Chapter 2 - Pagar Pembatas

26 4 0
                                    

"Bagiku, pengakuan bukan . Sekedar pengucapan. Semuanya perlu persiapan akan segala kemungkinan" -Zuni Raivani

●●●

Setelah telepon itu, Zuni hendak kembali menonton drama. Tapi, Vatri mempause drama tersebut dan memberinya tatapan bertanya. Tidak bisa ditahan lagi, Vatri pasti akan memberondongi Zuni dengan segudang pertanyaan. Vatri memang mengenal Fakra. Dia adalah kakak kelasnya saat SMP dulu. Walaupun tak dekat, ia cukup sering bertemu Fakra karena Zuni. "Ceritakan !" Satu kata yang terlontar dari mulut Vatri yang terdengar membingungkan. "Apa ?" Tanya Zuni. "Apa lagi, tentu saja tentang percakapanmu dengan tuan Adhiyasa yang bahkan kau sebut lebih tampan dari Baekhyun oppa itu" Vatri memberikan tatapan tajam pada Zuni. "Aah, Fakra. Tak ada yang penting. Yang kami bicarakan hanya omong kosong tak berdasar, perdebatan tak penting, dan yaaa.. begitulah" jelas Zuni.

Vatri kembali menyipitkan matanya, curiga pada kakak perempuannya "Jujur saja, kau berpacaran dengannya kan ? Bahkan anak TK yang melihat kalian bersama pasti akan berpikir bahwa kalian berpacaran" Zuni membelalakkan mata, mulutnya sedikit menganga, terkejut mendengar pemikiran adiknya. Sedetik kemudian, dia menghela napas. "Vatri, aku paham. Mungkin kau mengagumi Fakra. Tapi bisakah kau mengendalikan imajinasimu itu. Kami berteman. Sekali lagi, kami hanya berteman. Mengenai sikapnya padaku, mungkin dia hanya kasihan. Aku tak mau berharap sesuatu yang tak pasti"

Zuni memplay drama Korea itu, kembali menontonnya. Tapi Vatri masih belum menyerah. Dia melanjutkan sesi wawancaranya. "Tapi kau suka padanya kan ? Ayolah, mengaku saja. Aku ini adikmu. Kau tidak bisa berbohong padaku. Jika kalian tidak saling suka, tidak mungkin dia akan meneleponmu malam-malam begini hanya untuk membicarakan sesuatu yang tak penting" Zuni kesal dengan pertayaan adiknya yang panjangnya menyaingi kereta. Rasanya ingin menyumpal mulut adiknya dengan apapun yang ada di dekatnya. "Yaaa!!!!! Bisakah kau diam. Aku jadi tidak fokus menonton karena suara cempreng mu itu. Aish, telingaku sakit dan kepalaku pusing karenamu !!!" Vatri hanya terkekeh tanpa rasa bersalah. Baginya, sudah biasa disiram dengan hujatan pedas dari mulut saudaranya yang super galak itu.

Dan pada akhirnya, mereka melanjutkan menonton drama dengan tenang hingga cukup larut.

●●●

Keesokan harinya, Zuni berangkat sekolah seperti biasanya. Jam 6:20 am dia sudah siap dengan ransel hitamnya. Lagi, dia menyumpal telinganya dengan earphone. Tak ada yang lebih menenangkan dari alunan lagu kesayangan di pagi hari. Dia melangkahkan kakinya dengan ringan, memasuki gerbang sekolahnya yang cukup besar.

Baru ada beberapa siswa yang datang. Tak ada sapaan selamat pagi, tak ada senyum tulus dari temannya yang sekedar lewat. Karena semua orang tahu, bahwa Zuni hanya akan mengabaikannya. Ia masuk ke kelas dan belum ada siapapun di sana. Ia duduk di bangkunya, pojok belakang sebelah kiri, sendirian. Ia sekelas dengan Fakra, namun mereka tidak duduk sebangku. Zuni hanya sendiri di bangkunya.

Jum'at ini, langit agak mendung. "Sepertinya akan turun hujan lagi" gumam Zuni dalam hati. Karena tak ada yang diajak bicara, dia sering bergumam, berbicara dengan dirinya sendiri untuk membangkitkan semangat hidupnya. Aah, kadang hidup seaneh itu.

Karena bosan, Zuni mengeluarkan novelnya, dengan earphone yang masih berada di telinganya. Beberapa anak mulai berdatangan, dan Zuni tetap tak peduli. Ia larut dalam bacaannya, hingga sebuah tangan menarik novelnya. Jika anak lain akan kesal atau marah, tidak halnya dengan Zuni. Ia hanya sedikit tersentak kaget kemudian menormalkan kembali ekspresinya.

Ia menatap tajam pada anak yang menjahilinya. Bisa kalian tebak ? Yap, dia Fakra. Tak ada yang berani menjahili Zuni selain dirinya. "Yang benar saja, melihat tatapan tajam dari matanya saja, rasanya sudah seram" kata kebanyakan siswa. Mereka akan sebisa mungkin menghindari interaksi dengan Zuni. "Kurasa, seperti ada aura kelam mengintimidasi menyeruak dari dirinya" ucap siswa yang lain. Ayolah, kadang remaja SMA suka berlebihan. Padahal mereka sudah kelas 12, dan sebentar lagi akan ada Ulangan Semester I. Tapi mereka malah sibuk dengan hal-hal yang tak jelas, terkadang.

Kembali pada Zuni dan Fakra. Zuni menatap tajam pada Fakra yang hanya cengengesan. Merasa sia-sia, dia lebih memilih membenamkan kepalanya diatas lipatan tangannya. "Hei, apakah kau menangis ?" Goda Fakra. Zuni masih tak menanggapinya, membuat Fakra semakin gemas. "Apa aku sedang kau abaikan ? Lagi ? Zuni....." Fakra menggoyangkan tubuh Zuni hingga membuat sang empu merasa geram dan tak nyaman. Amarahnya sudah di ubun-ubun, namun dia mati-matian menahannya mengingat ia masih di sekolah. "Tunggu saja, aku akan membunuh dan mengirimmu ke neraka hari ini juga" Zuni mengumpat dalam hati. Ia tiba-tiba berdiri hingga membuat Fakra terlonjak dan sedikit melangkah mundur meningkatkan kewaspadaannya. Tak terjadi apapun, ia hanya melangkah melewati Fakra, mengabaikannya (lagi) dan berlalu menuju kamar mandi.
Tak lama, ia kembali dari kamar mandi dan bel masuk berbunyi. Kelas dimulai seperti biasanya. Namun Fakra yang duduk di depannya belum puas mengganggunya dengan berbagai pertanyaan. Hingga guru yang mengajar menegurnya. "Zuni, apa kamu masih mau berada di kelas saya ? Jika iya, tolong fokus pada materi yang disampaikan". Tegur guru perempuan itu agak ketus. Zuni merasa tak enak pada teman sekelasnya yang menjadi terganggu. "Maafkan saya Miss" Zuni sedikit membungkukkan kepala hormat.

Fakra malah merasa senang karena akhirnya Zuni membuka mulutnya. Ia kembali menggoda Zuni, dan berakhir dengan "Sudah cukup Zuni, saya rasa sebaiknya kamu keluar dari kelas saya !! Perbuatan kamu membuat temanmu yang lain terganggu". Zuni ingin memprotes jika bukan dia pelakunya. Tapi, dia tak mau berdebat dengan guru matematika yang dari kelas 10 memang tak terlalu suka padanya itu. Ia lebih memilih mengalah, berjalan ke depan kelas, "Maafkan saya Miss" sedikit membungkukkan badannta hormat, kemudian keluar kelas.

Fakra merasa bersalah pada Zuni. Dia haya diam karena berpikir bahwa Zuni akan memprotes Miss Vhanya. Tapi semua diluar dugaan, Zuni tetaplah gadis dengan segudang kejutan. Ia berniat meluruskan kejadian ini, tapi Zuni sudah menyelesaikannya dengan cara tersendiri.

Zuni berjalan ke perpustakaan, mendudukkan dirinya di bangku belakang yang paling jarang dikunjungi siswa. Mereka beranggapan tempat itu angker. Aah, tapi apa peduli Zuni. Selama ia nyaman di sana.

Ia duduk perlahan, memijat pelipisnya karena sakit kepala yang mulai menjalar dibagian depan kepalanya. "Aah, rasanya aku lelah dengan drama hidup ini. Kapan ini akan berakhr ?!" Zuni lelah dengan semuanya. Dia yang harus mempertahankan sikap dingginnya demi kebaikan hidupnya (menurutnya), jauh dari Ibunya, kehilangan Ayahnya saat kecil, dan banyak lagi. Tapi ia sadar, bahwa hidup ini harus dijalani dengan syukur, bukan keluh kesah. Karena semua itu hanya percuma.


-Tbc-

B(er)imbangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang