Baru satu tahun kedai kopi ini berdiri. Berkat keinginan dan tekad yang kuat, Bobby memberanikan diri untuk keluar dari zona nyamannya. Baru satu tahun yang lalu ia lulus SMA, mimpinya untuk memulai usaha kecil-kecilan pun berjalan dengan lancar. Ini pun berkat dukungan dari Lolita yang membantunya sampai tahap seperti ini.
"Gimana hari ini?" tanya Lolita dengan santai.
"Gimana apanya?" Bobby nanya balik. Seketika dirinya bingung apa yang ditanyakan pacarnya itu.
"Bego apa gimana sih? Ya kedai kopi rame apa enggak?" ketus Lolita.
"Nah gitu dong yang jelas, secara gue kan banyak acara. Jadi bingung mana yang lo tanya" Ujar Bobby sombong.
"Serah Deh".
Obrolan itu berlalu sekitar lima menit di taman kampus yang kebetulan suasananya cukup sepi karena mahasiswa yang lain sudah pulang sekitar satu jam yang lalu.
Malam ini Bobby mengajak Lolita untuk menemaninya menemui temannya yang akan membahas tentang interior kafe di kedai kopi miliknya.
"Aduh gue bingung nih, kayaknya ada yang perlu di rombak sama wallpaper-nya" Bobby mengeluh pada temannya.
"Ya tenang aja bro, lo inikan masih muda, masa gak tahu sih selera anak muda zaman sekarang. Kita ganti aja wallpaper nya ala ala sosial media gitu, biar lebih fresh" jelas temannya.
"Nah bagus tuh, besok bakal di urus aja ya sama abang gue. Soalnya besok gue dikampus ada jam tambahan" Tutur Bobby.
"Iya siap".
Sementara dari tadi, Lolita hanya terdiam mendengarkan percakapan mereka berdua yang sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bahas.
Setelah hari cukup larut, Bobby menawarkan Lolita untuk makan malam di restoran terdekat. Tapi Lolita menolaknya, ia ingin segera pulang karena hari ini cukup penat baginya.
Sesampainya di rumah Lolita menerima line dari Bobby.
Boo : Kangenku ke kamu itu bagaikan bus Semarang-Jakarta, semakin malam semakin ugal-ugalan.
Lolita: Emang lo pernah naek bus jurusan itu?
Boo : Ya belum sih wkwk:v
Lolita: Ah kamvret lu. Udah sana tidur. Katanya besok kuliah dari pagi sampe malem.
Boo : Iya Bolot.
*****
Pagi yang cerah, selesai Lolita membantu mamanya di dapur, ia langsung berangkat ke kedai kopi milik Agam dan Bobby. Hubungan Lolita memang sudah dekat dengan Agam. Jadi ia sudah tak sungkan jika harus membantunya atau meminta bantuan.
Entah apa yang ada di pikiran seorang Agam. Banyak cewek di kampus yang mengejar-ngejar sosok Agam. Sikapnya memang dingin tapi ramah.
" Eh bang Agam, pertanyaan untuk kesekian kalinya nih. Kenapa sih sampe sekarang belum pernah pacaran?" Tanya Loli sembali meminum kopi.
Sejenak Agam terdiam dan sangat malas untuk menjawab pertanyaan Loli untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba pelanggan pun datang dan memesan kopi. Agam langsung pergi meninggalkannya tanpa harus menghiraukan pertanyaannya tadi.
*****
Dari pagi sampai sore Lolita membantu Agam melayani pesanan para pelanggan. Ia mulai kelelahan dan meminta izin untuk pulang sebelumnya.
Ketika sampai di rumah Lolita langsung membersihkan badannya. Lolita merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat empuk. Langit pun sudah cukup gelap dan ini menandakan bahwa ia harus segera beristirahat setelah seharian membantu kedai milik Bobby kekasihnya.
Tak lama kemudian, pintu kamar terketuk dengan panggilan suara yang tak asing lagi bagi Lolita. Suara pintu pun terbuka dan didapati Bobby yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya dengan membawa bingkisan warna putih.
" Kelihatannya lu capek?" tanya Bobby sambil menyimpan bingkisan itu di atas nakas.
"Dikit, cuma pengen cepet istirahat aja. Ngapain ke sini?".
"Pacar dateng bukannya di sambut. Nih gue bawa makanan, gue tahu lu pasti belum makan kan?".
"Ah sok tahu lu Bolot. Pasti bi Eha kan yang ngasih tahu? mana sini ambilin".
Mereka pun makan bersama di ruang makan yang kebetulan orang tua Lolita sudah terlelap tidur.
Ahh terlalu pendek ya? Sorry yaa😆😆

KAMU SEDANG MEMBACA
Bolot
Teen Fiction"Lo tuh kenapa sih masih mau sama cewek kayak gue?" " Lo lupa sama komitmen kita? Kita ini udah 4 tahun loh bareng-bareng" Bobby dan Lolita dua insan yang tak pernah bosan mendengar keluh kesah pasangannya, mereka konyol. Baper? Tidak mempan untuk s...