3

17.4K 1.5K 92
                                        

Aku diam terpaku melihatnya. Haruskah aku berteriak?

Tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Hanya ada aku, makhluk setengah ikan itu dan desau angin serta ombak meramaikan keheningan kami. Langit mulai semakin gelap, menciptakan kontras dengan warna matanya yang semakin bercahaya.

Jika aku mundur, maka akan sangat tanggung. Tentu saja aku sebetulnya takut berhadapan dengan siluman ikan dengan ukuran seperti hiu ini. Meski begitu, kuakui rasa penasaranku juga meningkat drastis.

Aku menurunkan tubuhku perlahan selagi dia masih tetap menatapku tajam. Perlahan tanganku terulur untuk menyentuh wajahnya yang bersisik halus. Namun, sebelum tanganku sampai pada kulit bersisik itu, tangannya menahan tanganku.

Tangan itu mencengkram pergelanganku dengan kulit licinnya. Meski licin, cengkramannya kuat. Detik itu juga aku tahu kalau kekuatannya bukan kekuatan manusia. Aku meringis, tetapi hal itu tidak menghentikan tangannya menarikku lebih mendekat.

Aku pun jatuh tertarik. Kini posisiku sangat dekat dengan dadanya. Udara tertarik dan terhembus melewati insangnya yang pas sekali di depan wajahku. Aku bisa melihat dari jarak yang luar biasa dekat, pigmen kulitnya yang kebiruan ditutupi sirip kehijauan.

Sungguh, dia bukan manusia. Dia seperti lautan samudra.

Aku menoleh ke atas dan mendapati dia sedang memperhatikan dengan jeli tangan manusiaku. Dari telapak ke punggung tanganku, lalu dia mendekatkannya pada hidungnya dan mengendus tanganku. Wajah tampannya tampak polos, persis seperti ekspresi manusia yang sedang melihat sesuatu yang baru. Menggemaskan.

Tunggu, aku kenapa?

"Kyaaa!" aku menjerit saat dia membuka mulutnya ingin memasukan tanganku ke dalamnya.

Kulihat dia tersentak kaget dan langsung waspada saat mendengar jeritanku yang lumayan dekat dengan telinganya. Aku menarik tanganku cepat sebelum dia memakannya dan berdiri. Di seberangku kini makhluk itu tampak marah. Dia menunjukan taring-taringnya, serta tulang-tulang tajam bagai tanduk ramping di siripnya berdiri. Siap untuk mencabikku jika aku menyakitinya.

"Tunggu! Aku gak marah! Kamu yang mau makan tanganku!" belaku, sewot.

Tetapi dia yang-aku-tak-tahu-mengerti-atau-tidak-ucapanku justru semakin waspada saat aku membentaknya. Selangkah aku maju, maka tanduk di siripnya itu semakin tinggi. Selangkah aku mundur, tanduk itu menurun. Ini seperti berhadapan dengan balita ngambek saja. Padahal aku hanya penasaran dengannya.

"Oh! Sebentar, tunggu ya!" aku mendapat ide. Kulemparkan senyum terakhir padanya sebelum meninggalkan dermaga untuk kembali ke rumah. Aku tidak tahu reaksinya apa saat aku tersenyum padanya. Kuharap dia bisa mengerti jika aku berusaha ramah dan tidak meninggalkan dermaga dulu.

Sampai rumah dengan cepat aku berlari ke kulkas dan mengambil selembar roti gandum. Aku tidak terpikir untuk mencari hal lain, aku takut terlalu memakan waktu dan dia terlanjur pergi. Jadi, setelah selembar roti itu sudah di tanganku, aku kembali bergegas ke dermaga.

Aku berlari dan mendapati siluet ikan besar itu masih di dermaga disinari bulan. Menyadari aku semakin mendekat, dia kembali pada posisi waspadanya. Taringnya terlihat lagi dan tulang-tulang itu mengancam.

Saat jarakku dengan dia hanya kurang dari dua meter, aku pun berlutut dan merobek roti itu. Robekan yang lebih kecil segera kusodorkan padanya tanpa pikir panjang.

"Ini... makanlah..." pintaku penuh harapan.

Namun mata kuning itu menatap nanar roti itu. Memang untuk sesaat dia terlihat bingung hingga taring-taring itu tertutup, tetapi sepertinya kecurigaan muncul lagi. Dia kembali menggertakku dengan taring dan tanduk siripnya.

The Male SirenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang