4

28 3 0
                                    

Arya, Reza, dan Leo sedang berada di kamar Reyhan. Mereka bertiga lagi sibuk mabar ML. Sedangkan Reyhan asik sendiri dengan gitarnya.

"Double kill!"

"Tripel kill!"

"Awas awas!"

"Nah rasain lu!"

"Yeah menang!"

"Savage!"

Mereka bertiga begitu antusias memainkan game yang sedang tren itu. Sampe-sampe mereka lupa sama pacar masing-masing. Bagi mereka  nge-push rank itu lebih susah daripada nakhlukin hati cewek. Katanya sih!

"Rey lu ga ikut main?"

"Ayok gabung! Asik ni!"

Reyhan tidak mengindahkan ajakan  ketiga temannya itu dan lebih memilih untuk mencari tempat yang lebih tenang. Dia duduk di taman rumahnya sambil memetik gitar dan memandang langit yang ditaburi oleh bintang-bintang yang begitu indah.

"Eh sih Reyhan mana?" Tanya Leo yang menyadari bahwa Reyhan tidak ada di sana karena mereka sudah selesai main.

"Eh iya ya! Tuh anak ilang kemana?" Timpal Arya.

"Ah tuh anak kenapa sih? Ayo cari!" Ucap Reza kemudian berjalan keluar kamar  dan diikuti oleh Arya dan Leo.

Mereka bertiga mendengar suara petikan gitar Reyhan dari arah taman dan berjalan mengikuti suara tersebut.

"Woi!" Teriak Reza ingin mengagetkan Reyhan. Namun sia-sia karena Reyhan sudah menyadari kedatangan mereka.

"Lu main pergi-pergi aja Rey!" Ucap Arya kemudian duduk di samping kanan Reyhan. Leo yang duduk di samping kiri Reyhan dan Arya duduk di samping Leo.

"Kalian berisik!" Jawab Reyhan dan lanjut memainkan gitarnya.

"Yeeee lu sih! Di ajak main ga mau! Emang lu kenapa sih?" Ucap Leo karena tidak biasanya Reyhan menolak kalau diajak mabar.

"Gua lagi males!" Jawab Reyhan singkat padat dan jelas.

Leo hanya mengedikkan bahunya mendengar jawaban temannya itu.

Sebenarnya ada sesuatu yang membuat mood Reyhan kurang bagus malam ini. Yang ia inginkan saat itu hanyalah menatap bintang-bintang yang sedang menghiasi langit malam. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Itu semua mengingatkannya kepada seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya, dan kemudian pergi meninggalkan tanpa kata-kata sedikit pun.

Ketiga teman Reyhan menyadari sifat Reyhan saat itu. Mereka tau sebenarnya Reyhan sedang memikirkan seseorang yang  telah meninggalkan Reyhan dan membuatnya menjadi sosok yang dingin dan begitu pendiam. Ketiga sahabatnya itu merasakan perubahan yang sangat besar terhadap Reyhan. Mereka menginginkan Reyhan yang dulu. Reyhan yang ceria, humoris, dan sangat menyenangkan. Bukan Reyhan yang sekarang.

"Rey!" Ucap Arya perlahan.

"Lu ke ingat sama Tiara ya?"

Reyhan hanya menatap datar temannya itu. Tapi terlihat sangat jelas dari matanya bahwa dia sedang menyimpan kesedihan.

"Lu ga usah bohong sama kita! Kita tau lu Rey! Kita udah temenan semenjak SMP! Kita bisa lihat semua dari mata lu!" Timpal Leo.

"Lu harus move on Rey! Mau sampai kapan lu kayak gini? Terpuruk dalam rasa sakit yang semakin hari semakin menyiksa! Apa di sana dia mikirin lu?! Ga Rey! Lu harus berusaha ngelupain dia! Banyak cewek di luar sana yang mau sama lu Rey. Buat apa lu masih mikirin orang yang ninggalin lu tanpa penjelasan sedikit pun? Buat apa? Yang ada lu nyakitin diri sendiri Rey!!" Ucap Arya yang sedikit kesal karena sahabatnya yang terus-terusan nyakitin diri sendiri.

My Beautiful ClassmateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang