Si JKT -Kala Itu

5 4 0
                                    

Kamu duduk di kursi paling belakang. Diam. Membisu. Tidak terlihat ingin berbaur dengan lingkungan sekitar.
Aku hafal namamu, kota asalmu. Tapi, aku tak tahu apa-apa tentang dirimu.
Kita hanya sesekali berkomunikasi, jika tidak ditanya kamu hanya tetap diam. Aku tak tahu, apakah kamu memang pendiam atau kamu diam karena tidak cocok dengan lingkungan baru. Sebab ku tahu pasti bahwa lingkungan di tempat ini jelas berbeda dengan tempat asalmu.

Kala itu, aku banyak berbincang dengan teman-teman, membicarakan apapun, dan siapapun. Sesekali kita bersitatap, dan aku menganggap hal itu biasa. Kamu diam, saking diamnya, tatapanmu saja ikut-ikutan membisu. Tapi pernah, aku mencoba untuk menanyakan sesuatu padamu, tidak tahu tujuanku untuk apa, aku sendiri pun heran. Yang kuingat saat itu adalah tatapanmu yang tersirat penuh makna, intonasi bicaramu buat hatiku damai, bahkan sesering pengulangan kata yang kamu ucapkan tetap terjaga lembut, hampir membuat sesuatu di diriku terpeleset, kemudian aku bertanya-tanya, namun tidak sampai lama aku mengabaikan itu semua.

Kala itu, adalah aku yang tak tahu menau soal penyampaian rasa, yang kutahu adalah diam artinya hanya diam, mencoba mendekati artinya menyukai, sebatas itu. Ya, aku yang naif.
Sampai kemudian aku sadar bahwa diam-mu bisa jadi artinya mencoba menahan rasa, sulit mengungkapkan, bingung memulai dan hanya sebatas memperhatikan. Sementara mendekati belum tentu menyukai, bisa jadi hanya sebatas mencari kesenangan sendiri.

Kala itu, hal yang paling membuatku merasa hangat adalah, bagaimana kamu merasa geram dan membiarkanku lepas dari jeratan teman-teman sialanmu itu. Aku pergi tanpa memikirkan kejanggalan.
Dan yang membuatku terasa perih adalah ketika berbulan-bulan terlalui, kita sudah tak lagi komunikasi, bahkan berjumpa. Ungkapan dari temanku mencubit hati.

Kala itu, kamu menatapku, dari sudut yang hampir tak terlihat, memandangiku dengan tatapan sendu. Yang membuat perih adalah manik mataku pun sendu namun terarah pada sosok lain, dan kamu tepat menatapku dalam situasi pilu itu. Ini adalah rasa yang sama, yang kala itu tengah kurasakan juga. Namun sayangnya semesta membiarkan garis kita bertepuk sebelah tangan.

Lalu bagaimana? Apakah aku menyukaimu, aku tak tahu.
Yang kutahu, kamu hanyalah salah satu bagian dari prosesku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 01, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Tentang RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang