"𝐃𝐞𝐯𝐢𝐥 𝐢𝐬 𝐧𝐨𝐭 𝐚𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥, 𝐡𝐞 𝐚𝐥𝐬𝐨 𝐡𝐚𝐬 𝐚 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 𝐭𝐨 𝐥𝐨𝐯𝐞"
•••
Alessandra Castillo hanyalah boneka hidup dalam sangkar emas-dipenjara oleh ayah kandungnya sendiri yang haus kekuasaan dan tak segan me...
Warning ⚠️: Cerita ini mengandung kata-kata kasar, kekerasan, dan seks. Tidak dianjurkan untuk pembaca di bawah umur. Only 21+
◍◍◍
Beautiful like Her Mother, Ruthless like Her Father
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tuscany, Italia
Langit sore menggantung rendah di atas bukit-bukit hijau yang mengelilingi vila keluarga Castillo. Burung-burung camar melintasi udara, seolah tak terganggu oleh keheningan megah yang menyelimuti halaman rumah mewah bak istana kerajaan. Tapi bagi Alessandra Castillo, kemegahan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi bau busuk dari sebuah penjara.
Meski langit Tuscany memamerkan lukisan senja yang sempurna, Alessandra tetap merasa seperti terperangkap dalam bingkai lukisan yang tak bisa ia hancurkan.
Gadis itu berdiri di balkon kamarnya yang luas, memandangi matahari yang perlahan tenggelam di balik pohon zaitun. Gaun satin warna maroon membalut tubuhnya dengan sempurna, rambut panjang bergelombangnya dibiarkan tergerai ditiup angin. Tapi di balik wajah cantik dan tubuh anggun itu, ada badai yang terus bergemuruh—badai yang telah tumbuh sejak hari ibunya pergi tanpa kabar.
Dia menghela napas panjang. Seharusnya hidupnya sempurna. Putri tunggal seorang pengusaha sukses. Warisan, kekayaan, popularitas—semua dalam genggaman. Tapi siapa peduli dengan semua itu ketika hatinya hampa?
Alessandra menarik satu batang rokok dari dalam laci meja rias, menyalakannya, dan membiarkannya menggantung di antara jemari yang dicat merah gelap.
"Kalau mommy masih di sini... pasti semuanya akan berbeda," bisiknya lirih, matanya memandang ke bawah. Jauh di taman, terlihat ayahnya sedang berbicara dengan seseorang. Gestur tubuhnya—dingin dan mengancam.
Ia mengingat dengan jelas bagaimana semuanya berubah sejak perceraian itu. Sejak ibunya menghilang tanpa jejak, dan ayahnya menikahi seorang janda sosialita yang lebih mencintai uang daripada anak tirinya. Sejak saat itu, Alessandra belajar satu hal, kelembutan adalah kelemahan.
Dia bukan gadis kecil manja lagi. Ia telah tumbuh menjadi wanita yang tahu bagaimana caranya melukai lebih dulu sebelum dilukai. Tersenyum di depan kamera, lalu menghancurkan reputasi orang di belakang layar. Dan yang terpenting—tak pernah tunduk pada siapa pun, bahkan pada ayah kandungnya sendiri.
Alessandra menyentuh rantai emas kecil di lehernya. Liontin kecil berbentuk bulan sabit tergantung di sana—satu-satunya peninggalan ibunya.
Ia melangkah kembali ke dalam kamar. Lantainya marmer dingin, tirai-tirai mahal melambai ditiup angin. Setiap sudut ruangan itu dipenuhi benda-benda berharga: lampu gantung kristal, rak buku antik, lukisan klasik tapi semuanya terasa asing. Seolah benda-benda itu bukan miliknya. Seolah hidupnya pun bukan miliknya.
Ia duduk di ujung ranjang, menyalakan tablet dan membuka artikel berita gosip tentang dirinya yang baru saja keluar dari pesta semalam—sendirian, mengenakan gaun ketat, dan dikabarkan dekat dengan aktor muda.