1st Star

2.2K 368 7
                                        

Iris [E/C] seorang gadis berambut [H/C] tersorot pada selembar kertas. Dilihatnya kertas itu lamat-lamat. Kertas perekrutan anggota baru Polisi Militer.

[Fullname]. Dengan ini, kami selaku petinggi Kepolisian Militer melaporkan bahwa Anda mendapat undangan untuk bergabung dengan pasukan kami. Kami tunggu kehadiran Anda pada malam pengumuman kelulusan di gedung Kepolisian Militer.

Di samping setitik rasa senang hinggap di hati mungil [Name], perasaan gelisah juga mengganjal hatinya.

Apakah ia harus bergabung dengan Kepolisian Militer? Ataukah ia harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk ....

"[Name]?"

... seseorang?

[Name] menoleh, lalu melukis senyum tipis. "Armin? Apa yang kaulakukan?"

Armin melangkah mendekati [Name], lantas duduk di sampingnya. "Harusnya aku yang bertanya begitu," jawabnya.

[Name] meremas kertas perekrutan anggota tersebut, membentuknya menjadi gumpalan bola kusut. [Name] menatap Armin dari ekor matanya. "Armin ...."

"Hm?"

[Name] menggeleng. Awalnya ia berniat menanyakan keputusan Armin untuk melanjutkan ke mana, namun ia urungkan.

"Ah, saat aku menuju ke sini, aku berpapasan dengan para petinggi Polisi Militer. Kira-kira apa yang mereka lakukan di sini?"

[Name] diam membisu. [Name] tak mungkin memberitahu Armin bahwa mereka mengirimkan lembar perekrutan anggota secara langsung padanya.

Armin menghela napas pelan. Tatapannya terus mengarah pada gadis di sampingnya. Usahanya memancing [Name] untuk jujur padanya gagal.

Armin diam-diam mengangguk pelan. Akan ia gunakan cara lain untuk memancing [Name].

"Kautahu kenapa harapan dan impian itu ada, [Name]?"

Kini [Name] mendongak, menatap Armin. "Impian ada agar manusia memiliki target untuk dicapai sebelum dimakan maut. Harapan ada agar manusia memiliki motivasi untuk meraih target itu," jawab [Name] seraya menengadah menatap birunya langit. "Kau selalu mengatakan itu, aku sudah bosan."

Armin terkekeh geli. Bukan tanpa alasan Armin mengatakan hal itu terus-menerus, tentu saja. "Lalu, kenapa kau tidak meraih targetmu, padahal targetmu sudah di depan mata?"

Kedua iris [Name] membola. "Kau sudah tahu?"

Armin mengangguk. Senyumnya tertoreh di wajahnya. "Kau tak mungkin melewatkan kesempatan emas itu, 'kan?"

[Name] kembali diam membisu. Ia biarkan angin lembut berhembus menyentuh tiap sudut wajahnya.

Tangan [Name] bergerak memeluk lututnya. Kepalanya ia tenggelamkan dalam lipatan lutut. "Aku hanya tidak mau kehilangan harapanku," gumam [Name] pelan.

•••

Part 1 pendek dulu X'D

Starry Night | Armin Arlert x ReaderTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang