"Gara-gara lu tau gak!"
Yejira menoleh cepat ke sebelah kanannya. Di mana ada Samudra tengah hormat bendera di pagi yang terik ini. Sama hal dengan dirinya, sedang hormat bendera tanpa topi untuk menghalangi wajahnya yang terpapar sinar matahari langsung.
Mendengar ucapan Samudra barusan, Yejira otomatis tersulut emosi. "Loh, kok malah nyalahin gue?" seru Yejira. Masih dalam posisi hormatnya, ia maju selangkah dan memposisikan tubuhnya menghadap Samudra. "Lo sendiri kok yang dateng jemput gue, kenapa gue yang disalahin?" omelnya.
Samudra tertawa meremehkan, "Alibi." celetuknya. "Gua udah bilang kan kalo gua gak bisa jemput lu. Gua juga telat. Tapi lu malah marah-marah di telepon, akhirnya gua jemput kan. Tapi lu liat, makin telat jadinya!"
Apa sih mereka ini? Kenapa tiba-tiba ada di tengah lapangan Garuda sembari hormat bendera sih?
Yep, keduanya terlambat masuk di hari Senin ini.
Biasanya Yejira selalu diantar oleh papahnya atau memesan ojek online. Tapi sayangnya, pagi itu di rumah gak ada siapa-siapa dan driver ojek online-nya gak ada yang ambil orderannya. Senin super sial, kan?
Sedangkan alasan Samudra, karena semalaman suntuk ia menginap di rumah Hwallendra bersama dengan Ilham, Haikal, dan Eric. Bahkan ia baru pulang subuh tadi, karena mereka mengira kalau malam tadi tuh malam minggu, padahal kan malam senin!
Setelah tiba di rumah, bukannya bersiap untuk pergi ke sekolah, Samudra malah melempar tubuhnya ke atas kasur lalu membiarkan matanya terpejam. Jadilah ia telat.
Di posisinya yang super duper telat dan buru-buru, Yejira meneleponnya dan meminta untuk dijemput. Makin-makin deh Samudra telat.
Hukuman hormat bendera memang hukuman paling ringan di SMA Garuda. Syukur-syukur disuruh hormat bendera selama 45 menit, daripada dihukum suruh nyikat WC pake sikat gigi bekas? Ogah banget!
Fokus kembali pada Samudra dan Yejira yang hanya berdua berdiri di lapangan upacara. Karena hanya mereka berdua yang telat.
Yejira yang mendengar ucapan Samudra tadi refleks menoleh ke arah Samudra. Persetan hormat bendera! Perempuan itu kini berdiri menghadap Samudra, betul-betul menghadap dan tidak melakukan hormat. Sedangkan Samudra masih berdiri lurus menghadap bendera sembari hormat.
"Eh, lo dengar ya." Yejira bicara dengan nada super tegas. "Gue udah bilang sama lo, kalo gak bisa jemput ya gak usah. Tapi lo maksa gue katanya iya, tunggu aja. Bener kan gue tunggu? Kok malah nyalahin gue?!" seru Yejira.
"Lu bilang gak usah nya aja gak ikhlas sambil marah-marah, gimana gua mau gak mau jemput lu lah?" Samudra menyahut cepat semakin emosi.
Cekcok.
Baru kali ini mereka cekcok saling menyalahkan begini. Terlebih, di lapangan.
Baru kali ini baik Yejira maupun Samudra diteriakin, dimarah-marahi di lapangan seluas ini dan jadi tontonan gratis anak-anak yang seliweran.
Biasanya, 30 menit setelah upacara bendera akan ada waktu kosong. Guru-guru biasanya briefing, lalu siswa-siswi Garuda biasanya sarapan atau sekadar seliweran, dan beberapa Pengurus OSIS juga anak-anak Paskibra biasanya sibuk mengamankan dan memberi hukuman siswa yang telat.
Macam Samudra dan Yejira ini.
Entah gimana, masalahnya cuma mereka yang telat hari ini.
"Lo tuh sialan ya, Sam. Gue gak salah tapi tetep aja lo salahin." amuk Yejira. Bahkan jari telunjuknya ikut terangkat menunjuk-nunjuk Samudra.
Gak terima, tangan Samudra memegang telunjuk Yejira. "Gak usah nunjuk-nunjuk lah. Sopan dikit."
Gak kuat. Yejira gak tau lagi Samudra benar-benar jadi semenyebalkan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unspoken Things Between Us
Teen FictionSamudra dan Yejira berusaha mematahkan opini tua di masyarakat tanpa mengetahui bahwa sesuatu telah tumbuh, tanpa kata, tanpa bicara, tanpa isyarat di antara mereka. pancaka mantra series written by jlldal © 2019
