Sejak hari itu, setelah terjadi kesalahpahaman antara Samudra dan Yejira, hubungan mereka semakin buruk dan Samudra semakin takut kalau-kalau Yejira marah kepadanya.
Setiap kali mereka berpapasan di kelas, setiap kali mata tajam Yejira melihat ke arahnya, rasanya jantung Samudra seperti terkoyak. Ada rasa takut, bingung, sekaligus rasa tidak enak dalam diri pemuda itu.
Pertama, hubungan yang bahkan belum mereka mulai sudah rusak. Kedua, dipelajaran Prakarya hari ini dan dua minggu ke depan, mereka malah berada di satu kelompok yang sama.
Dengan Caca, Ilham, Haikal, Cici dan Yejira.
Samudra bingung, tidak tahu harus bersyukur atau malah sedih dan takut karena kedapatan satu kelompok dengan Yejira Titania yang masih mendeklarasikan perang dingin dengan dirinya.
Sore ini, kelompok prakarya yang diketuai oleh Haikal (tentu saja) sudah ada di kediaman Haikal. Tepatnya di teras belakang rumahnya yang terhubung dengan dapur.
Cici dan Ilham berantem cekcok di dapur karena rebutan siapa yang mau memasak adonan kue lumpur buatan mereka. Haikal dan Caca tidak di tempat karena harus membeli bahan untuk adonan mereka yang ternyata kurang. Sedangkan Samudra dan Yejira ditugaskan untuk mengupas kentang yang hendak direbus.
Keadaannya berbanding terbalik dengan yang berada di dapur. Di sini, di teras luar, hawa dinginnya Yejira seperti menusuk sukma Samudra saking dinginnya. Sesekali ia merinding karena diamnya Yejira seperti hendak melahapnya saat ini juga. Tiap Yejira bergerak, Samudra tak kuasa ingin segera angkat kaki dan lari.
Tentu saja Samudra merasa bersalah perihal kesalahpahaman mereka kemarin. Mungkin saja Samudra tidak sadar bahwa ada perkataannya yang tidak disengaja menyinggung perasaan Yejira. Keinginan untuk meminta maaf kepad Yejira sebetulnya ada, banyak. Tapi entah kenapa Samudra terlalu ciut begitu melihat gerak-gerik Yejira yang sedang memegang pisau sembari mengupas kentang.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Satu persatu kentang yang harusnya mereka kupas pun sisa satu. Yejira melirik ke arah Samudra, begitupun pemuda itu.
Tapi buru-buru Samudra mundur perlahan sembari menyimpan pisau lalu melepas sarung tangan plastiknya. Membiarkan Yejira mengupas kentang terakhir.
Sambil menekuk kakinya, Samudra terus memperhatikan Yejira yang duduk di sebrangnya. Mata perempuan itu seperti rubah, agak tinggi di ujungnya. Bibirnya tipis, kecil. Mungkin karena itu wajahnya terlihat agak galak dan jutek abis? Samudra seperti sedang mengobservasi.
Di sela-sela kegiatan observasi yang dilakukan oleh Samudra, tiba-tiba saja Yejira melirik ke arahnya. Samudra mati kutu. Ia langsung melengos seolah tidak terjadi apa-apa.
Sedangkan Yejira berusaha mengatur air mukanya agak tidak canggung.
"Emangnya siapa?" tanya Yejira tiba-tiba.
Samudra menoleh cepat. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali karena tidak mengerti dengan pertanyaan Yejira barusan.
"Apa tuh yang siapa?" Samudra balik bertanya.
"Temen gue." sahut gadis bersurai hitam pekat nan cantik ini. "Siapa temen gue yang mau lo deketin?" tanyanya.
Samudra diam sejenak, berusaha mencerna ucapan Yejira. Otaknya berputar, me-rewind kejadian apa yang terjadi antara dirinya dan Yejira sampai perempuan itu tiba-tiba bertanya demikian.
Sampai otaknya sudah ter-click dengan baik, Samudra membuka sedikit mulutnya, paham dengan apa yang Yejira maksud.
"Ah itu," ia membasahi bibirnya sejenak. "Bukan siapa-siapa." jawab Samudra. "Maksudnya, gua kagak ada niatan mau deketin temen lu sama sekali."
Mendengar jawaban Samudra, Yejira merenyitkan keningnya. "Terus?" tanyanya.
"Tempo hari, yang mau gua tanyain tuh sebetulnya gini; 'temen-temen lu ada yang tertarik sama Ilham gak?' gitu." jelasnya.
Yejira menghentikan sejenak kegiatan mengupas kentang terakhirnya. Ia menatap Samudra penuh tanda tanya, dengan wajahnya yang tampak bingung.
"Maksudnya?" tanya Yejira lagi.
Samudra menipiskan bibirnya. Ia betul-betul menghadapkan tubuhnya pada Yejira. "Gua kagak mau deketin temen lu, tapi mau bantu Ilham. Katanya dia suka sama salah satu temen lu itu." lanjutnya.
"Lo sendiri?" Yejira kembali memotong penjelasan Samudra. "Lo juga pasti ada niat buat deketin temen gue kan, makanya lo nanya ke gue?" ia kembali mencecar Samudra dengan pertanyaan yang memang biasa ditanyakan oleh para lelaki di SMA Garuda.
Buru-buru Samudra menggelengkan kepalanya, "Kagak, kagak!" ia buru-buru menolak kesimpulan yang barusan Yejira katakan. "Begitu lu kemarin marah ke gua dan bilang kalau lu tuh merasa seperti The Duff di antara teman-teman lu, jujur aslinya gua bingung tuh, Ra." Samudra langsung berkata sejujurnya.
Yejira sedikit kaget begitu Samudra menambahkan kata 'Ra' di akhir kalimatnya. Tapi buru-buru ia potong kembali ucapan Samudra. "Ngapain bingung?" tanya Yejira. "Faktanya gue emang The Duff-nya temen-temen gue kok."
Samudra menggeleng sembari menggerakkan tangannya, "Kagak, kagak. Sebelah mananya lu The Duff?" ia tidak setuju dengan ucapan Yejira. Perempuan itu terdiam sembari menunggu Samudra melanjutkan bicaranya. "Gini ya, masing-masing orang tuh punya pesonanya sendiri. Insecure pasti, gak mungkin kagak. Tapi itu bukan alasan buat memandang diri lu sendiri lebih rendah daripada teman-teman lu." lanjutnya. Ia mengubah posisinya menjadi bersandar pada pilar tembok yang berada di belakangnya. "Lagian sebelah mananya sih lu The Duff? Lu kagak ugly, kagak fat juga." suaranya kian mengecil. Ia melihat ke arah Yejira sembari menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan ucapan Yejira yang men-claim dirinya adalah The Duff bagi teman-temannya.
Baru kali ini Yejira mendengar ucapan tersebut dari orang lain, selain Camelia, Sherin, dan Saluna tentu saja.
Selama ini, dua bulan belakangan ini, setelah ia berada di kelas yang sama dengan ketiga teman cantiknya itu, memang tiada henti Yejira mendapatkan 'titipan salam' dari para lelaki gembel seantero Garuda untuk teman-temannya. Tidak ada untuk dirinya.
Jujur, ia tidak masalah. Sama sekali. Tapi, bisa gak sih langsung aja sampaikan tanpa harus melalui dirinya?
Yejira merasa muak terus menerus menjadi 'tukang pos' untuk salam-salam aneh yang menjijikan (bagi Yejira) dari lelaki Garuda untuk teman-temannya.
Tapi apakah Yejira membenci ketiga teman cantiknya itu? Tentu saja tidak. Sama sekali. Ia justru membenci laki-laki di Garuda yang memang sialan dan gak punya nyali untuk langsung bicara dengan teman-temannya sampai-sampai harus membuatnya repot sendiri.
Baru kali ini, setelah berada di kelas 11, ia berbicara dengan laki-laki yang tidak memiliki kepentingan untuk 'titip salam' kepada teman-temannya.
Yejira tahu ini hal kecil, sungguh kecil. Tapi entah kenapa hatinya merasa hangat sore itu. Berkat ucapan Samudra.
Ujung bibir Yejira terangkat, ia tersenyum tipis tanpa menoleh ke arah Samudra. Justru ia malah lanjut mengupas kentang terakhir di tangannya.
Rambut Yejira diikat cepol asal. Beberapa helai rambutnya berterbangan menggelitik wajah cantik perempuan ini.
Samudra memperhatikan raut wajah Yejira, meskipun menunduk, ia bisa melihat jelas bahwa ujung bibir perempuan itu terangkat. Ia tersenyum tipis.
Melihat hal itu, Samudra sedikit kaget dibuatnya. Mata sipit perempuan itu seperti bulan sabit ketika tersenyum, meskipun hanya tersenyum tipis. Pipinya membulat lucu, dengan sedikit kerutan di ujung matanya.
Oh, wow.
Sore itu, Samudra seperti terserang pesona yang baru ia lihat dari perempuan berwajah bak rubah di hadapannya. Dadanya menghangat, dan debaran jantungnya jadi lebih cepat.
Apa-apaan ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken Things Between Us
Teen FictionSamudra dan Yejira berusaha mematahkan opini tua di masyarakat tanpa mengetahui bahwa sesuatu telah tumbuh, tanpa kata, tanpa bicara, tanpa isyarat di antara mereka. pancaka mantra series written by jlldal © 2019
