"Guanlin, kau tahu tidak?"
Sebuah suara akhirnya dikeluarkan dari bibir mungil semerah ceri milik lelaki manis itu, yang sedang menyusuri jalan setapak dengan pemuda tinggi di sampingnya.
"Aku senang, sangat senang, bisa berjalan denganmu seperti ini."
Kaki mungilnya terus melangkah cepat mengimbangi langkah lebar si pemuda tinggi yang terus mengabaikan ucapannya.
"Yah, meskipun aku seperti tidak ada, aku tetap senang."
Park Jihoon, namanya. Kini lelaki manis itu menolehkan kepalanya, menatap binar sisi kiri wajah tampan dengan rahang tegas milik sang pujaan hati, Lai Guanlin.
"Rasanya menyenangkan, mengetahui kau mau berjalan beriringan denganku."
Lanjutnya, dengan kekehan kecil di akhir kalimat. Meski hanya disambut sahutan angin, ia tetap tidak menyerah untuk mengisi kesempatan langka ini dengan obrolan ringan.
"Dan mungkin akan lebih menyenangkan lagi, jika kau mau menjadi kekasihku. Pasti kita akan berja—"
"Diamlah Park Jihoon! Kau hanya menggangguku!"
Tubuh mungil itu seketika membeku. Mata seindah galaksi miliknya menatap sendu wajah Guanlin dari samping.
"Tidak kah kau sadari? Semakin kau mengejarku semakin kau terlihat murahan!"
Tubuh Jihoon bergetar. Apa katanya tadi?
Murahan?
"Guanlin, aku—"
"Sudahlah, Park Jihoon. Aku membencimu."
Suara itu dingin, dan tajam. Rasanya menusuk tepat di dada Jihoon seperti ribuan belati. Hatinya sakit, menerima kenyataan bahwa sang kasih membencinya, dan bahkan enggan untuk meliriknya barang sedetikpun.
Hembusan angin meniup surai madu Jihoon, bersamaan dengan gugurnya dedaunan coklat yang jatuh ke tanah.
Matanya menatap kosong punggung lebar itu, yang perlahan semakin jauh menghilang dari pandangannya.
Ini musim gugur, di tengah jalan setapak diiringi rindangnya pepohonan untuk setiap langkahnya, dengan hembusan angin dan hangatnya sinar mentari. Benar-benar suasana romantis.
Tapi lagi dan lagi, Jihoon harus ditampar kenyataan pahit untuk yang kesekian kalinya.
Bahwa Lai Guanlin selalu menolak uluran kasih dan sayangnya.
***
"Guanlin!!"
Tak!
Nafas Jihoon memburu, kilatan amarah nampak tersirat di matanya. Ia menatap tajam wajah ketakutan perempuan cantik di hadapannya.
"Park Jihoon apa yang kau lakukan?!"
Tangan Jihoon yang semula terangkat hendak meraih rambut perempuan tersebut langsung ditepis kasar oleh Guanlin. Ia menolehkan kepalanya menatap tajam Guanlin, yang memang sedang berdiri berdampingan dengan perempuan cantik tersebut.
"Perempuan ini tadi nyaris menggenggam tanganmu!"
Jihoon berteriak keras tepat di depan wajah Guanlin, mengabaikan orang-orang yang mulai berkerumun mengelilingi mereka di tengah koridor. Jarinya menunjuk-nunjuk pangkal hidung perempuan yang bergetar ketakutan itu dengan amarahnya.
"Kau— astaga Park Jihoon apa kau sudah gila?!"
Guanlin menggeram dan mengacak rambutnya frustasi. Ia kesal, tak ada angin tak ada apa, Jihoon tiba-tiba menghadangnya di tengah koridor dengan kasar. Dan kini berteriak ke arahnya, hanya karena hal sepele.
KAMU SEDANG MEMBACA
DERN
Fanfiction[Prompt 6 for Petrichor on September] Dern mean secret, hidden, dark, gloom, sorrow. Kuanlin tahu kalau Jihoon menyukainya, namun ia tidak pernah menyangka kalau Jihoon akan menggunakan cara apapun untuk membuat Kuanlin menjadi miliknya, terutama me...
