6

19 1 0
                                    


Setelah upacara selesai, Shalsa berjalan malas menuju kelasnya. Kenapa dia harus satu kelas sama si Reyhan coba. Kalo bukan karena papa mamanya, boro- boro Shalsa mau di sini.

"Shal lu kenapa, kayak ga ada semangat hidup aja lu," Sifa yang melihat Shalsa yang baru masuk lansung merebahkan kepalanya di atas meja. Shalsa sedikit mendongak mendengar pertanyaan Sifa, "Gapapa sih, gua lagi males aja." Melihat Shalsa yang kembali menelungkupkan wajahnya, Sifa tidak lagi melanjutkan pertanyaannya dan memilih untuk membaca novel.

"Selamat pagi anak-anak," Pak Lukman masuk dengan sebuah gitar di tangannya. Pagi ini kelas Shalsa belajar kesenian, mungkin seni musik soalnya pak Lukman kan bawa gitar. Masak iya mau ngamen.

"Selamat pagi pak." Jawab seluruh isi kelas, kecuali Shalsa yang masih sama seperti tadi.

Pak Lukman memulai pelajaran dengan mengambil absen terlebih dahulu. Ketika sampai di nama Reyhan, tidak ada jawaban.

"Reyhan Aditya?" Mata Pak Lukman menyapu seisi kelas mencari keberadaan Reyhan.

"Belum datang pak," Jawab Arya dari bangku nya.

"Tumben dia telat sama saya?" Tanya Pak Lukman, karena tak biasanya Reyhan akan terlambat di jam pelajarannya.

"Mungkin macet pak," sambung Leo untuk membela temannya itu.

Pak Lukman kembali melanjutkan absennya, dan pada saat sampai di nama Shalsa juga tidak ada jawaban.

"Shalsabilla?"

"Shal, lu dipanggil Pak Lukman tu," Sifa menyikut Shalsa yang tertidur. "Ha, ha hadir pak," Shalsa ga sadar ternyata dia ketiduran.

"Kamu, maju kedepan," perintah Pak Lukman kepada Shalsa. Kemudian Shalsa berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja pak Lukman.

"Kamu anak baru ya?" Tanya Pak Lukman yang baru melihat Shalsa. "Iya pak," Shalsa menunduk. "Kenapa kamu tidur, kamu tidak sadar saya masuk?" Walaupun lagi marah gitu Pak Lukman tetap ganteng kok geng, kan dia masih single.

Dengan santainya Shalsa menjawab, "Saya ngantuk pak,"

Belum sampai Pak Lukman melanjutkan perkataannya, Reyhan berjalan masuk menuju kelas. "Pagi pak, maaf saya terlambat," Reyhan menunduk, dan sekilas melihat Shalsa yang ada di samping Pak Lukman.

"Kenapa kamu terlambat, memangnya tadi kamu tidak ikut upacara?"

"Saya terlambat bangun pak."

"Ya sudah, kalian berdua akan saya beri hukuman. Bersihkan gudang." Shalsa dan Reyhan kaget mendengar kata kalian dari Pak Lukman.

"Sama dia pak?" Shalsa dan Reyhan saling menunjuk satu sama lain. "Iya, memangnya kenapa? Kalo kalian tidak mau, saya akan tambah hukumannya!" Pak Lukmak berjalan keluar kelas untuk membawa Shalsa dan Reyhan menuju gudang. Shalsa hanya mendengus kasar, dan Reyhan hanya diam lalu berjalan keluar kelas mengikuti pak Lukman. Walau pun dia bandel, tapi Reyhan tidak akan melawan gurunya. Selagi yang diperbuat gurunya itu benar.

Shalsa berjalan di belakang Pak Lukman dan Reyhan. Sambil mengutuk dalam hatinya, kenapa dia harus diberi hukuman bersama si sialan ini. Lebih baik dia diberi hukuman sendiri daripada sama Reyhan.

Baru saja Pak Lukman membuka pintu gudang, kabut sudah keluar menari nari melewati pintu. Membuat mereka bertiga batuk-batuk. "Kalian harus kerjakan sampai bersih, kalau tidak kalian belum boleh berhenti." Pak Lukman memberikan dua buah masker kepada mereka, lalu berjalan pergi meninggalkan Shalsa dan Reyhan di sana.

Suasana hening, Shalsa hanya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Sedangkan Reyhan mulai mengangkat barang-barang yang berantakan dan menyusunnya.

My Beautiful ClassmateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang