"𝐃𝐞𝐯𝐢𝐥 𝐢𝐬 𝐧𝐨𝐭 𝐚𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥, 𝐡𝐞 𝐚𝐥𝐬𝐨 𝐡𝐚𝐬 𝐚 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 𝐭𝐨 𝐥𝐨𝐯𝐞"
•••
Alessandra Castillo hanyalah boneka hidup dalam sangkar emas-dipenjara oleh ayah kandungnya sendiri yang haus kekuasaan dan tak segan me...
Warning ⚠️: Cerita ini mengandung kata-kata kasar, kekerasan, dan seks. Tidak dianjurkan untuk pembaca di bawah umur. Only 21+
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamar itu terlalu mewah untuk disebut penjara—tapi bagi Alessandra Castillo, itulah kenyataannya.
Langit-langit berlukiskan mural, lampu kristal yang berkilauan, dan furnitur bergaya Prancis tak mampu menyembunyikan fakta bahwa ia tengah dikurung. Dua bodyguard berdiri seperti patung di depan pintu, nyaris tak berkedip. Ponselnya telah disita, Wi-Fi sengaja diputus, dan semua bentuk komunikasi dengan dunia luar dimatikan.
Ia berdiri di balkon, tubuhnya dibalut gaun sutra biru tua yang tak lagi ia pedulikan. Angin malam Tuscany menyapu lembut rambutnya yang hitam legam, tapi tak mampu menenangkan gejolak dalam dadanya. Cahaya bulan menari di iris mata hazelnya yang menyimpan amarah dan luka.
"Dunia ini terlalu kejam untuk wanita lembut, Alessandra. Tapi kamu tidak harus jadi seperti itu."
Suara mamanya bergema dalam pikirannya, samar-samar seperti nyanyian nina bobo dari masa silam.
Lucu. Wanita lembut? Itu sudah mati sejak malam mamanya pergi, diusir dari rumah ini seperti sampah tak berguna—dan Alessandra, putri satu-satunya, tak diberi kesempatan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal.
Sejak saat itu, ia belajar bahwa kelembutan adalah kelemahan. Dan kini, kelemahan adalah kemewahan yang tak bisa ia miliki.
Matanya menatap horizon jauh di balik pagar-pagar besi tinggi yang mengelilingi vila. Dunia luar tampak begitu bebas, sementara ia tetap menjadi boneka dalam sangkar emas.
Namun boneka pun bisa belajar menggigit... saat cukup terluka.
Pintu kamar berderit pelan—hanya satu orang yang berani membuka pintu itu tanpa takut pada dua bodyguard di luar. Luisa.
"Masih meratapi nasib, kakak manja?" Suaranya ringan, penuh ejekan seperti biasa, sementara tumit sepatu stilettonya berdetak tajam di lantai marmer.
Alessandra tidak menoleh. Ia masih memandangi langit malam, seolah Luisa tak lebih dari debu yang beterbangan. Tapi diamnya bukan karena takut—melainkan karena terlalu lelah untuk berpura-pura peduli.
Luisa berjalan mendekat, menyilangkan tangan di dada sambil bersandar di bingkai balkon. Rambut pirangnya digerai rapi, dan bibirnya merah menyala seperti darah segar.
"Daddy benar-benar marah, kamu tahu? Aku bahkan belum pernah melihatnya seterganggu itu... hanya karena kamu kedapatan pesta dengan aktor kelas dua." Ia tertawa kecil, sinis. "Kau memalukan sekali, Alessandra."
Alessandra akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tenang, dan sangat berbeda dari dulu—seperti ombak yang tampak tenang, tapi siap menghantam kapan saja.
"Aku tidak butuh kuliah moral dari gadis yang seluruh hidupnya dibayar dengan uang ayahku," balasnya datar.