4. Cie

4.4K 1.2K 50
                                        

"CIEEEE!"

Satu kelas 11 IPS 1 serempak berteriak begitu seorang pemuda yang tak asing di SMA Garuda (terutama di angkatan mereka) muncul di depan pintu kelas saat jam istirahat berlangsung.

Biasanya, anak-anak IPS 1 langsung berpencar. Ada yang ke kantin, ada yang nongkrong di belakang gudang untuk merokok diam-diam (jangan ditiru ya teman-teman!), ada yang ke UKS menikmati Wi-Fi gratis setiap kali istirahat berlangsung, ada juga yang memilih untuk tidur di perpustakaan. Aduh, ini juga jangan ditiru!

Bisa dibilang, kelas 11 IPS 1 sangat amat jarang berkumpul di dalam kelas ketika jam istirahat atau jam kosong berlangsung. Tapi hari ini pengecualian karena Haikal memberi intruksi kepada teman-teman satu kelasnya untuk stay karena harus menghias kelas.

Hari Senin nanti akan diadakan lomba K3 Kelas (Kebersihan, Keindahan, Kerapihan) dan tentu saja mau tidak mau membuat satu kelas harus ikut berpartisipasi.

Setidaknya jangan bodo amat banget deh. Ada kontribusinya walau sedikit. Contohnya Ilham. Gitu-gitu dia jago gambar graffiti loh! Hari ini tugas Ilham membuat graffiti di dinding belakang kelas.

Beberapa siswi sibuk gunting menggunting kertas untuk bahan materi mading kelas.

Sedangkan Samudra yang tidak memiliki keterampilan hias menghias, hanya ikut bersama Ilham di belakang. Sesekali melakukan apa yang Ilham suruh kepadanya.

Tapi perhatiannya langsung teralihkan ketika satu kelas berteriak 'cie' secara kompak dan bersamaan. Ia menoleh ke arah pintu masuk kelas, terdapat seorang pemuda yang berdiri dengan senyum sopan di wajahnya.

"Raaaa, diapelin tuh!" seru Camelia dari pojok depan kelas. Ia dan Cici tengah sibuk menggunting origami.

Samudra refleks menoleh cepat pada Yejira yang sedang mencampurkan cat tepat di sebelah kirinya. Perempuan itu menyimpan peralatan catnya, lalu tanpa banyak bicara langsung berjalan ke arah pintu kelas guna mendatangi pemuda itu.

Wajahnya yang biasa terlihat jutek dan galak abis, di mata Samudra terlihat sedikit... hanya sedikit lebih bersemu. Telinganya sedikit memerah, dengan pipi bulatnya yang tak kuasa menahan senyum.

Mata Samudra tidak bisa berpaling. Ia terus memperhatikan gerak-gerik Yejira dari ia melangkahkan kaki menuju ke arah pemuda itu, sampai tiba di depan pintu, di hadapan pemuda yang satu Garuda pun mengenalnya.

Yep, Abian Sadajiwa. Sang Ketua OSIS.

Memang akhir-akhir ini terdengar sayup-sayup gosip yang tersebar di Garuda bahwa Abian sedang dekat dengan seorang perempuan. Ya, awalnya Samudra sih enggan peduli. Tapi begitu tahu kalau perempuan yang dekat dengan Abian adalah Yejira, jujur ia agak shock.

Yejira sama si ketua OSIS? Serius nih? Pikir Samudra.

Karena di kepala Samudra, dua orang itu berbanding terbalik. Yejira cinta kedamaian, ketentraman, tidak suka dengan khalayak ramai dan spotlight berlebihan. Sedangkan Abian tentu saja hidup di tengah-tengah spotlight. Semua murid memandanginya, semua orang di Garuda bahkan. Ia punya jabatan menterang yang otomatis menjadi pusat perhatian setiap harinya.

Kok bisa sih? Dua orang itu?

Ilham yang semula memunggungi Samudra, menoleh ke belakang. Alisnya naik begitu melihat Samudra malah fokus melihat ke area depan pintu di mana ada Yejira dan Abian sedang mengobrol, sedangkan tangannya yang memegang kuas malah mengecat asal di atas grafitinya.

"WEY WEY WEEEEY!!!" Ilham buru-buru merebut kuas cat dari tangan Samudra. "Elu mah malah ngacak-ngacak, anying?!" gerutunya.

Samudra refleks menoleh ke arah Ilham. "Eh, eh! Sorry, Am. Asli, kagak sengaja gua." ia meminta maaf pada Ilham yang agak bete karena karyanya sedikit dirusak oleh Samudra.

Unspoken Things Between UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang