Your love makes me crazy yet frustrated.

39 3 0
                                        



Faisal duduk di salah satu sudut ruangan coffee shop sambil mengaduk-ngaduk americano yang di pesannya. Menunggu esther dengan perasaan berdebar. Wanita cantik berumur 25 tahun yang telah dipacarinya setahun belakangan. Faisal selalu mendadak hilang logika dan akal sehat ketika bersama esther. Candu,itu yang mungkin dirasakannya dulu hingga saat ini. Betapa tidak dibuat gila dirinya jika sosok bidadari itu menjelma sebagai manusia,maka ia adalah esther. Cantik,putih,rambut hitam panjang sepinggang,mata bulat dan bentuk tubuh yang sempurna. Faisal merasa dirinya sungguh beruntung mendapatkan esther, ketika kuliah dulu faisal sudah tertarik dengan esther namun esther adalah gebetan sahabatnya saat itu tapi seiring berjalannya waktu esther pun tertarik kepada faisal dan memberanikan diri untuk mengambil langkah lebih dulu karena esther tau faisal tidak akan mendekatinya.

Bel pintu coffee shop berbunyi menandakan datangnya seseorang ke dalam coffee shop. Faisal menengok ke arah pintu masuk dan mendapatkan sosok bidadari itu masuk dan berjalan menghampirinya dengan senyum manis menggoda. 'sempurna' batin faisal. Matanya terus mengekori setiap gerak-gerik esther yang semakin mendekat padanya.

"fai..." esther menyapa dengan suara yang amat lembut di telinga faisal. Belum sempat faisal membalas, esther sudah menangkup kedua pipi faisal dan mencium bibirnya yang dibalas dengan sepenuh hati oleh faisal. Esther melepaskan ciuman itu lebih dulu "not here,baby" ucapnya sambil membelai dagu faisal.

"honey, kita ke hotel aja yah nanti. Aku lagi males pulang ke rumah" bujuk esther sambil bersandar di pundak faisal.

"nginep aja kan?"

Esther menatap faisal dengan bibir mengerucut dan tatapan puppy eyes.

"aku cape banget yang. Seharian ini nyetir nemenin papah" faisal membelai rambut dan mengusap-usap lengan bidadari kesayangannya yang sedang merajuk kini.

"quality time dong sayanggg...kenapa sih kamu tuh susah deh?" esther meneggakkan badannya dan melipat tangan di depan dada.

"percuma juga,esther kalo aku lagi cape begini" faisal mengucapkannya dengan nada lembut berharap esther mengerti.

"fine! Tapi kamu tetep ikut kan?" dengan nada manja esther bersandar kembali di bahu faisal.

"iya sayang"

Faisal menghembuskan nafas pelan karena kali ini ia beruntung esther mau di ajak kompromi. Terkadang faisal mengutuk dirinya sendiri yang selalu luluh terhadap segala permintaan esther. Entah kenapa faisal begitu mudah di kendalikan seperti itu namun ia pun mengakui bahwa dirinya sungguh mencintai esther dan merasa tidak bisa jauh dari esther.

=============

Esther menggandeng tangan faisal ke depan lobby hotel. Selesai reservasi dan segala macamnya,mereka menuju kamar di lantai 6. Sesampainya didalam kamar, esther langsung menjatuh kan diri ke atas kasur. Esther memperhatikan faisal yang langsung menuju ke kamar mandi lalu ia mendengar suara shower dinyalakan. Esther berlari kecil menuju kamar mandi dan langsung membuka pintunya. Faisal menatap kaget ketika esther tiba-tiba muncul dan langsung memeluk dirinya dibawah guyuran shower. 'emang ternyata kamu ga akan pernah dan ga akan mau ngerti aku' faisal berkata dalam hati dan tersenyum miring karena esther selalu bisa mengambil alih dirinya. Sepenuhnya. Dan untuk pertama kalinya faisal hanya mengikuti permainan esther tanpa ada perasaan apapun.

Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB dini hari. Sudah tiga jam faisal duduk di area balkon sambil menghisap rokoknya yang entah sudah batang ke berapa. Ia merasa sungguh lelah dan tulangnya seperti mau patah karena kegiatannya dengan esther tadi, namun ia benar-benar tidak merasa mengantuk. Gelisah, itulah yang dirasakan faisal. Bukan karena menyesal telah melakukan itu dengan esther mengingat ini bukan yang pertama bagi mereka melakukannya. Faisal mengacak-ngacak rambutnya sendiri dan menghembuskan kasar asap rokoknya. Dilihatnya esther yang berada di dalam dan masih tertidur pulas. Faisal melirik ponselnya dan memutuskan untuk menelpon ibeng sahabatnya. Terdengar nada sambung yang begitu lama hingga akhirnya terputus tergantikan oleh suara laki-laki.

"halo sal! Ada apaan?" tanya suara di sebrang sana sedikit kesal. Faisal tersenyum sendiri membayangkan sekesal apa wajah ibeng saat ini.

"beng lu ada dirumah?"

"ada! Kenapa? Ngapain sih lu mau kerumah gw doang aja pake nelpon?! Lu ga liat jam berapa sekarang,sat?!"

"sabar beng sabar..iya ntar siangan gw kerumah. Gw lagi butek banget soalnya" kekeh faisal mendengar omelan ibeng.

"ah tai lo! Udeh kerumah gw aja! Ngantuk gw ,bego!" ibeng menutup telpon lebih dahulu dengan makian yang membuat faisal geli sendiri.

Kemudian faisal beranjak dari balkon untuk mandi dan menyegarkan pikirannya. Setelah jam menunjukkan pukul tujuh pagi,ia membangunkan esther untuk mengantarkannya pulang. Esther sempat merajuk dan menyuruh faisal untuk tetap tinggal hingga besok namun faisal beralasan ia di telpon ibunya yang langsung membuat esther melepaskan faisal kali ini dengan hati dongkol karena ia pun tidak mau berurusan dengan tante astari-ibu faisal-yang juteknya melebihi faisal.

"mamah kamu tuh ganggu aja deh!" esther berkata sambil memalingkan wajah kesalnya keluar jendela mobil.

"yaudah kamu ikut aja" jawab faisal santai sambil tetap fokus menyetir.

"mamah kamu tuh juteknya kakunya lebih lebih dari kamu! Ngeliat aku tuh kaya ngeliat apa yah?? Kaya jijik banget sama aku! Kamu bilangin deh sama mamah kamu jangan begitu kalo sama orang! Mamah kamu kan katanya keturunan keraton teruss apa tuh raden ajeng..ko sama calon menantu begitu amat?! Ga suka aku tuh"

"iya nanti aku bilangin"

"udah gitu doang fai?! Udah gitu aja?!! Aku udah kesel begini kamu Cuma jawab gitu doang?! Emang kayanya kamu tuh ga pernah belain aku yah di depan mamah kamu! Cape aku lama-lama kalo begini terus!"

Faisal menghembuskan nafas frustasi mendengar omelan esther. Kemudian ia menggenggam tangan esther dan menciumnya sambil sesekali melirik esther.

"udah dong sayang,masih pagi ko ngomel begitu" faisal mengusap-usap jemari esther.

"aku sayang kamu fai..kenapa mamah kamu begitu sama aku? Apa karna aku ga sederajat sama kalian? Apa karna aku bukan darah biru juga? Iya gitu fai?" esther mengucapkannya sambil menatap faisal dengan mata berkaca-kaca.

"mungkin mamah belum kenal kamu, kamu juga harus deketin mamah terus biar mamah bisa luluh." Faisal menjawab diplomatis agar esther tidak tersinggung. Sebenarnya ia tau alasan mengapa ibunya bersikap seperti itu kepada esther.

"kamu tau kenapa saya bersikap seperti itu sama pacar kamu?" tanya astari kepada anaknya yang baru saja memperkenalkan pacarnya dan membawanya ke rumah.

"fai ga tau mah"

"saya ga suka sama orang-orang yang palsu. Saya sudah banyak bertemu orang-orang seperti pacar kamu itu."

"mamah mungkin belum kenal esther. Bukannya ga baik kalau langsung nge-judge seperti itu? Maaf kalo fai lancang bilang begini."

"fai,kamu itu baik..harusnya kamu bisa lihat dia sperti apa. Jangan buta terus begini fai,nanti kamu rugi sendiri" astari mengusap puncak kepala anak sulungnya itu.

Faisal masih mengingat betul setiap kata-kata ibunya itu. Terdengar tegas namun dikatakan dengan lembut. Awalnya memang faisal tidak percaya dengan perkataan ibunya namun semakin lama semakin terlihat bahwa ucapan ibunya tentang esther memang benar. Ia merasa bodoh karena ia tidak bisa melepaskan jeratan esther terhadap dirinya. Kadangia merasa menikmati itu semua tapi tak jarang juga ia merasa lelah.    

Hanging WallWhere stories live. Discover now