oleh: arczre
Cerita Erotica atau lebih dikenal dengan adegan dewasa, biasanya adalah cerita dimana karakter yang ada di dalam cerita tersebut melakukan suatu hubungan seksual. Ya, kali ini bahasan kita adalah bahasan dewasa. Anak kecil yang belum cukup umur tidak boleh membaca bahasan ini.
Sebelum membahas ini lebih jauh, maka perlu diketahui bahwa cerita erotica ini tidak lepas dari pro dan kontra. Sebagian orang berpendapat kalau novel itu akan lebih laku apabila ada adegan erotisnya, sebagian lain berkata itu tidak perlu yang penting ceritanya bagus maka itu sudah menjual. Tetapi yang menjadi pertanyaan mendasar sebenarnya adalah "perlukah scene atau adegan erotis itu diceritakan?"
A. Pahami Audiens
Memahami Audiens ini penting, sebab Anda akan berhadapan dengan banyak orang dengan berbagai karakter yang berbeda dan juga selera berbeda. Demikian pula cerita Anda, karena cerita yang akan kita tulis ada bagian erotisnya, maka sudah pasti anak di bawah umur dan belum baligh tidak boleh membaca cerita kita. Hilang satu masalah, tetapi masalah yang lain itu timbul.
Tidak setiap adegan seks itu disetujui oleh semua orang. Ini akan kita bahas lagi di bab selanjutnya permasalahan ini, tetapi secara garis besar kita harus setuju jika ada fantasi seks atau perilaku seks yang tidak disetujui oleh beberapa orang, kelompok dan juga agama tertentu. Sebab kalau bicara perilaku seks maka akan sangat banyak sekali. Dari perilaku normal sampai yang menyimpang. Maka dari itu pahami audiens sebelum menulisnya.
B. Pahami Karakter yang Akan Bermain
Ini penting sekali untuk membangun cerita. Sebab apabila sebuah cerita tidak dipahami karakternya akan terasa hambar. Yang penting sebagai penulis harus paham apa kesukaan karakter, apa kepribadiannya, dan yang penting apa yang membuat mereka saling tertarik satu sama lain.
Saya tak membahas hubungan pemerkosaan atau beastiality yah, tetapi ini adalah sebuah cerita yang mana kedua karakternya saling membutuhkan, suka sama suka. Sebab begini, kalau pemerkosaan artinya satu tidak suka sedangkan yang lainnya memaksa. Kita tak perlu menulis kelanjutan kisah dari hubungan ini. Yang pasti satu pihak akan tersakiti. Lalu beastiality, dude bagaimana kau bisa menggambarkan perasaan hewan?
Well, menulis cerita erotis itu tentang perasaan, tentang bagaimana dua karakter ini mendapatkan sesuatu dari usaha mereka untuk memproses pekerjaan membuat "dede-dede lucu".
C. JANGAN MENDESKRIPSIKAN KARAKTER TERLALU JELAS
Contoh:
Namaku Adi. Umurku 17 tahun. Aku merupakan anak tertua. Tubuhku boleh dibilang atletis dengan tinggi 170 cm. Ukuran mr-p milikku 20 cm, diameter 5 cm. Sekarang aku kuliah di universitas X.
Kalau Anda pernah membaca cerita stensilan, maka biasanya openingnya seperti itu. Dan setelah itu di paragraf-paragraf selanjutnya akan dijelaskan siapa targetnya. Kebanyakan cerita-cerita erotika seperti itu. Biasanya memang digunakan untuk bahan mastrubasi.
Sebagaimana tips-tips menulis lainnya, kita masih tetap menggunakan showing dan telling secara berimbang. Tidak bisa kita menulis dengan cara seperti di atas. Deskripsikan identitas karakter setahap demi setahap, paragraf demi paragraf, bab demi bab. Sisipkan saja pada tiap adegan, tak perlu dijelaskan di awal seperti di atas.
D. Perlukah Menyebut Bagian Alat Vital pada cerita Erotis?
Ini termasuk pro dan kontra. Sebab tidak setiap orang akan menerima tulisan tersebut. Bahkan terkadang mereka menyebut nama alat kelamin saja berbeda-beda. Saya yakin akan ada yang bisa menyebutkan nama-nama itu dari mulai yang ilmiah sampai ke yang aneh. Dokter Boyke misalnya, pernah menyebut kawah Bromo untuk mendeskripsikan alat kelamin perempuan, sedangkan alat kelamin laki-laki disebut pisang. Bolehkah? Ya boleh-boleh saja sih. Tak ada yang melarang sebutan tersebut. Hanya saja persoalannya adalah bagaimana jika disebut dengan sebutan seperti KNTL atau MMK??
KAMU SEDANG MEMBACA
Serba-serbi Kepenulisan
No FicciónMateri tentang kepenulisan yang disajikan oleh anggota grup AGCW1717. Di sini akan membahas tata bahasa, Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), bedah genre, tips dan trik menulis supaya menarik pembaca, hingga cara menerbitkan buku. Disusun dari berbagai sum...
