"𝐃𝐞𝐯𝐢𝐥 𝐢𝐬 𝐧𝐨𝐭 𝐚𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 𝐜𝐫𝐮𝐞𝐥, 𝐡𝐞 𝐚𝐥𝐬𝐨 𝐡𝐚𝐬 𝐚 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 𝐭𝐨 𝐥𝐨𝐯𝐞"
•••
Alessandra Castillo hanyalah boneka hidup dalam sangkar emas-dipenjara oleh ayah kandungnya sendiri yang haus kekuasaan dan tak segan me...
Warning ⚠️: Cerita ini mengandung kata-kata kasar, kekerasan, dan seks. Tidak dianjurkan untuk pembaca di bawah umur. Only 21+
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alessandra membuka matanya dengan berat, bantalnya basah oleh sisa air mata semalam. Sinar mentari pagi yang menembus tirai tipis tampak begitu kontras dengan kekacauan batinnya. Kamar itu—yang dahulu terasa seperti surga mewah—kini tak lebih dari penjara berlapis emas.
Ketukan pelan di pintu tak mengusik suasana. Tak lama kemudian, Carla masuk dengan nampan berisi sarapan dan senyum hambar yang dipaksakan.
"Aku bawa sarapan. Ayahmu ingin kau makan sesuatu," ucapnya lirih, meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela.
Carla baru saja meletakkan nampan di atas meja saat suara tajam terdengar dari ranjang.
"Kau tidak perlu pura-pura peduli, Carla. Kau bukan ibuku."
Wanita paruh baya itu terdiam sejenak, lalu membalikkan badan, menatap Alessandra yang masih duduk di tepi ranjang dengan wajah dingin.
"Aku tidak pernah berniat menggantikan posisi ibumu," ucap Carla pelan, berusaha menjaga ketenangan meski suara gadis itu bagai duri di telinga.
"Tapi kau dengan senang hati tidur di ranjangnya, bukan?" Alessandra menyeringai. "Jangan sok suci. Aku tahu siapa kau sebelum menikah dengan Emilio Castillo."
Carla menelan ludah. Sudah bertahun-tahun ia mendengar kalimat seperti itu dari Alessandra. Dan setiap kali, rasa sakitnya tetap sama.
"Apa yang kau cari dari semua ini? Kekuasaan? Nama besar Castillo? Atau... mungkin kau hanya ingin anakmu, Luisa, punya warisan yang sama denganku?"
Carla berdiri diam. Kepalanya tertunduk sedikit. Napasnya bergetar, tapi ia tetap menahan emosi.
"Makanlah sebelum dingin. Aku akan menyuruh pelayan datang kembali nanti untuk membersihkan."
Alessandra tak bergeming. Pandangannya kosong, tertuju ke luar jendela seolah Carla tak pernah ada.
Carla menarik napas panjang, mencoba bersikap netral. "Malam ini... ayahmu ingin semua berkumpul untuk makan malam. Hanya kita berempat. Tak bisa ditolak."
Alessandra menoleh perlahan, matanya menyipit curiga. "Apa ini tentang pesta kemarin?"
Carla tak menjawab. Ia berbalik meninggalkan kamar, tapi sebelum pintu tertutup, Alessandra sempat berkata, "Jangan terlalu berharap aku akan patuh malam ini. Seperti kau, aku juga tahu caranya bertahan di neraka ini—dengan caraku sendiri."
Dan pintu pun tertutup dengan pelan, menyisakan Carla di luar dengan wajah yang menyimpan luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.
Lampu gantung kristal berkilau di atas meja makan panjang yang telah ditata sempurna. Lilin-lilin ramping menyala tenang di ujung meja, menyatu dengan aroma makanan mewah yang menguar dari dapur.