"[Name]!"
Napas Hitch tersendat-sendat saat ia mengejar [Name] yang berlari menuju ruang rapat dengan cepat.
Hitch menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap jalanan lurus di depan di mana beberapa saat lalu [Name] lewati.
Ia tak habis pikir. Mengapa [Name] begitu panik dan langsung meninggalkan asrama tanpa pikir panjang?
Usai mengatur napas seperti sedia kala, Hitch kembali mengambil langkah seribu untuk menyusul [Name].
Namun, apa yang ia dapatkan setibanya di depan pintu ruang rapat tidak seperti dalam ekspetasinya.
"Kumohon, biarkan aku masuk!"
Di depan terlihat [Name] tengah berseru terus-menerus memohon kepada salah satu petinggi yang menjaga pintu.
"Maaf, Nona, tapi anggota baru dilarang masuk," ucap pria itu.
Hitch yang melihat itu menghela napas kasar. Ia berjalan mendekati pria itu, mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya kepada pria itu. "Dilarang masuk, hm? Komandan Neil sendiri yang memberi perintah ini, lho."
Hitch mengukir seulas seringai kecil saat pria itu membaca surat keterangan palsu yang ia buat. "Ah, tetap tidak diperbolehkan, ya?" Ia berbalik menghadap [Name]. "Baiklah, ayo kita tidur lagi, [Name]. Lalu saat Komandan kembali, kita laporkan tindakan ini."
"Tunggu!" Pria penjaga itu mencekal tangan Hitch, membuat gadis itu menyeringai lebih lebar. "Baiklah, kau boleh masuk."
Kebingungan segera sirna dari benak [Name]. Ia bergegas berlari dan mendobrak pintu, membuat seluruh pasang mata menyorot ke arahnya.
"Terima kasih." Hitch menyunggingkan senyum ke arah pria yang masih menjaga pintu.
★☆★
"Siapa kau?"
Kedua mata [Name] membola tatkala seorang pria berperawakan menyeramkan dengan janggut di sekeliling dagunya dan iris merah menyala mendekat.
Hitch merentangkan tangan kirinya, bermaksud melindungi [Name]. "Apa? Kau tidak tahu [Fullname]?" tanyanya seolah meremehkan.
"[Fullname]?"
Hitch menggeleng-gelengkan kepala. Senyumnya belum juga luntur dari wajahnya. "Dasar. Kau menjadi petinggi Polisi Militer, tapi kau tidak tahu mengenai seseorang yang kauputuskan untuk direkrut melalui jalur undangan?"
Pria berjanggut itu membelalakkan mata terkejut. "[Fullname] ... kau [Fullname]?" tanyanya kepada [Name] yang masih berdiri kaku di balik tubuh Hitch.
"Kembalilah, Damian. Dia memang [Fullname]," ucap seorang wanita berambut merah sebahu. "Saa, [Fullname], silakan duduk."
[Name] menatap Hitch yang tampak kesal. Sepertinya gadis itu kesal karena ia tidak dipersilakan duduk. "Perbolehkan teman saya untuk bergabung juga."
Wanita berambut merah tadi menoleh ke arah Hitch. "Baiklah."
[Name] dan Hitch beranjak mengambil tempat duduk bersebelahan dengan wanita berambut merah itu. [Name] balas melempar senyum saat wanita itu tersenyum padanya. Dari name tag yang terletak di hadapan wanita itu, [Name] bisa mengetahui namanya. Anna Clarietta.
"Baiklah, kembali pada topik utama kita." Anna kini membagikan beberapa lembar kertas ke seluruh peserta rapat, tak terkecuali [Name] dan Hitch. "Di kertas itu, ada rencana yang kususun bersama Komandan Niel untuk mengirimkan bala bantuan kepada Survey Corps di luar dinding."
[Name] menelan ludah. Bala bantuan, katanya? Itu berarti ... apa yang diucapkan Hitch bahwa Survey Corps tengah dihampiri oleh keputusasaan itu benar adanya?
Dan tentang Armin dan suratnya ... apakah inilah maksudnya? Mengirim bala bantuan?
"Menurut kabar burung, Survey Corps telah kehilangan hampir setengah dari anggotanya."
[Name] menengadahkan kepala, menatap Anna lurus. "Setengahnya?"
Dalam beberapa detik Anna hanya mengernyitkan dahi, heran. Namun, dengan jelas ia dapat menangkap raut kekhawatiran dalam paras ayu [Name]. "Tenang saja, [Name], setelah kita jalankan rencananya, jumlah mereka takkan berkurang lebih banyak lagi," ucapnya seraya mengulas senyum tipis, berusaha menenangkan gadis muda itu.
"Lalu, apa rencanamu, Wanita Penenang?" tanya Damian yang sedaritadi diam menyimak.
"Bisa dilihat di lembar kedua. Belajarlah mandiri terlebih dulu, Damian."
Hitch tertawa pelan melihat wajah masam Damian setelah disembur oleh ucapan Anna.
[Name] dan anggota lainnya hanya diam, mengamati grafik rencana hasil pemikiran Anna dan komandan mereka, Neil.
"Izinkan aku bergabung dalam skuad ini!" [Name] mengangkat tangannya.
"[Name]?" Anna lagi-lagi berhasil dikejutkan oleh anggota baru ini. Baru kali ini ada seseorang yang dengan berani bunuh diri. Terlebih lagi ia adalah anggota elit baru.
"Kumohon!" [Name] menundukkan kepalanya. Kedua tangannya terkepal erat di atas meja. "Aku harus menemui seseorang di Survey Corps."
"Kau bercanda?" Anna mengusap helaian rambut [Name] dengan lembut. "Aku takkan membuang anak baru dengan mudahnya, [Name], apalagi kau termasuk jajaran anggota elit tahun ini."
"Jika bukan anggota elit yang menyelamatkan mereka, lalu siapa?"
"Aku akan mengirimkan beberapa anggota yang tak berguna. Aku tak ingin kehilangan anggota elit yang berharga," jawab Anna.
Batin Hitch tersenyum. Akhirnya sifat asli Anna yang tertutupi bangkit juga.
"Tapi ...." [Name] kembali menatap Anna dalam harap. "Jika aku tidak bergabung dalam misi ini, aku ... aku tak tahu apa yang akan kulakukan jika saja hal buruk menimpa seseorang."
Anna menggeleng. Ia tetap kukuh pada keputusannya. Kehilangan aset berharga merupakan bencana baginya.
"Izinkan saja, Ann," ujar Damian tiba-tiba, "aku tidak suka ada drama di sini."
Anna menghela napas. Netranya tertuju pada anggota lain, meminta pendapat.
Sebagian menganggukkan kepala, setuju dengan usul Damian. Beberapa ada yang menggeleng dan ada yang mengangkat bahu, tak peduli.
"Baiklah, kau boleh bergabung, [Name]," ucap Anna pada akhirnya. Iris merah yang senada dengan warna rambutnya menyorot wajah [Name].
"Tapi, jika kau kembali dengan keadaan penuh luka, jangan harap kau bisa merangkak untuk bisa bergabung dengan Polisi Militer lagi."
•••
Hai, hai. Seia kembali, ada yang kangen? /ga.
Maapkeun yak kalau selow apdet :" lagi banyak tugas sama laporan jadinya ga bisa bebas buka HP hikd :( //yeu curcol lu.
Maapkeun kalau ceritanya kurang GG :'u
Hope you enjoy your days,
Seia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Starry Night | Armin Arlert x Reader
Fanfiction[Fullname], seorang gadis yang secara ajaib mendapat undangan untuk bergabung dengan Polisi Militer setelah lulus dari pelatihan keprajuritan. Meninggalkan rekannya yang berbeda haluan, sebersit penyesalan hinggap di dadanya begitu mendapat kabar bu...
