum aku terlelap semalam.

-FlashBack-

Dan tak terasa kakiku telah menginjakkan sebuah tempat yang sangat kukenal.... Rumahku sendiri. Mungkin aku harus mengistirahatkan tubuhku sebelum akhirnya tubuhku jatuh sakit akibat dari dampak apa yang tengah ada didalam kepalaku....
Kubuka perlahan pintu rumahku, awalnya perlahan namun seperti ada sesosok hantu yang sedang mengawasiku tiba-tiba saja gerakkan tanganku yang tengah membuka pintu begitu tergesa-gesa. Akupun tidak mengerti mengapa aku melakukan itu dengan tergesa-gesa akupun bergegas masuk dan kembali mengunci pintu lari menuju kamarku dan menangis sejadi jadinya. Menangis?? Tidakkah itu cukup aneh?? Setelah aku berlari seperti maling dirumahku sendiri yang akan tertangkap oleh masa dan kini tanpa alasan yang jelas aku menangis. Sangat aneh.... Dan miris!!

Alasan sebenarnya aku menangis bukanlah akan sesuatu hal yang akan terjadi melainkan hal yang sudah terjadi selama beberapa tahun silam yang membuatku menderita, tersiksa bukan hanya diriku namun batinku pun ikut merasakannya. Semua masalalu pahit itu membuatku seperti ini, layaknya seseorang yang hilang akal tanpa alasan tiba-tiba saja bisa menangis meronta-ronta meminta pertolongan yang sudah dipastikan tidak akan ada yang menolongku untuk hal apapun. Mungkin ada, hanya saja kini aku menjauhkan diriku dari lingkungan yang begitu kejam kepadaku. Dan orang-orang yang selama ini berada disekelilingku sudah cukup membuat penderitaan terbesar dalam hidupku. Sudah sering aku menangis seperti ini dan untung saja kali ini terjadi dirumah jadi tidak akan ada orang yang menatapku dengan rasa iba, menyedihkan sekali hidupku.

Kuhapus sisa-sisa airmata yang ada dipipiku lalu berjalan gontai menuju meja kecil disudut ruangan untuk mengambil sebotol Wine Putih dan Beberapa Camilan yang kubeli dihari sebelumnya dan kembali naik menerjang kasurk.
Memang rumahku tidak begitu besar bahkan terbilang sangat sederhana.
Tapi disinilah sekarang aku bernafas.
Aku merasa nyaman berada disini,setidaknya disini takkan ada yang mengusikku.
Kubuka Botol Wine yang tadi aku ambil. lalu kuteguk ¼ cairan bening itu langsung dari botolnya. Inilah aku, Hancur berkeping-keping ditemani dengan teman yang begitu menenangkan namun mematikan untukku. Hanya Sebotol Wine yang biaa membuatku merasa lebih baik. Bukan Cinta apalagi makhluk yang bernama Laki-Laki. Aku tidak butuh itu.
Kuminum Wine itu berkali-kali dan diselingi dengan cemilan keripik kentang yang kuambil bersamaan dengan Wine yang sudah kuminum terlebih dahulu.
Aku merasakan sesuatu yang hangat menjalar ditubuhku, Tanpa kurasa aku menyunggingkan senyum tulus dibibirku, Aku tak mengerti apa yang kurasa, Mungkin ini yang namanya Bahagia.
Entah ini kebiasaan baikku setelah selesai meneguk satu botol penuh Wine Putih itu sendirian. Aku langsung membereskan semuanya, Jujur saja dalam keadaanku yang kini mulai terasa mengambang (Efek Alkohol yang terdapat didalam Wine) aku tetap berusaha membersihkan semuanya lalu kembali kekasur lalu terlelap....

-Close FlashBack-

Ketika aku mengingat apa yang aku lakukan selama ini untuk menghilangkan stressku aku merasa begitu sedih. Aku ingin sekali terbebas dari Alkohol namun apa daya, hanya itu obat untuk mengusir rasa sedih dan gejolak penderitaan dalam hidupku.

Hufftt .... Aku sangat membenci ketika aku harus mengingat kembali akan hal itu didalam hari-hari sepiku.

Dan berharap jika dipagi hari ini aku akan mendapatkan 'Keajaiban' atas penderitaanku selama ini. Semoga saja....

Brukkkk
"Awwww" Desisku tertahan menahan sakit, apa-apaan orang ini berkendara tanpa mata. Baru saja dia hampir membunuhku dengan menabrakkan mobil BMW nya ketubuh ringkihku.
"Woyy kalo nyetir itu liat-liat. Jangan-jangan lo engga punya SIM?? Atau bahkan SIM yang lo punya hasil tembakkan?? (Kata lain menyogok untuk mendapat SIM secara mudah dan pastinya dengan cara curang)" Kataku penuh amarah sambil memukul kap mobil itu.

Terlihat sesosok laki-laki yang menghambur keluar melihat diriku. Entah untuk meminta maaf atas kecelakaan ini atau untuk memakiku karena telah memukul kap mobilnya.

"Ya Tuhan, Damma!!" Pekik laki-laki itu ketika melihatku. Dia mengenalku?? Ahh tentu saja.
"Apa kamu tidak apa-apa?? Ada yang terluka?? Kita kerumah sakit sekarang" Katanya panjang lebar menarik tanganku pada kalimat terakhirnya. Aku mendelik menatap laki-laki itu.

"Sudahlah. Aku baik-baik saja kak tidak perlu mengkhawatirkanku. Lagipula organ tubuhku masih utuh dan sekarang aku harus bergegas sebelum matahari semakin tinggi dan aku harus segera mencari pekerjaan" Jelasku pada Kak Rio. Yups betul!! Aku mengenalnya. Rio Dewantara P Mantan Seorang Psycho (Kata lain penyakit psikis). Dulu ka Rio adalah seorang laki-laki pengidap penyakit tempramental atau sering mengalami emosi mendadak yang tidak dapat untuk dia kontrol terutama pada kaum wanita....
Tapi syukurlah sekarang dia berangsur menjadi laki-laki normal setelah apa yang selama ini membuat emosinya tak terkendalikan telah kembali padanya.

Ibunya....

Kak Rio meneliti tubuhku dari ujung Kepala sampai ujung Kakiku.
Akupun mengikuti arah matanya yang terus menelitiku. Lalu aku memicingkan mataku menatapnya aneh.

"Apa ada yang salah??" Tanyaku karena aneh dengan sikap Ka Rio yang sedari tadi menatapku dengan tatapn anehnya itu.

"Tidak ada yang salah. Hanya saja apa kamu yakin jika kamu tidak apa-apa atau tidak ada yang terluka?? Kurasa kita harus memastikan kerumah sakit agar kita tahu tentang kondisi tubuhmu. Aku takut jika ada luka dalam akibat kecelkaan tadi" Jelas Kak Rio.

Haduhhhh laki-laki ini masih saja bersikeras mengantarku kerumah sakit. Tidakkah matanya melihat bahwa aku baik-baik saja. Dengusku dalam hati

Aku menggelengkan kepalaku pelan
"Tidak perlu kak terimakasih. Ohhiyah maaf ka aku harus buru-buru untuk melamar pekerjaan" Kataku sekaligus pamit pada kak rio.

"Baiklah aku mengalah. Tapi jika nanti kau merasakan sesuatu yang aneh segera hubungi aku. Karena itu tanggung jawabku" Perintahnya tegas

Aku mengangguk tanda menyetujui

"Memangnya kamu ingin melamar pekerjaan dimana??" Sambung Kak Rio
"Aku belum tahu kak. Aku masih mencari-cari barangkali saja disekitaran sini ada info lowongan pekerjaan" Jawabku lantas tersenyum.

"Ku pikir kamu sudah punya tujuan untuk melamar pekerjaan dimana. Yasudah bagaimana jika aku mengantarkanmu pada temanku. Aku rasa dia sedang membutuhkan karyawan" Tawar kak Rio

Aku menggangguk Antusias. Bahkan anggukkan kuhampir membuat kepalaku terlepas dari tempatnya karena terlalu Antusiasnya atas tawaran Kak Rio.

"Baiklah. Sekarang biar aku antar" Kak rio membukakan pintu mobil sebelah kiri tepat disamping pengemudi. Akupun masuk dan duduk dengan senyaman mungkin disusul dengan Kak Rio yang duduk dikursi pengemudi.

Ya Tuhan aku sangat bahagia. Akhirnya aku menemukan pekerjaan walaupun harus menderita dengan tertabrak mobil tadi.
Tapi aku tetap bahagia. Terimakasih Tuhan. Ucapku dalam hati

Bagaimana?? Suka gak readers?? 😊😊 Tinggalkan jejak Manis jari kalian dikomen yahh dan jangan lupa Bintangnya. Biar aku semangat lanjutnya hehe😊😊
Dammarmr

Bartender/BadAssTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang