chapter 1

4 0 0
                                    

Happy reading

" Hai, namaku Clarista Fergie, aku pindahan dari Kyoto Jepang. Sebenarnya aku dulu pernah tinggal disini selama hampir 4 tahun. Namun karena pekerjaan orang tua, aku ikut pindah ke beberapa negara. Semoga kita bisa berteman." Ucap Clarista di depan kelas, memperkenalkan dirinya.

"Clarista, kamu bisa duduk di kursi kosong yang ada di samping jendela paling belakang." Ucap Bu Emma wali kelas Clarista yang baru.

Clarista langsung menuruti perkataan Bu Emma. Seluruh pasang mata yang ada di kelas XI IPS 2 juga masih memperhatikannya hingga duduk di kursinya. Terkecuali dua orang cowok yang terlihat sibuk sendiri.

Setelah itu, pelajaran pun dimulai seperti biasa. Hingga bel istirahat berbunyi.

"Clarista!!!" Teriak seseorang tiba-tiba dan langsung memeluk Clarista.

"Gue senang Lo balik lagi!!!" Ucapnya lagi.

"G-gue ng-gak bisa na-fas" karena orang itu memeluk Clarista dengan sangat erat.

Setelah melepas pelukannya, Clarista menggambil nafas dalam-dalam. Lalu pandangannya beralih ke orang yang memeluknya tadi.

"Flora?!" Clarista tak percaya.

"Iya, ini gue Flora" jawab Flora menyakinkan Clarista.

"Gue nggak percaya bisa ketemu lagi dengan Lo! "

"Sama gue juga. Malahan gue pikir Lo nggak akan balik lagi"

"Oh ya, Vily sama Tania mana? Kok dari awal gue datang nggak ngeliat mereka ya? Tanya Clarista sambil mengedarkan matanya ke seluruh arah

"Mereka berdua nggak masuk SMA ini. Mereka masuk SMA Pelita yang di dekat bundaran itu." Jelas Flora.

"Jadi gitu ya" Clarista nampak murung.

"Tapi kita masih sering ketemuan kok. Kalau lo ada waktu, gimana kalau kita ketemuan dengan mereka?" Tanya Flora.

"Boleh boleh boleh" jawab Clarista semangat.

"Emm... Yuk ke kantin, gue laper!"
Ajak Flora.

Clarista mengangguk. Lalu mereka pun pergi ke kantin.

Sesampainya di kantin, mereka langsung memesan makanan dan minuman. Setelah pesanannya datang, mereka langsung melahapnya hingga tak tersisa. Karena masih ada waktu, Clarista dan Flora memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di kantin.

Dan beberapa siswa lainnya juga ikut duduk bersama mereka berdua sambil bercerita dan bersenda gurau.

"Lo udah pernah pindah ke mana aja?" Tanya Christy teman sekelasnya.

"Jepang, Singapura, Inggris, Italia,
Malaysia, Thailand dan Rusia." Jawab Clarista.

"Terus, pas disana Lo ngomongnya gimana?" Tanya Aldy, teman sekelasnya Flora. Hampir lupa, Flora nggak sekelas dengan Clarista. Ia kelas XI IPS 1. Bersebelahan dengan kelas Clarista.

"Ya, disana gue sekolahnya di sekolah internasional. Tempat semua orang yang berasal dari negara lain. Jadi ngomongnya pakai bahasa Inggris." Jelas

Mereka terus bercerita hingga bel masuk berbunyi. Di perjalanan menuju kelas, Clarista masih bersama Flora dan beberapa orang yang sudah menjadi temannya.

"Btw, siapa aja teman kita pas SMP yang masuk SMA ini?" Tanya Clarista penasaran.

"Sedikit banget jumlahnya. Soalnya kebanyakan nggak lulus pas tes masuk dulu. Yang masuk itu cuma Grace, Laura, Kevin, Sua, gue, Lo dan.... Deva yang sekelas dengan Lo sekarang!" Jelas Flora.

"Deva? Yang sifatnya dingin terus suka males malesan tapi nilainya bagus terus. Yang itu?" Tanya Clarista tak percaya.

"Tepat banget. Sampai sekarang dia juga masih suka males malesan. Dan selalu mendapat peringkat 1 umum di angkatan kita"ucap Flora.

Clarista takjub mendengar nya. Bagaimana bisa Deva si pemalas dapat juara 1 umum lagi.

Lalu, mereka pun berpisah menuju kelasnya masing-masing. Clarista duduk ketempat nya dan masih dikelilingi siswa lainnya yang ingin berteman dengan Clarista.

Mereka semua berkumpul dekat Clarista. Apalagi mendengar jam sekarang kosong karena gurunya tidak masuk.

Clarista tampak kewalahan menjawab pertanyaan mereka. Namun Clarista sangat senang karena mereka semua orangnya baik.

Terkecuali dua orang cowok. Bernama Deva dan Marvin yang selalu sibuk sendiri.

Devano Andrean, adalah teman SMP Clarista. Yang suka males malesan entah itu lagi belajar atau kegiatan apapun. Namun nilainya selalu tinggi. Sekarang saja, da lagi enak enaknya tiduran di bangkunya.

Felix Marvin Lowinsky, teman sekelas Clarista yang selalu memakai headset atau headphone kemana pun ia berada. Nilainya juga sangat bagus. Ia peringkat kedua setelah Deva.

Perlu diketahui, mereka berdua adalah cogan yang kelewat batas. Namun karena sifatnya yang dingin serta aura kegelapan yang selalu mereka keluarkan, banyak orang yang menghindari mereka.

Hanya beberapa yang berani saja yang bisa berbicara dengan kedua makhluk tersebut.

Seperti teman mereka dan para fans yang gila.


______________________________________

Segini dulu y guys
Chapter berikutnya, Riri usahain biar banyak

Voment😘

" DEAR DIARY "Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang