Setitik cahaya lentera berusaha keras untuk menunjukkan terangnya dengan memancar sedikit lebih terang melalui celah - celah kegelapan. Dengan tertatih - tatih Darini yang kini usianya sudah tidak muda lagi menerjang kegelapan bersama lenteranya. Yang ada didalam pikiran Darini saat ini hanyalah bagaimana cara untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik, seperti kasus - kasus yang pernah ia tangani sebelumnya. Mungkin benar, dikasus - kasus Darini yang sebelumnya ia dibantu oleh teman - teman seperkumpulannya, tapi kali ini ia benar - benar sendiri dalam menangani kasus yang datang padanya. Dalam rentetan histori kasus yang pernah Darini tangani, kasus kali ini adalah kasus yang paling berat dan sangat melelahkan, terlebih lagi Darini harus menanganinya seorang diri. Tapak demi tapak dipijaki oleh kaki Darini dengan tetap menggenggam lentera di tangannya. Hingga pada akhirnya langkahnya terhenti disebuah pintu masuk yang menuju kearah hutan. Merasa kehilangan jejak Darini pun berteriak "Jarimaaahh!!".
Suara sambaran petir mulai terdengar jelas dan bersautan seakan sedang melakukan perdebatan. Suara - suara burung gagak yang melintasi langit - langit hutan menambah seram suasana pada malam itu. Darini terus mengejar Jarimah hingga kedalam hutan dan tak peduli akan cuaca yang pada saat itu sedang hujan deras dan kondisi tanah berlumpur. Seakan melupakan resiko - resiko buruk yang dapat menimpanya secara tiba - tiba. Darini terus menyingkirkan semak - semak yang menghalangi jalannya. Padahal binatang - binatang buas juga bisa kapan saja menyerangnya. Entah apa yang membuat Darini se nekat itu untuk mengatasi kasusnya kali ini. Padahal di usianya saat ini dia seharusnya di rumah saja dan bersantai menikmati sisa - sisa hidupnya. Ketika sampai di tengah - tengah hutan, tiba - tiba Darini menghentikan langkahnya dan mulai berpikir sehat. Darini sadar kalau ia telah terlalu jauh melangkah tanpa membawa persiapan yang matang dan hanya menuruti emosinya saja, pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah Kirana.
Biasaya Darini tidak pernah se-frontal ini dalam menagani kasus - kasus sebelumnya, kali ini dia tampak sangat total dan tidak lagi santai karena Darini tahu bahwa yang sedang ia hadapi saat ini adalah Jin yang sudah dalam level atas dan harus mengeluarkan tenaga yang ekstra untuk mengatasinya. Tanpa ketukan pintu Darini langsung masuk kedalam rumah dan langsung menemui Kirana dengan masuk dari ruang ke ruang hingga pada akhirnya Darini menemukan Kirana sedang berada di kamarnya. Kirana terlihat sedang berkerubutan dengan selimut sambil menangis di pojokan kamarnya. Darini masuk dan langsung berceloteh "Aku kehilangan jejaknya lagi! Ayo cepat ikut aku!" Darini merasa butuh persiapan yang lebih dan tidak hanya sekedar mengejar, melainkan dia juga harus membuat jebakan untuk mengelabuhi Jarimah.
Mendengar perkataan Darini, Kirana pun tambah panik dan sambil menangis memohon kepada Darini "Darini Darini..! Aku mohon tolong bantu temukan Rafly!". Darini tak banyak berucap, dia terus bertindak demi menemukan anak sahabatnya yang pada waktu itu diculik oleh Wewe Gombel yang dikenal dengan nama Jarimah. Darini menuju arah dapur untuk mengambil benda - benda yang menurutnya akan berguna. Melihat itu, Kirana sedikit bertanya - tanya.
"Untuk apa?" Tanya Kirana kebingungan. Kirana mungkin kerap mendengar dari masyarakat sekitar soal sosok Wewe Gombel, namun selama ini dia tidak terlalu mempercayainya dan Kirana belum pernah mendengar soal alat - alat dapur seperti panci, wajan dan yang lainnya sering digunakan warga untuk membuat sebuah musik perkusi untuk membuat sesosok Wewe Gombel menari.
"Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya Kirana! Ayo cepat berangkat! Ini sudah hari ketiga semenjak anakmu dibawa oleh makhluk itu!" Darini menyadari, cerita - cerita dari masyarakat bukanlah omong kosong belaka. Pada hari itu adalah hari ketiga semenjak Rafly dibawa oleh Jarimah, dan kemungkinan besar ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk menyelamatkan sebelum Rafly bernasib sama seperti anak - anak yang lain.
Darini melanjutkan aksinya dengan menggunakan lima arah mata angin untuk mencium jejak keberadaan Rafly. Malam itu juga Darini dan Kirana sampai pada sebuah hutan dimana tempat berhentinya penciuman Darini. Menurut mitos yang beredar di kalangan warga, jika seorang anak kecil diculik oleh sesosok Wewe Gombel lebih dari tiga hari maka anak yang diculik tersebut matanya akan dicongkel dan dijadikan sup mata favoritnya dan jasad anak yang diculik tersebut biasanya akan dikembalikan dengan keadaan tanpa nyawa. Pada hari itu adalah tepat pada hari ketiga semenjak Rafly diculik. Mungkin cerita - cerita semacam itu yang membuat Kirana sangat panik sehingga dia memanggil sahabat lamanya yang sudah dikenal mempunyai kemampuan yang mumpuni untuk menangani kasus - kasus semacam ini. Dan mungkin kali ini mereka lebih siap untuk mengatasi kasus ini dengan membawa peralatan - peralatan yang dipercaya oleh masyarakat ampuh untuk melepaskan anak - anak yang baru diculik dari cengkeraman Wewe Gombel. Alat - alat tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah semacam benda - benda yang terbuat dari logam, besi atau aluminium yang ketika diketuk dapat berbunyi nyaring, contohnya adalah barang - barang dapur seperti panci, wajan, loyang, dll. Sebenarnya Kirana langsung melaporkan kasus semacam ini kepada Darini jauh - jauh hari sebelum kasus Rafly diculik. Memang, keluarga Kirana akhir - akhir sedang mengalami permasalahan besar dengan sosok tersebut hingga membuatnya sangat menderita.

YOU ARE READING
Segel - Kehadiran Sang Pembangkit
Horor#1 Horror Musical Rythm [Akan divisualisasikan dalam bentuk novel dan film] ********************************* Sekar sedang berusaha membebaskan kutukan yang menimpa keluarganya. Kutukan tersebut dibuat oleh sesosok Jin yang berwujud Wewe Gombel yang...