"Terkadang kita memang harus sering berpura-pura untuk membuat orang lain bahagia. Termasuk berpura-pura tak menyukai"
***
Sherina menghembuskan nafasnya kasar. Sudah sepuluh menit bel istirahat berbunyi dan sudah sepuluh menit juga dia mencari Khailash yang tak memunculkan batang hidungnya sejak pagi.
Ya,dari awal Sherina masuk kelas sampai bel istirahat berbunyi Khailash tidak masuk ke dalam kelas. Dan sudah dipastikan kalau cowok itu bolos.
"Ini si kutil anoa kemana sih?! Katanya janji mau nraktir tapi gak nongol-nongol." Sepanjang jalan Sherina hanya menggerutu. Sesekali cewek itu menendang kerikil atau apa saja yang menghalangi jalannya.
"Huaaaaa!! Gue laper!" Tanpa malu Sherina berteriak, membuat beberapa murid meliriknya dengan pandangan aneh.
Bukannya Sherina tak punya uang untuk makan di kantin, hanya saja prinsipnya adalah 'free food is everything'. Jadi buat apa harus beli kalau bisa dapet yang gratis.
Tukk!
"Aduhh!." Ringis Sherina sembari mengusap pelipisnya.
Sherina melirik kerikil yang jatuh tepat di bawah kakinya. Pandangannya langsung tertuju kearah lapangan. Disana Khailash sedang melambai-lambaikan tangannya, menyuruh Sherina untuk mendekatinya.
Sherina berjalan menghampiri Khailash dengan mulut yang tak berhenti menggerutu. Khailash ini benar-benar membuatnya kesal setengah mati.
"Apaan?" Tanya Sherina ketus saat sudah berada di depan Khailash.
Eh, Sherina baru sadar kalau Khailash tidak sendirian di sana. Di samping cowok itu ada seorang cewek. Dari wajahnya saja Sherina bisa menebak kalau cewek itu adik kelas.
Khailash memandang wajah bingung Sherina sesaat lalu beralih ke adik kelasnya itu.
"Tadi nama lo siapa?" Tanya Khailash kepada cewek tersebut.
"Cindy kak."
Khailash manggut-manggut, tangan kirinya refleks merangkul bahu Sherina yang tepat berdiri di sebelah kiri cowok itu. Sherina memelototkan matanya sembari menatap tangan Khailash yang merangkul indah di bahunya.
Sherina hendak protes, namun ucapan Khailash setelahnya membuat kata-kata yang hendak Sherina diucapkan tertelan begitu saja.
"Maaf ya, tapi gue gak bisa makan bareng sama lo. Lo liat sendiri kan muka cewek gue yang judes mirip emak-emak kost-an ini?" Khailash menepuk kepala Sherina pelan.
Sherina refleks memukul bahu Khailash membuat cowok itu hanya menunjukan cengiran khas miliknya.
Cindy berlaih menatap Sherina "Mbak ini pacar kakak?"
"Eh, enak aja manggil mbak, gue bukan tukang jamu ya. Dan satu lagi gue itu buk--" Khailash buru-buru menutup mulut lemes Sherina dengan telapak tangannya.
"Hooh dia pacar gue. Iya kan sayang?" Khailash menekan kata terakhirnya sembari melirik Sherina dengan pandanagn seolah-olah berkata, 'plis, bantuin gue dari ular piton ini.'
KAMU SEDANG MEMBACA
Shelash
Teen FictionAlrescha Khailash Danadyaksa. Huft, ngeja namanya aja udah bikin lidah keseleo. Tapi bener deh, mungkin Khailash adalah sosok cowok yang pengen kamu temuin sekarang juga. Cowok ganteng, kocak, ceria, dan cool abizzzz... Pujaan semua cewek deh pokokn...
