T A N T A N G A N

18 2 0
                                    

" Jangan kau seperti angin
yang datang lalu pergi, karena
betapa sulitnya ku melepaskanmu"

---

"Kok cukup baik, kenapa ?" tanyaku dengan wajah penasaran.
"ehhmm gimana ya rain, gini lo aku akan pindah". Aku melotot tak percaya, bagaimana bisa sahabatku dari kecil meninggalkanku.

"Pindah kemana?Kenapa?dan sama siapa"tanyaku dengan cepat
"ihh pelan – pelan kenapa ?" aku yang mendengar hanya tertawa kecil.

"aku akan pindah ke Bandung, karena bokap gue akan ngurusin kerjanya disana, semua keluarga gue juga ikut kecuali kakek dan nenek gue" aku pun hanya mengangguk dan mendengus kesal karena sahabat ku akan pindah
"kapan lo pindah dan sampai kapan ?"

"gue pindah mulai bulan depan, dan soal sampai kapan, gue nggak tau, sekitar 1 tahun" aku langsung terbelalak kaget dan berteriak hingga membuat semua tatapan mata siswa siswi meghadap ke aku.

 "AAPPAA? eh, maaf,....lama banget, terus gue sama siapa dong?" wajah aku yang cemberut membuat Shelly tertawa kecil.

"ihh lebay banget lo, dah gede jangan cengeng mulu, kan masih ada Cindy, Laily, dan Adel, masa temen lo hanya gue? hhh ada aja" aku yang mendengar hanya cemberut dan buang muka.
"Shel, lo nggak ngerti, gimana rasanya jadi gue. Cindy dan temen temennya tu nggak tau nganggap gue sebagai temennya, mereka hanya datang ke gue disaat mereka sangat membutuhkan gue, terus setelah itu gue ditinggallin, dan saat lo nggak masuk kelas, lo tau apa yang mereka lakukan terhadap gue ?" Shelly menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak mengerti.

"Gue dihina, disuruh – suruh, gue diejek Shell, coba bayangin ,siapa yang tahan terhadap seseorang jika diejek secara terus menerus, diejek 'hujanlah, cemenlah, cengenglah, miskinlah, dll' gue nggak tahan di gituin. Hanya lo yang tau perasaan gue, jadi jangan lama – lama ya di Bandung, atau lo nginep dirumah gue aja ?" Shelly hanya mengangguk dan berpikir.

"Kalau gue nginep dirumah lo, nanti adanya gue dimarahin bokap gue, lo kan tau bokap gue nggak suka jika diantara keluarganya ada yang ngerepotin orang lain" Aku hanya mengangguk dan mendengus kesal.

"Tapi kalau lo dibandung gue harus sama siapa?"tanya aku sambil cemberut.
"Yaudah, saran gue lo sama Rizki aja, dari pada sama kelompoknya Cindy"Aku langsung terbelalak kaget.
"HAA..Rizki. ngapain sama Rizki, kaya nggak ada temen lain?"Aku langsung buang muka.

"yaa kalau nggak mau ya udah, cari temen lain aja lo." Shelly dengan santainya yang mengatakan itu yang membuat aku kembali menatapnya.
"yahh Shell lo kok gitu sih, yaya gue sama Rizki aja, tapi kenapa Rizki tadi pagi nggak di gerbang, selalunya kalau gue masuk sekolah, dia selalu di gerbang, kaya nunggu seseorang gitu"Shelly yang mendengar, langsung menatapku dengan tatapan curiga sambil tersenyum.

"Ciieee yang katanya nggak mau sama Rizki, eh malah nanya Rizki ada dimana?" Aku langsung mencubitnya dan mengalihkan pandanganku ke belakang, padahal dibelakan hanya sebatas tembok berwarna putih.
"Eh eh dia ngambeg, Rain, Rainaa"Shelly memanggilku dengan menepuk pundakku tapi aku tidak memedulikannya.
"hmmm, Rizki nggak masuk karena sakit, tadi pas gue mau berangkat, gue ketemu nyokapnya dan,  dia minta tolong kasih tau ketua kelas kalau Rizki sakit."

Mendengar penjelasan Shelly, aku langsung menoleh kepadanya

" Sakit ? sakit apaan..?" Shelly hanya meringis.
"Sakit apa ya? sakit hati kali.."Shelly hanya tertawa dan aku cemberut "Lo kok selalu seneng bikin gue marah sih sel? gue ini tanya serius.."
"haha, yaya kata nyokapnya sih, sakit panas gitu. Eh By The Way, lo kok segitu perhatian sih sama Rizki, deket aja belum?" Terlihat wajah Shelly yang serius bertanya.
"Ya sih deket belum, tapi AKAN ...hahaha"
"Ihhh lebay, dicoba deket dulu kali. Semenjak kapan lo suka ama dia ? dan apa yang membuatmu suka sama dia ?"
"Kenapa lo jadi kepo gitu, atau jangan jangan lo juga suka yaa sama Rizki?" Pertanyaanku membuat Shelly bertingkah sok najis.
"Ngapain coba, ya sih bisa dibilang dia ganteng, pinter, rajin, tapi dia tu seperti es batu dan tak bisa dilelehkan, yang paling parah dia tuh cuek. Ihh ogah gue sama dia"
"Sok najis lo"
Hal tersebut membuat aku dan Shelly tertawa terbahak bahak
"Oh, ya Rain, lo jadi ikut camping kan ke bukit?" Pertanyaan Shelly membuatku berpikir sejenak
"Ehmm, kalau lo ikut, gue juga ikut"
"Lo tu ya, kaya gajah kecil dan induknya, selalu buntutin kemana pun gue pergi. Kan ada kakak lo?"

"Kak Rangga ma nggak suka gitu gitu an." ya, emang bener omanganku, Kakak ku itu soal kemah, camping, out bound, dll, nggak pernah ikut, Alasannya tetap sama, MALES / CAPEK

"Ok deh aku ikut, tapiii ada syaratnya!!!" Ucapan dari Shelly membuatku penasaran dan bingung, masa hanya karena ikut harus ada syaratnya, kaya mau pilkada aja.
"Syarat? kenapa harus ada syarat, apa syaratnya?"
"Syaratnyaaa.....sebelum gue pergi ke Bandung, lo harus bisa lebih deket dengan Rizki"

"Syaratnya itu, gampang itu mah"

Kalimatku seakan menyepelekan syarat dari Shelly, emang bener sih menyepelekan.
"Lo tu ya, selalu gitu, belum di coba, dan bilang 'gampang..gampang'. Lo kan sadar Rizki tu sifatnya sekarang kaya gimana"
"Eh, iya ya gue lupa. Gue usahain deh" Kataku sambil mangacungan jempol tak bersemangat, gimana mau bersemangat ?. Orang yang harus gue hadapi kali ini Rizki Alviano, yang dulu ramah, baik, dan sekarang Cuek, dingin, nyebeliinnn.
"Ok."

Selepas bicara dengan Shelly, guru mata pelajaran pertama masuk yaitu bu sari mengajar mapel BIOLOGI. Di kelas ini, aku bisa di bilang pintar, karena setiap ada ujian aku selalu ringking 1, tak pernah turun.

Bukan hnya itu, di sekolah ini juga aku bisa dibilang Princess karena banyak cowok yang naksir sama aku, sampai sampai kolong mejaku penuh dengan hadiah, coklat, surat, dsb. Karena itu juga, cewek cewek iri, benci sama aku, termasuk Cindy. Dia benci karena Refan selalu perhatian sama aku, bisa dibilang sih Cindy cemburu.

Tapi semua cewek yang benci iri sama aku, tidak aku pedulikan.

Tet..Tet..Tet

RAIN AND RAINBOWTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang