PART 4 - HOW SWEET

1K 165 27
                                        

(Namakamu) terbangun ketika cahaya matahari memaksa untuk menerobos kelopak matanya yang masih ingin terpejam. Sambil terkantuk-kantuk, (Namakamu) sedikit membuka kelopak matanya untuk memastikan sesuatu. Oh sudah pagi ternyata. Dalam hati, (Namakamu) sudah menghitung mundur karena sebentar lagi kedua telinganya akan mendengar ceramah rutin Umi Shofa yang menggema hebat sampai-sampai mampu merobohkan semua rasa kantuknya.

"Sudah bangun 'kah kamu?"

Tapi, setelah hitungan mundurnya berakhir, (Namakamu) justru bingung mendengar suara Umi Shofa yang sangat macho. Apa mungkin ini di rumah saudaranya? Yang (Namakamu) ingat, semalam ada pesta pernikahan besar-besaran yang membuat tubuhnya teramat kelelahan. Lalu, tiba-tiba saja (Namakamu) sudah resmi menjadi seorang istri dalam waktu kurang dari satu hari.

Istri? Kalau (Namakamu) seorang istri, seharusnya suara macho nan seksi tadi adalah milik suaminya. Benar 'kan?

Jadi...

"(Namakamu), kalau merasa silau, segera bangun daripada mengerungkan alis seperti itu," Kata suara itu lagi yang untuk kali ini membuat mata (Namakamu) terbuka sempurna dan tubuh yang sukses terbangun dari posisi tidur.

"Loh, kok?!"

Wajah terkejut (Namakamu) disertai gaya khas bangun tidurnya yang berantakan menjadi pemandangan pertama yang Iqbaal lihat pagi ini setelah berubah status menjadi seorang suami. Sepertinya kesadaran (Namakamu) masih belum terkumpul semua hingga membuatnya linglung seperti ini.

"Aku suami kamu, (Namakamu). Kenapa kaget begitu?" Iqbaal tersenyum menahan tawa.

Iya, itu Iqbaal, suaminya. Batinnya berteriak meyakinkan. Tapi Iqbaal yang kemarin dengan yang sekarang tampak berbeda. Iqbaal yang sekarang jauh lebih tampan dari yang semalam. Entah alasannya apa, (Namakamu) bingung. Apa mungkin ini efek setelah sholat subuh yang sempat (Namakamu) lewatkan? Atau mungkin karena peci hitam yang dipakai di atas kepalanya? Baju koko putihnya mungkin? Atau bibirnya yang keliatan agak kemerahan setelah terkena air wudhu?

Belum sempat memaklumi keterkejutannya, dengan gayanya yang tenang, pria itu malah mendekat dan duduk tepat di sebelah (Namakamu). Membuat jantung (Namakamu) semakin berdebar karena kini suaminya itu malah menambah kadar ketampanannya dengan tersenyum.

Astaga, Umi! Lihat suami ganteng begini sama-sama bahayanya dengan omelan Umi! Nggak baik buat jantung!

“Tidurmu nyenyak semalam?" Tanpa disangka-sangka, Iqbaal kembali bertanya sambil mengusap puncak kepala (Namakamu).

Dan (Namakamu) merasa otaknya mulai konslet sekarang.

"Aku banyak gerak ya pas tidur?" Balasnya dengan tanya.

Iqbaal menggeleng. "Justru karena kamu diem dan nggak banyak gerak, aku pikir kamu nggak bisa tidur semalam."

Perhatian sekali suaminya ini. Jadi malu.

"Sampai susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh," Lanjutnya dan langsung membuat pipi (Namakamu) merah padam. Yang awalnya hanya malu biasa, berubah menjadi memalukan.

Belum apa-apa udah jelek aja lo di mata suami!

"Maaf," Sesalnya seraya menunduk.

"Nggak papa. Pelan-pelan aja aku bakal tuntun kamu menjadi lebih baik," Ujar Iqbaal membuat hati (Namakamu) diterpa angin sejuk pagi-pagi begini.

"Ayo bangun. Kamu siap-siap. Kita pulang hari ini."

Kening (Namakamu) mengerut lagi. "Bukannya kita udah pulang ya?"

"Memangnya kamu mau tinggal bersama dengan Umi dan Abi? Apa nggak merasa canggung?" Entahlah, Iqbaal ini senang sekali menimpali dengan pertanyaan lagi. Membuat (Namakamu) ikut dilanda kebingungan.

Perfect HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang