Bagian 1

44 4 0
                                        

Surabaya, 18 september 2018

         Namaku launawati athaya wibowo. Aku berasal dari trenggalek, jawa timur. Aku kelahiran 18 september 2001. Aku kuliah di salah satu universitas yang ada di surabaya. Surabaya? Iyya aku pindah disurabaya semenjak ayahku cerai dengan istri pertamanya.
.
.
.
.
.
.
.
18 september? Yups benar Hari ini adalah hari dimana aku dilahirkan. Dan hari ini pula hari dimana umurku genap 17 tahun.
Pagi itu aku masih terlelap dengan mimpi yang masih melekat pada angan anganku, dan pada akhirnya jam beker yang berada disampingku berdering dengan kerasnya membuatku terbangun dan deringan itu membuatku sedikit kesal. setelah ituuuu..

"Unna, ih bangun napa! Unna? Bangun dong ini hari spesial buat kita berdua" kau tau siapa yang membangunkanku disaat masih terlelap ini? yups betul, siapa lagi kalo bukan kembaranku, Lailadewi Anatha Wibowo. Panggilan dia Ana panggilanku Unna, karakter kami sangat berbeda sekali. Kakakku lebih suka berpenampilan anggun dan feminim sekali sedangkan aku kebalikannya. Dia anak perempuan paling populair disekolah, sedangkan aku? Tidak, aku tidak mau populair seperti kakakku.
"Apasih kak? Aku masih ngantuk ini." ucapku dengan sedikit mengeliat.
"Hari ini ulang tahun kita. Kamu sudah lupa? Dan kau tidak mau sekolah hari ini?"tanya ana dengan nada tinggi dan menyibak selimut yang masih melekat ditubuhku.
"Iyya iyya aku ingat." ucapku sambil bangun lalu meninggalkan ana, dan bergegas menuju ke kamar mandi.
.
.
.
.
Dug~Dug~Dug.
Suara sepatuku yang menggema, membuat orang yang ada ditempat makan langsung memfokuskan sepasang mata mereka kepada anak tangga yang berada tidak jauh dari meja makan.
"Pagi unna"
Kedatanganku langsung disambut meriah oleh ibundaku tercinta.
"Pagi juga ma." lalu kusapa balik sang bunda.

Tak lama kemudian suara sepatu kembali terdengar, dan ternyata itu suara sepatu dari kakak iparku yaitu Dhanis Adhito Wibowo. Kak dhanis adalah anak papa dengan istri pertamanya, kak dhanis juga mempunyai kembaran sepertiku namanya daniel, akan tetapi dulu papaku menjual kak daniel karena sebuah hutang. Ibu mana yang rela jika anaknya dijual kepada orang lain. Dan pada akhirnya ibu dari kak dhanis ini mengalami gangguan jiwa.

"Pagi Dhanis, ini mama udah siap in sarapan kesukaanmu" Tawaran dari bundaku sama sekali tidak dijawab dengan kak dhanis. jangankan dijawab ia saja enggan untuk menoleh orang yang sedang menawari ia sarapan. Ia hanya memandang kedepan lalu berlagak  seakan akan ruangan itu tidak ada siapa siapa.
"Sudahlah ma, palingan kak Dhanis sarapan disekolah lagi." ucapku santai dengan sedikit mengoles selai pada roti tawarku.
"Tapi apa tiap hari Dhanis harus sarapan disekolah? Aku tidak tega jika ia sehari tidak makan." ucap bunda.
"Ahh mama ini terlalu perhatian pada kak Dhanis, kak Dhanis saja tidak pernah menggangap jika mama itu ada." jawabku dan langsung disaut oleh Ana.
"Hey unna, setidaknya loe tuh jangan nyakitin perasaannya mama yaa! Bicara yang sopan dong!" (Sedikit membentak)
"Apa an sih loe kak!~"  ucapan anna tadi langsung ku jawab akan tetapi bunda terlebih dahulu memotong kataku itu.
"Sudah sudah. Dihabiskan itu makannya" lalu tak lama bunda menyiapkan 4 kotak bekal lalu mengisi kota bekal tersebut.
.
.
.
.
"Hmm Anna, mama titip bekal buat Dhanis yaa. Tolong kasihkan pada dia" ucap bunda sambil menyodorkan sekotak bekal berisi Sandwids lezat bertabur wijen, eummm yummy:)
lalu tak sengaja papa mendengar percakapan anna dengan bunda.
"Eh Mama, Dhanis tadi tidak sarapan?"
"Biasalah pa kak Dhanis~" belum selesai aku bicara bunda selalu memotong pembicaraanku.
"Ahhh tidak sayang Dhanis tadi terburu buru ke kampus. Katanya ada rapat apa gitu, makanya aku bekalkan".
"Kamu memang handal dalam melayani dan merawat anak2 Terimakasih yaa sayang". Jawab papa lalu dijawab bunda dengan anggukan.
.
.
.
.
.
Jam yang menunjukkan 08.30 tepat waktunya jam pertama selesai. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengemas buku ku dan langsung bergegas ke perpustakaan. Tak peduli siapa yang memanggilku dari belakang, aku hanya melambaikan tangan pada orang yang memanggilku tersebut tanpa menolehnya.
Sesampainya di perpustakaan aku melihat seorang pria dengan banyak sekali tumpukan buku yang ada ditangannya, dan tak lama kemudian..
~Brukkk...

      "menjadi kepribadian yang berbeda dari orang lain itu istimewa:)"~UnnaAthaya.

jangan lupa Vote dan komen gais💙

SecretTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang