Jiwaku teperangkap dalam pulau di tengah samudra.
Arwah berjalan dengan jiwa tanpa perasaan mengurungku disini.
Adakah gunanya aku berteriak?
Apakah aku akan di dengar?
Cukup sudah aku menahan runtuhnya tebing yang penuh murka.
Jika perlu,
hantam saja pulau ini dengan beribu ombak hingga tenggelam!
Supaya tangisanku bercampur bangkai dan membusuk tanpa perlu tercium kemanapun.
Tenggelam, hanyut, menghilang, lalu dilupakan—
Mungkin benar,
—Jika setiap jiwa diciptakan untuk menyakiti jiwa yang lain.
Menghidupkan rasa sendiri,
mematikan kehidupan pulau ini.
Bahkan hewan pasti tidak ingin terlahir kembali menjadi jiwa-jiwa seperti kita.
Jiwa yang takut untuk salah—
Namun selalu ingin dibenarkan.
Memang sudah gila.

KAMU SEDANG MEMBACA
KOTA PENUH KATA
PoetryMewadahi imajinasi dan menumpahkannya lewat tulisan. [Seluruh puisi yang aku tulis di "KOTA PENUH KATA" adalah puisi original bikinan @buckroseason alias diriku sendiri] Diingatkan bahwa : Aku belum bisa membuat karya puisi sehebat Chairul Anwar ata...