Seminggu telah berlalu, dan sekarang Felycia sudah mulai beraktivitas kembali dan kembali pergi keKampus seperti biasa. Saat dikoridor Kampus, Felycia melihat Raka sedang bercengkrama dengan lelaki yang tidak ia kenal, Felycia pun
berpura-pura untuk tidak melihat dan mengabaikannya. Sampai akhirnya, Raka menggenggam tangan nya secara tiba-tiba."Pagi Felycia.... ?"sapa Raka sambil menggenggam tangan Felycia.
Felycia tidak menghiraukan nya dan langsung melepas genggaman Raka dari tangan nya, setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Raka begitu saja. Kalau menyerah? Bukan Raka namanya. Raka tetap terus mengikuti Felycia dan menatap Felycia sambil tersenyum tidak jelas yang membuat Felycia merasa risih dengan apa yang Raka lakukan.
"Aiss Felyciaa... Mau sampe kapan sih cuek gini sama babang Raka?"tanya Raka yang sekarang telah berhasil menghalangi jalan Felycia.
"Minggir Ka."balas Felycia ketus.
"Gak...gakk..gakk... Raka gak denger lagi pake kacamata."ucap Raka sambil menutup mata dengan kedua tangan nya.
Felycia hanya menatap malas Raka dan berusaha untuk melewati nya.
Tapi tidak bisa.
"Ikut gue."ajak Raka sambil menarik lengan Felycia paksa.
Felycia yang tidak terima pun langsung marah pada Raka yang telah lancang menariknya secara tiba-tiba.
"Raka!!! mau ngapain sih?"
"Kalo lu gak lepasin tangan gue sekarang, gue gak akan pernah mau bicara sama lu lagi."
"Raka!!!"
"LEPASIN TANGAN GUE!!"Tapi ocehan Felycia hanya dianggap angin lalu oleh Raka, Raka tidak menghiraukan itu dan terus menarik Felycia ketempat yang memang ingin ia tuju.
Dan. Sampailah mereka dikantin Kampus.
"Lu mau sarapan apa?"tanya Raka yang belum juga melepas genggaman nya pada Felycia.
"......"Felycia memilih diam dan tidak mau menjawab pertanyaan Raka pada nya, ia terlalu kesal dengan sikap Raka yang terlalu memaksa.
"Felycia...gue lagi bicara sama lu tau."
"Iya-iyaa, gue minta maaf udah maksa lu buat kesini, tapi gue gak mau lu telat makan lagi."ujar Raka pelan agar Felycia dapat mengerti maksud dan tujuan nya membawa Felycia kesini."Lepasin tangan gue Ka."pinta Felycia pelan.
"Gak akan, kalo lu gak mau nurut sama gue."bantah Raka.
Felycia hanya memalingkan wajahnya dari Raka.
"Jangan marah gitu ah, ya udah nih gue beliin roti aja ya biar bisa makan dikelas."ucap Raka sambil memberikan roti isi Blueberry kesukaan Felycia, Setelah itu Raka pun melepas genggaman nya pada Felycia.
Tapi sayangnya, Felycia justru membuang roti yang Raka berikan padanya. Hal itu jelas membuat Raka kaget dengan apa yang Felycia lakukan, selama ini Felycia tidak pernah tega membuang-buang makanan seperti ini, tapi apa yang sekarang Raka lihat? Justru pemandangan yang sangat langka dan mustahil seorang Felycia lakukan.
"Kenapa? Kaget gue buang roti ini?"
"Gue udah bilang kan sama lu? Gue gak suka lu gangguin hidup gue terus!"marah Felycia pada Raka.'Astaga Felycia, apasih yang udah lu lakuin? Inget.. makanan itu gak salah'batin Felycia sendiri.
Kejadian ini pun mengundang tatapan tidak mengenakkan dari seisi kantin, termasuk Pok Minah penjaga kantin.
"Aduh Neng jangan dibuang itu sayang-sayang makanan nya. Kasian juga si ganteng udah berbaik hati mau beliin."ucap Pok Minah pada Felycia.
"Felycia....ini makanan loohh, gak biasanya lu kaya gini? Mubazir tau kalo dibuang."ucap Raka sambil menatap heran Felycia.
"Kalo lu gak mau makanan terbuang sia-sia kaya gini, lu gak perlu
repot-repot ngasih makanan ke gue!"
Setelah itu Felycia langsung meninggalkan Raka yang masih syok dengan perlakuan Felycia padanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Believe It.
Teen Fiction. . CINTA. Apakah boleh aku mempercayai nya? Bahkan, untuk sekedar menyentuh nya saja aku tidak punya keberanian. Karena ku tau, betapa sakit nya ketika yang nama nya Cinta telah menghancurkan segala nya. . .