bagian kedua

21 6 0
                                        

"Kamu mungkin sudah luluh, tapi mempertahanmu mungkin lebih sulit dari memperjuangkanmu"

🌼🌼🌼

Aura

"Ra nanti kamu cuci timunnya. Terus dipotong ya" ucap perempuan paruh baya yang sekarang sedang sibuk mengaduk masakannya.

"Iya bu" ucap seorang gadis dengan lesu. Hari ini ia tidak bersemangat untuk membantu ibunya memasak. Padahal memasak adalah kegiatan yang menurutnya sangat menyengkan. Itu bukan hobbi nya, hanya saja mungkin itu gadis itu menyukainya karena ibunya sering mengajaknya. Ini hari sabtu, sudah menjadi rutinitasnya untuk memasak dan membantu sang ibu.

"Ya allah Aura, kan tadi ibu udah bilang suruh potong timunnya" sang ibu berdecak kesal melihatnya. Timun yang tadi sudah disuruh untuk di potong masih sempurna, bahkan pisaunnya pun belum dipegang.
Ia kesal karena anaknya itu malah tertidur. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya itu. Dia bahkan tertidur di dapur.

"Eh iya bu" ia tersentak mendengar perkataan sang ibu. Lalu Mengucek-ngucek matanya supaya penglihatannya jelas dan tak lama menguap lebar.

"Kan ibu udah bilang jangan kebanyakan nonton drama korea, gak baik ra" cerahmah ibunya. Ini sudah kali keberapa ia mendengar perkataan ibunya itu. Terkadang gadis itu sering merasa dejavu saat ibunya mengatakan hal itu. Padahal itu memang sering-sering terjadi.

"Iya bu" dan gadis itu semakin merasa dejavu ketika ia menjawab dengan jawaban yang sama pula. Nasihat itu seakan hanya angin berlalu. Ia mengiyakan hanya untuk menghindari ibunya itu mengomel lebih lama.

Ada satu kelemahan dari gadis itu. Benar, itu adalah ibunya. Apapun yang berkaitan dengan sang ibu ia tidak akan bisa menolak ataupun menentangnya. Ibu nya adalah salah satu orang yang tidak pernah diajak berdebat oleh aura. Iya dia adalah Aura rizkya hendrawan seorang gadis yang selalu berdebat dengan siapapun. Sedikit tomboy karena sebagian besar teman-teman kecilnya adalah laki-laki. Tetapi meskipun sedikit tomboy ia adalah seorang pecinta drama korea. Terutama drama korea yang bergenre roman. Kepribadian yang bertolak belakang memang.

Aura telah selesai memotong timun, sudah disusun pula diatas piring. Karena keluarganya berdarah sunda, lalapan jadi menu yang tidak boleh terlewat dirumahnya. Aura menaruhnya di atas meja, lantas berjalan ke arah sang ibu .

"Bu ade kekamar dulu ya" pinta aura memelas. Rasa kantuknya benar-benar tidak bisa dibendungnya lagi. Semalam ia bergadang sampai jam tiga pagi untuk menyelesaikan drama koreanya dan harus terbangun ketika ibunya membangunkanya paksa untuk sholat subuh. Setelahnya aura tidak bisa lagi tertidur karena memang itu sudah peraturan dari ibunya. Dirumah ini dilarang keras tidur setelah sholat subuh apapun alasannya.

Alhasil siang ini matanya benar-benar sudah menyerah. "Yaudah, tapi nanti ibu bangunin pas makan siang. Hari ini A rama mau kesini"

"Oke" jawab aura bersemangat . Ia langsung berlari kekamar dan mengunci pintunya rapat-rapat. Selama pintu masih bisa dibuka tidurnya akan terganggu. Aura menghempaskan tubuhnya diatas kasur, kemudian memejamkan matanya sambil tersenyum.

Belum sampai lima menit pintu kamar aura sudah ada yang mengetuk. Aura masih mendengar namun tak menggubrisnya. Ia merasa beruntung karena tadi sempat mengunci pintu, sebab jika tidak aura yakin orang yang sedang mengetuk pintunya itu sudah masuk dan menarik ia untuk berdiri.

AuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang