.......the devil was once an angel.
***
Aku terjaga di dalam sangkar besar bercahaya, berbentuk bulat ke atas seperti sangkar burung. Silau. Tubuhku juga lemas, tak mampu bangun dari posisi terbaring. Beberapa suara menghampiri pendengaranku, lalu dengan memiringkan tubuhku, aku melihat di kejauhan sana empat makhluk abadi rupawan, tiga laki-laki - satu perempuan, mereka semua malaikat— salah satunya adalah Kai, sedang duduk membicarakan sesuatu menggunakan bahasa yang tidak dapat kupahami. Keseriusan tampak dalam ekspresi mereka, sementara Kai memijat pelipisnya frustrasi. Lalu telingaku berdenyut saat di antara kalimat-kalimat mereka yang tidak kumengerti, terselip nama Baekhyun diucapkan. Apa mereka sedang membahas si incubus tertua? Apa mereka merencanakan sesuatu? Tidak, malaikat bukan tipe makhluk yang akan memulai perang.
Aku memposisikan tubuhku kembali terlentang, menatap langit-langit. Tempat ini seperti sebuah rumah, ah mungkin memang rumah, ada jendela-jendela besar tertutup tirai merah tua, ada sebuah dapur, ada sebuah televisi tua, ada barang-barang rumah. Aku memejamkan mata, pikiranku terasa kacau, tetapi anehnya aku bisa diam dengan tenang, pasti karena sangkar ini, sangkar ini tidak membakar tetapi sepertinya bisa meredam sifat tempramental iblis tingkat tinggi. Tiba-tiba salah satu dari empat malaikat itu berteriak, mengundangku untuk kembali menoleh pada mereka, dan salah satu malaikat itu ternyata sedang berteriak-teriak sembari menunjuk-nunjukkan jarinya ke arahku.
Aku tersenyum sinis. Bagi mereka, malaikat yang jatuh itu lebih tercela dari para iblis yang memang sudah tercipta sebagai iblis sejak awal. Jadi tidak heran, mereka pasti tidak tahan ingin memusnahkanku sekarang. Ironisnya, malaikat dengan segala kebaikannya, menjadi penyayang pada para anak manusia. Tetapi akan menjadi pembenci pada para makhluk neraka.
Aku kembali mengabaikan mereka. Menyentuh punggungku, aku lega masih merasakan keberadaan sayapku meskipun sayapku sudah kembali ke dalam tubuh iblisku. Kemudian aku mulai berpikir.... Mengapa aku di sini?
Langkah sepatu mendekat—lagi-lagi sesuatu menginterupsi saat aku mulai berpikir —menarikku untuk menoleh ke arah suara. Kai, berjalan mendekat padaku, dan ke tiga malaikat yang bersamanya tadi telah tidak terlihat di dalam ruangan.
"Percakapan yang menarik." Sindirku. Tak merubah posisiku yang masih terlentang. "Pasti mereka mengecammu." Meskipun aku tidak mengerti yang mereka bicarakan, tetapi aku masih bisa menyimpulkan dari ekspresi mereka masing-masing.
Dia terkekeh. Kekehan yang lembut. "Kau benar." Singkatnya. Lalu duduk di kursi kayu dekat sangkar yang mengurungku.
"Mereka akan mengkhianatimu." Seperti—mantan—sahabat malaikatku.
"Tidak akan. Tunggu, ingatanmu kembali?"
"Baru saja, tepat saat kubilang mereka akan mengkhianatimu."
Kini Kai tertawa renyah. Tatapan takjub yang memuja, memandangku. Aku tahu makna tatapan seperti itu.
"Kau akan jatuh." Ujarku sengit.
Kai terdiam. Memandang bingung. Seperti saat manusia tertangkap basah telah mencuri sesuatu.
"Kau....tahu?"
Yang dimaksud olehnya bukanlah apakah aku tahu dia akan jatuh, namun apakah aku tahu apa yang sedang disembunyikannya.
"Kau pikir aku bodoh?" Jawabku kecut. Memalingkan wajah darinya.
"Sejak kapan?"
"Sejak baru saja ingatanku kembali. Yang diperjelas oleh tatapan menjijikkanmu itu." Aku mendengus. Yang benar saja. "Alasan mengapa dua abad lalu kau melepaskanku, dan alasan mengapa aku berada di sini sekarang, tidak lain karena perasaan menjijikkan itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Fallen Angels [ Kaisoo ]
Romance[ Kaisoo] Cinta sang malaikat, mengacaukan sekaligus menyelamatkan kehidupan abadi sang iblis. Merenggut, tetapi juga memberi. Pada akhirnya menempatkan sang iblis sebagai makhluk abadi yang diburu neraka dan surga. Kisah iblis Dyo dan malaikat Kai...
![The Fallen Angels [ Kaisoo ]](https://img.wattpad.com/cover/157509816-64-k332098.jpg)