Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

[What If] They Are Teacher

2.5K 251 208
                                        

Eren Jaeger

Seorang lelaki berambut cokelat dengan balutan seragam cokelat khas PNS melangkah dengan penuh percaya diri. Netra hijau mata duitannya menatap tajam ke depan.

Eren Jaeger namanya. Tapi, para staf dan guru sering memanggilnya Eren Dower karena kebiasaannya yang banyak omong, alias ceriwis sampai bibirnya jadi dower.

Brak!

Tangan kanannya mendorong pintu sebuah kelas dengan kuat, menimbulkan suara benturan yang saking kuatnya sampai menggetarkan lingkungan sekitar.

Orang lain pun sempat berlarian keluar kelas karena dikira ada gempa. Eh, taunya cuma guru rese.

Biadab emang.

"Ya, selamat pagi!" Eren menyapa seluruh muridnya dengan senyum merekah.

"Pa----"

"Eits, ngga usah dijawab. Udah bosen gue dengernya," sanggah Eren.

Beberapa siswa merutuk dalam hati. Ya kalau bosen, jangan nyapa duluan lah, guru goblok!

Eren berjalan mendekati papan tulis. Meraih spidol, ia mulai menulis sesuatu di benda persegi panjang berwarna putih itu.

Kerjakan buku paket karya gue sendiri hal. 20-50.

Istirahat pertama kumpulin di meja gue.

Seluruh murid mendengus gusar. Belum juga diajari materinya, sudah disuruh mengerjakan. Mana bukunya buku karya Eren lagi.

Bukannya ngga suka atau apa, tapi mereka enggan berurusan dengan buku keramat karya guru sendiri. Bagaimana tidak? Rangkuman materinya hanya sebanyak satu sampai tiga lembar per bab. Sedangkan soal? Tiap bab, soalnya bisa mencapai tiga puluh halaman.

100 soal pilihan ganda yang pilihan abjadnya terdiri sampai dengan huruf Z. 200 soal uraian yang jawabannya sama sekali ngga ada di buku. Ditambah dengan 100 soal remedial.

"Pak, Pak ... tapi, kan kami belum diajarin materinya," ucap seorang siswa dengan berani.

"APA?!" Eren berteriak histeris. "NGERJAIN GITU AJA HARUS DIAJARI SEGALA? KALIAN ITU HARUS BERJUANG SENDIRI, BIAR BISA MEMBANTAI MUSUH KEBODOHAN YANG MENGURUNG OTAK KALIAN!"

"YA BAPAK AJA GOBLOK, MURIDNYA JUGA JELAS TAMBAH GOBLOK LAH ANJIIIRRR!"

Eren menatap nyalang siswa itu. "MULAI SEKARANG, LO KELUAR DARI SEKOLAH! ORANG-ORANG YANG NGGA GUNA MENDING JADI PENGANGGURAN DI KOLONG JEMBATAN!"

×××

Armin Arlert

Armin merapikan anak rambut yang menutupi jidat selebar dunia miliknya. Ia memeriksa seluruh buku dan alat tulis lainnya. Setelah dirasa lengkap, Armin berpamitan dari ruang guru, mulai melangkahkan kakinya menuju kelas.

Para guru perempuan yang tengah bersantai di ruang guru--meski bel masuk telah berbunyi--tersenyum melihat Armin yang begitu sopan dan manis.

Tapi sayang, doi rada-rada mirip perempuan.

Begitu tiba di depan kelas yang dituju, Armin mengetuk pintu terlebih dulu sebelum melangkah masuk.

"Selamat pagi." Armin melukis senyum tipis. Ia meletakkan buku dan alat tulis dan merapikannya.

"Pagi, Pak Armin." Seluruh siswa menjawab salam Armin dengan penuh semangat.

Attack on Line! - Book 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang