12. Heartbroken

7.4K 463 19
                                        

Tubuh ku serasa dingin, aku masih terpaku di tempatku berpijak melihat Anthonio yang saat ini pun memandangku dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

...

Netra sebiru laut itu menatapku, kedua kakiku terasa lemas tak mampu menopang diriku. Rasanya aku ingin menumpahkan seluruh bulir bening yang telah mengumpul di kedua mataku, mati-matian aku menahannya agar tidak terlihat bodoh oleh kedua orang itu.

Aku tak ingin menumpahkan air mataku di hadapan pria brengsek itu, duniaku rasanya ingin runtuh. Aku berharap semua ini hanya mimpi tapi wajah Daisy yang bergelayut manja dengan Anthonio itu benar-benar nyata. Dadaku terasa sesak, seakan sulit untukku bernafas dan rasa sakit ini sangat sulit untuk digambarkan.

Aku terlalu menyanjung pria itu..
Terlalu mengaguminya dan memuja semua kelebihannya...

Tapi ternyata seperti itulah dirinya, dan yang makin membuatku sakit adalah ia bercumbu dengan kakakku sendiri.

Apakah tidak ada lagi hal yang lebih gila dari pada berbagi pria dengan kakakmu sendiri?

Aku beringsut menjauh..

Aku berlari keluar melewati dia dan Daisy, membawa serta koper yang aku tenteng sejak tadi.

Sementara Anthonio hanya menyaksikan, aku pergi tanpa dapat ia cegah.

Seharusnya aku mengetahuinya dari dulu, gadis seperti diriku tidak akan mungkin dapat membuat pria dewasa sepertinya melirikku.

Mungkin ia hanya menggunakan tubuhku saja untuk bersenang-senang atau hanya sekedar alat agar dia dapat lebih dekat dengan Daisy.

"ada apa dengan Verone?" Aku sempat mendengar bisikan Daisy dari kejauhan ketika ingin meninggalkan rumah besar itu.

Aku menutup pintu dengan keras, pikiranku telah kalut. Melirik ke kanan dan kiri sampai akhirnya aku menemukan mobil audi hitam yang biasa Gerald pakai untuk mengantarku kemana pun.

Aku menuju parkiran, menemui Gerald dengan kedua mata memerah dan sepertinya pria itu mulai khawatir padaku.

"Miss... apa kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan penuh perhatian yang tak kuhiraukan.

"Berikan kuncimu, Gerald!" Pintaku meminta kunci mobil kepada supir itu.

"Untuk apa?" Tanyanya lagi, sungguh aku tidak memiliki waktu untuk berdebat seperti ini.

Aku melirik ke saku celananya, lalu aku merampas kunci dari sana meski ia sempat protes dan tak mengijinkanku menyetir seorang diri. Dengan cepat aku berlari masuk ke dalam mobil dan menguncinya.

Gerald terus mengetuk kaca mobil, terus menahanku agar aku tidak pergi.

"Miss... aku mohon, jangan seperti ini! Aku bisa menyetir untukmu kemana pun." ujarnya dengan nada penuh kekhawatiran.

Aku tak menghiraukannya meski aku mendengarnya, ia mungkin tidak tahu apa yang baru saja ku lewati.

Meskipun tahu aku tidak ingin terlihat rapuh di mata orang-orang meski perih di dadaku.

Pada akhirnya aku melajukan audi hitam itu, menjauh dari mansion tersebut yang membuatku merasa muak berada di dalamnya, menjauh dari semua orang yang menghianati diriku.

Aku begitu mencintai Anthonio, mungkin itu yang membuatku terlihat bodoh di mata mereka berdua.

Dan pada akhirnya, aku menumpahkan seluruh kesedihanku. Bulir bening itu akhirnya jatuh juga membasahi pipiku.

Aku menangis sesegukan, mencengkram erat setir kemudi.

Tak perduli dengan rambutku yang telah acak-acakan, aku hanya butuh lari. Lari dari kehidupan yang tak pernah berpihak padaku, kehidupan yang tak pernah membuat kebahagianku bertahan lama atau mungkin selamanya.

My Hot Builder ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang