"𝐃𝐞𝐯𝐢𝐥 𝐢𝐬 𝐧𝐨𝐭 𝐚𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥, 𝐡𝐞 𝐚𝐥𝐬𝐨 𝐡𝐚𝐬 𝐚 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 𝐭𝐨 𝐥𝐨𝐯𝐞"
•••
Alessandra Castillo hanyalah boneka hidup dalam sangkar emas-dipenjara oleh ayah kandungnya sendiri yang haus kekuasaan dan tak segan me...
Warning ⚠️: Cerita ini mengandung kata-kata kasar, kekerasan, dan seks. Tidak dianjurkan untuk pembaca di bawah umur. Only 21+
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Deru langkah kaki dan suara hak tinggi bergema di sepanjang lorong marmer. Carla muncul di ambang pintu kamar Alessandra, disusul oleh dua wanita elegan berbalut serba hitam—makeup artist profesional langganan sosialita Roma.
"Ayo, kita tak punya banyak waktu," ujar Carla tegas, melirik Alessandra yang duduk di kursi dekat balkon, matanya menatap kosong ke arah langit malam.
"Aku tidak akan menghadiri perjodohan itu," kata Alessandra pelan, nyaris seperti gumaman. Tapi tatapan matanya tajam, menolak. "Dan aku tidak akan kau dandani seperti boneka bodoh di pesta sirkusmu."
Carla menghela napas panjang, lalu memberi isyarat kepada dua bodyguard yang sejak tadi berjaga di depan pintu. "Pegang dia. Lakukan apa pun, tapi pastikan dia duduk manis selama mereka bekerja."
"Apa? Jangan sentuh aku!" Alessandra memberontak, berusaha melawan, menendang dan mencakar. Tapi dua tubuh besar pria itu terlalu kuat. Mereka menekannya ke kursi rias.
"Aku akan membunuhmu, Carla!" teriak Alessandra sambil meronta.
"Dan aku sudah terbiasa mendengar ancaman dari mulut kasarmu itu," jawab Carla dingin. "Tapi malam ini kau akan tampil sempurna, Alessandra. Sebab dunia akan melihatmu bukan sebagai anak pemberontak, tapi sebagai wanita yang akhirnya tahu tempatnya."
Makeup artist mulai bekerja, tangan mereka profesional meski tubuh Alessandra terus berguncang karena emosi. Beberapa kali mereka saling bertukar pandang, tapi tetap melanjutkan tugas.
Belum lama berselang, pintu terbuka kembali. Luisa masuk sambil mengibaskan rambut panjangnya yang ikal. Senyumnya manis, tapi mengandung racun. Ia berdiri di ambang pintu, menyaksikan adegan memilukan itu seolah sedang menonton drama favoritnya.
"Aku hanya ingin memastikan kabar itu benar," katanya sambil melipat tangan di dada. "Ternyata benar. Gaun merah, riasan mahal, dan kamu duduk seperti budak di kursi eksekusi."
Alessandra menatapnya lewat pantulan cermin. "Pergi dari sini, Luisa."
"Tapi bagaimana mungkin aku pergi tanpa memberikan ucapan selamat?" ujar Luisa manis. "Kau akan menikah dengan pria berusia lima puluhan yang punya tiga cucu. Wah, hidupmu benar-benar... tragis. Muda, cantik, liar... dan berakhir jadi pajangan tua bangka menjijikkan. Sungguh kisah cinta modern."
Alessandra hanya diam, rahangnya mengeras.
"Kau tahu, kupikir kau akan jadi sesuatu yang luar biasa. Tapi ternyata kau hanyalah gadis kecil yang akhirnya tunduk juga pada permainan ayahmu sendiri," lanjut Luisa sambil terkikik. "Kalau kau menangis malam ini, jangan lupa minta tisu dari Benedetto. Katanya dia suka wanita muda yang... basah air mata."
"Luisa!" tegur Carla tajam, mencoba menjaga suasana.
Namun Luisa hanya mengangkat bahu. "Aku hanya bercanda, Mom. Lagi pula, kupikir ini malam yang pantas untuk sedikit humor, bukan?"