Menjelang pernikahan, (Namakamu) sama sekali tidak bisa kemana-mana selain menghabiskan semua waktunya di kamar tidurnya saja. Abi dan Umi sengaja bersekongkol supaya (Namakamu) tidak bisa main keluar apalagi pulang pagi seperti yang biasa dia lakukan. Ini bukanlah kabar baik, bukan pula kabar yang buruk.
Buku-buku tebal tampak berserakan di atas kasur. (Namakamu) yang mulai merasa bosan, membanting buku ditangannya asal lalu mencebik serays mendengus keras. Hari ini benar-benar menyedihkan. Tidak ada yang bisa perempuan itu lakukan selain diam di kamar dengan buku bacaan yang membuat kepala (Namakamu) cenat-cenut. Handphonenya di sita oleh Abi Rasyid, sementara Umi Shofa terus saja memberikannya buku-buku tebal dimana isinya adalah tips dan trik bagaimana menjadi seorang istri yang baik.
(Namakamu) sadar betul kalau dia memang bukan anak baik. Tapi untuk menjadi istri yang baik (Namakamu) tidak perlu buku panduan seperti ini. Sangat menyusahkan. Lagipula sejak kecil, (Namakamu) sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Umi memperlakukan Abinya dengan baik. Hingga di umur (Namakamu) yang ke 25 ini, pernikahan Umi Shofa dan Abi Rasyid masih berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang berubah. Masih sama bahagianya.
“Umi, aku pengen keluaar. Bosen atuh diem di kamar terus mah.” Rengeknya setelah memutuskan untuk turun ke bawah dan menemukan Umi sedang berkutat di dapur.
Pintu kamar (Namakamu) memang tidak di kunci. Hanya akses keluar rumah saja yang tidak diberikan oleh Abi dan Uminya.
“Mau ngapain kalo keluar? Iya kalo keluarnya mau pergi ke masjid, ini mah pasti ke tempat tongkrongan terus ngabisin waktu nggak jelas. Udah di rumah aja! Besok kamu mau nikah, takut di culik kalo kamu keluar-luar!”
(Namakamu) membuka matanya lebar-lebar saat mendengar perkataan Umi Shofa.
“Iih Umiii..” (Namakamu) semakin merengek dan menghampiri Umi Shofa yang sedang memotong-motong sayuran. “Aku tuh mau ke salon, Umi. Mau perawatan dulu sebelum nikah besok. Masa Umi tega biarin aku jelek bin udik pas besok ketemu Iqbaal dipelaminan? Kan nggak asik.”
Umi Shofa melirik ke arah (Namakamu) dan menatapnya jahil.
“Lagian, Iqbaal tuh gantengnya pake banget, Umi. Bening banget wajahnya, masa Umi tega biarin aku kalah bening sama Iqbaal? Boleh ya Umi, sekali aja kok. Habis nyalon, aku langsung pulang deh.”
Terus saja perempuan itu mengoceh dengan harapan Umi Shofa mengijinkannya pergi keluar rumah.
“Belum apa-apa sudah buat dosa kamu!” Sungguh jawaban yang tidak diduga oleh (Namakamu).
“Lah, apanya sih yang dosa? Aku ’kan cuma bilang faktanya Umi.”
“Tapi itu sama aja kamu mendekati zina. Zina pikiran juga bisa bikin kamu dosa! Astagfirullah, kamu itu ya! Tinggal sehari lagi, apa susahnya sih diem di rumah aja?”
“Dih, kemarin zina mata, sekarang zina pikiran.” Decak (Namakamu) kesal mengetahui seberapa agamis orang tuanya ini. “Dosanya sekarang aja, Umi. Besok mah udah sah, nggak bakalan ada lagi namanya dosa karena zina-zinaan!”
Umi Shofa tertawa kecil mendengar (Namakamu) yang mulai marah-marah.
“Udah ah! Aku balik lagi ke kamar aja. Percuma mau ngerengek sampe subuh juga nggak bakal di dengerin Umi sama Abi.”
Sebelum pergi, (Namakamu) mencomot gorengan yang ada di atas meja dan memakannya sambil berjalan meninggalkan ruang makan. Salah sendiri tampak menggoda.
“Assalamu’alaikum!” Salamnya dengan ketus.
“Wa’alaikum salam.” Umi Shofa menjawab dan kembali tertawa kecil melihat tingkah anak perempuannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Husband
Fanfiction"I ain't gonna married except I found a perfect guy to be my husband like him." (Third series of Happy Perfect Marriage Series)
