Tet..tet..tet
Suara bel yang membuat semua murid yang umumnya duduk rapi di kelas, keluar kelas untuk melakukan aktivitasnya masing masing, Kecuali aku.
Mengapa?? karena aku nggak mood untuk ke kantin.
"Rain, nggak ke kantin?, katanya ada menu makanan NEW looo."
"Nggak ah, males." kataku sambil mengambil buku novel yang kupinjam dari perpus kemarin."Lo nggak laper?." Tanya Shelly dengan raut wajah yang sebelah alisnya terangkat keatas.
"Nggak."
"Emang bener ya? seseorang kalau sudah terjebak akan dunia cerita, selalu saja tidak ingin melakukan apa apa, seakan dialah yang menjadi pemeran utama dalam cerita tersebut."
Kalimat panjang lebar yang dikatakan Shelly membuatku hanya berdehem dan mengangguk pelan."Yaudah gue ke kantin dulu, lo nggak titip?"
"Nggak."
Pernyataanku membuat sahabatku berdecak kesal dan keluar menuju kantin.Setelah Shelly keluar kelas, ada seseorang yang menghampiriku, yaitu seseorang yang sangat Cindy kagumi, siapa lagi kalau bukan Refan.
Ia berjalan kearahku dan berhenti sejenak menatapku dengan senyuman manis yang terukir diwajahnya lalu ia duduk di depan bangku yang kutempati. Aku hanya menatapnya sekilas lalu kembali fokus dengan buku yang ku pegang.
Ia menyondorkan kotak bekal ke arahku,
"Nih makan, ntar mahnya kambuh lagi."
Benda persegi yang ku pegang sebelumnya kututup, lalu menerima bekal dari Refan. Refan sudah sering memberiku bekal, jika aku tidak ke kantin. Dia juga sudah tau penyakit yang kuderita yaitu 'mah', entah dari siapa dia tau kalau aku punya penyakit mah? mungkin dari Shelly?"Makasih." Ucapku sambil membuka bekal tersebut yang isinya roti lapis lalu kumakan sepotong.
"Kenapa nggak kekantin?" akupun mendongakkan kepala dan berhenti makan sejenak.
"Nggak papa, hanya malas." Kulanjutkan makan
"Ouwh...Nyari-in Rizky?"
"Uhuk..uhuk..uhuk" Pertanyaan itu membuatku tersedak dan menoleh ke hadapan Refan yang kini tengah memerhatikanku dengan roti yang masih di dalam ulutku yang sempat belum ku telan."Sampai segitunya..Minum!!" Pintanya dengan menyondorkan air mineral dan kuterima begitu saja.
"Maaf." Ucapku setelah meneguk air mineral tersebut.
"Nggak papa, Oh ya! nanti pulang sekolah gue anter ya! mumpung gue nggak ada acara dengan teman teman gue.""Aku telfon nyokap gue dulu deh."
"Ehmm...Yha..Memangnya kenapa Rizky nggak masuk?"
Pertanyaan itu membuatku berhenti sejenak dan menatapnya dengan wajah ku buat gembira."Shelly bilang sih Rizky sakit."
"Ouuww.." Ucapnya di ikuti anggukan kepala. "Nggak jengukin?"
"Ehm-eh-em..Ng-ga-gak ta-au" Aku bicara terbata bata karena aku nggak mau nyakitin perasaan seseorang yang suka sama aku, apalagi selalu perhatian.
"Kenapa? Takut gue marah? kalau mau jengukin gue antar."
"Eh..nggak usah. ehhmmm...Banyak tugas." Jawabku dengan cepat dan bertingkah seolah olah baru kenal sama seseorang."Rain, kalau misalnya lo masih digangguin sama Cindy, bilang sama gue ya! karena gue nggak mau lo tersakiti oleh kata kata atau tingkahnya yang sok kecakepan tu."
Perhatiannya terhadap aku,....tak pernah berhenti. Refan bagaikan kakakku sendiri, walaupun ia sudah memeilki firasat bahwa aku suka dengan sesorang, perhatiannya tak pernah berhenti.
"I-ya, ... Oh ya makasih ya buat makanannya, nanti aku kabarin, kalau misalnya di izinin sama nyokap gue."
"Ya, kalau gitu gue balik ke kelas dulu ya, kotak bekalnya dibalikin besok nggak papa."
"Ah,ya. Makasih sekali lagi."
"Ya, bye Raina ."Saat Refan meninggalkan kelas Shelly datang dengan berlari lalu duduk ditempat yang Refan tadi tempati.
"Rain, sebaiknya lo pilih Refan aja deh, dari pada Rizky"
Pernyataan Shelly membuatku bingung, sehingga aku mengangkat sebelah alisku."Kenapa?"
"Hufghhh, pake nanya lagi, ya karena perhatiannya itu lo Rainnn. Daripada Rizky, coba hitung, sudah berapa tahun lo suka sama dia? sudah 5 TAHUN Rain, dan hasilnya apa,nggak adakan. Coba dek lo buka hati sedikiittt aja buat Refan, siapa tau lo akan jatuh cinta sama dia."
"Kenapa lo bandingkan Refan sama Rizky?, Tapii, entahlah Shel, gue nggak bisa buka hati pada siapapun. Setiap gue suka sama seseorang, gue itu nggak yakin, beneran suka apa tidak, kecuali Rizky. Entah kenapa ya gue bisa betah dengan sifatnya itu?."Shelly beranjak dari tempat duduknya dan mendekat kearah aku.
"Rain, ingat, menunggu itu melelahkan. Cowok itu mengejar bukan menunggu, dan lo malah sebaliknya, Cewek yang mengejar, Cowoknya malah nunggu."
"Terus?"
"Yaaa..gimana ya? lo pikir ajalah sendiri, caranya buat lo agar bisa gantian si Rizky ngejar lo, Ahhh sekaligus melaksanakan tantangan gueeee, kannn?"Wajah Shelly yang menggambarkan rasa kebencian dengan senyuman jahat diwajahnya yang menghadap ke arah aku sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"hmm.." Ucapku dengan nada malas lalu mengambil buku yang ada di kolong meja dan mulai membaca nya lagi sambil menunggu bel masuk.
---

KAMU SEDANG MEMBACA
RAIN AND RAINBOW
Teen FictionRaina yang mempunyai sahabat baik sejak kecil yang bernama Shelly. Memiliki sifat yang berbeda, tapi setiap harinya mereka mengisi hari dengan tawa, canda , kebahagiaan dan lainnya. Hingga saat menginjak usia SMA, Shelly terpaksa pindah ke Bandung...