Mascheraviele | Tiga

17.8K 1.1K 5
                                    

TUKK

Suara sebuah pulpen mendarat di kepala terdengar nyaring di tengah-tengah lapangan sekolah. Airin berkacak pinggang sambil memandang bengis laki-laki yang sedang berdiri dengan sebelah kaki terangkat dan kedua tangan menjewer kuping. Siapa lagi kalau bukan Gara?

"Lo tuh gak malu apa?!" Omelan Airin dimulai saat bel istirahat berdering dan tentu saja akan berakhir saat bel istirahat selesai berdenting. Hal itu seolah telah menjadi kegiatan rutinnya saat menyadari Gara terlambat atau membolos pelajaran. Sejak sebulan terakhir mereka semakin dekat meski dulu sempat terpisah jarak.

"Aiish" desis Gara--tak senang. Padahal dalam hati ia tersenyum. Akhirnya gadis ini kembali perduli padanya.

"Lo pasti begadang lagi kan?" bibirnya tak henti bicara tapi gerakan tangannya tetap fokus membuka tutup botol minuman untuk Gara. "Sekali lagi lo lakuin ini, gue gak bakal peduli lagi." Itu ancaman.

Namun sayangnya Gara malah terkekeh. Bukannya kemarin juga begitu? Airin bilang tak kan memerdulikamnya namun hari ini ia tetap disini. Di sisi Gara.

"Aiish! Gue serius tahu!" Ucapnya sambil memukul kepala Gara agar lelaki itu menganggap remeh ucapannya.

"Kak Airin!" seseorang dari jauh memanggilnya. Airin menoleh dan mendapati adik kelasnya mendekat.

"Kenapa?"

"Kak Bayu manggil Kakak. Di perpustakaan."

Gadis itu mengangguk patuh. Ia menoleh pada Gara. Laki-laki itu mencibir pelan.

"Ngomong apa lo?" sergahnya. Telinganya menangkap kata-kata ejekan terhadap Bayu.

"Gak ada. Udah sana pergi." Usir Gara.

Airin mencibir. Laki-laki ini selalu seperti ini setiap ada lelaki lain di dekatnya, menghampirinya atau hanya sekadar menyapanya. Entah kenapa ia tak tahu alasanya dan tak ingin tahu alasannya.

Gadis itu melangkah menuju perpustakaan sekolah. Langkahnya semakin pelan saat melihat deretan kelas di hadapannya. Dulu ia akan senang hati melewatinya. Dulu tanpa disuruh pun ia akan langsung pergi melewati deretan kelas di depannya. Tapi itu dulu. Sekarang rasanya ia ingin memutar jalan tetapi tak mungkin karena terlalu jauh. Atau hanya alibinya saja agar bisa melewati jalan ini lagi?

Hembusan nafas pelan keluar dari mulutnya. Kepalanya tegak lurus ke depan. Matanya fokus ke depan. Tak ingin melirik ke sebelah kanannya. Tak ingin berharap lagi.

"Airin!"

Baru melewati satu kelas, langkahnya terpaku. "Hei, Bay!"

Sang ketua OSIS yang memanggilnya menghampirinya. Susah payah Airin mengatur otot kakinya namun tetap beku. Tengkuknya merinding tanpa sebab. Tanda ada yang memerhatikan mereka.

"Tadi gue nyariin lo ke kelas. Terus liat lo lagi sama Gara. Jadi gue nyuruh Shinta buat manggil lo."

Dan entah untuk alasan apa laki-laki ini begitu enggan berada di dekat Gara. "Ada apa?"

"Gue mau minta tolong sama lo. Tapi gak disini. Kita ke perpus aja oke?"

♡_♡

"Kusut amat!" celetuk seseorang.

Akib menghentikan langkahnya tepat di tengah pintu rumah. Laki-laki itu memundurkan langkahnya dan tertegun saat melihat sosok laki-laki dewasa duduk santai sambil membaca koran di sebelahnya.

"Astaga ABANG!" serunya kemudian. Laki-laki itu terkekeh. Ia berdiri lalu memeluk adiknya. "Kok dateng gak bilang-bilang sih?!"

Laki-laki itu terkekeh. Laki-laki itu balas memeluk Akib sambil menepuk bahu adik kecilnya. Lalu melepasnya dan beralih menatap adiknya dari bawah sampai atas.

MascheravieleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang