Happy reading
Dear Diary
Selasa, 20 Agustus 2013
Hari ini hari antara kesialan dan keberuntungan yang menimpaku. Sialnya, aku bertemu dengan Deva melalui kejadian yang memalukan. Saat di perpus aku berlarian seperti anak kecil dan tak sengaja menabrak serta menimpa tubuh Deva.Tak kusangka, akhirnya bisa berbicara langsung dengan Deva. Memang sih aku udah sekelas dengan dia sejak SMP. Tapi jujur aja ya, karena sifatnya yang dingin aku nggak berani mau bicara dengan dia. Setiap hari yang dilakukannya hanyalah tiduran di kelas atau membaca novel. Walau ia sering membaca buku, tapi tidak seperti kutu buku pada umumnya. Jujur lagi nih, menurut ku wajahnya lumayan lah. Tapi mana mungkin aku suka dia dan dia suka aku. Pasti di luar sana sudah ada yang menantiku. Begitu juga dengan Deva. Pasti banyak cewek yang lebih cantik dari aku yang sedang menunggunya. Lanjut, keberuntungan yang ku alami yaitu aku bisa diajarin oleh Deva. Aku yakin, setelah dibimbing oleh orang pintar namun pemalas seperti dia, maka aku juga pasti akan menjadi lebih pintar dan cerdas. Semoga aja itu terjadi.
***
Suasana lorong lorong kelas kala itu masih sepi. Karena masih pukul 06:15.
Saat itu Clarista sedang menuju kelasnya sambil bersenandung kecil.Ketika ia ingin masuk ke kelas, datang seseorang dari arah berlawanan dan mereka bertabrakan.
"Aduh, sorry sorry gue nggak senga-ja?" Ucap Clarista yang Kalimatnya seolah bertanya.
Deva!!??
Pantas saja nada kalimat Clarista di akhirnya seolah bertanya. Karena orang yang ia tabrak itu adalah Deva.
Mereka bertatapan cukup lama. Untung saja tidak ada orang yang melihatnya. Jika ada, pasti mereka berdua sudah jadi bahan gosip oleh cewek cewek rempong.
"Minggir!" Ucap Deva dingin.
"Eh, i- iya" ucap Clarista yang tersadar.
Clarista pun minggir sedikit dari arah pintu agar Deva bisa keluar. Setelah Deva pergi, Clarista masuk ke kelas dan duduk di bangkunya.
Sebenarnya ia ingin menyapa Deva. Namun karena perjanjian yang telah mereka buat, Clarista mengurungkan niatnya.
Sudah hampir 10 menit berlalu, tetapi masih sedikit saja mereka yang baru datang.
Dari tadi ia menunggu teman temannya yang lain. Namun belum juga datang. Sambil menunggu kedatangan teman temannya, Clarista berjalan menelusuri setiap lorong kelas.
Hingga, saat Clarista sampai di lantai paling atas, ia mendengar suara nyanyian yang sangat merdu dari arah pintu menuju rooftop.
Clarista berjalan secara perlahan, ke arah pintu yang tidak tertutup rapat. Semakin dekat, suara yang terdengar semakin merdu membuat Clarista nyaman mendengarnya. Sungguh, ia sangat penasaran dengan orang yang mempunyai suara emas tersebut.
Ketika sedikit lagi ia dapat melihat siapa orang yang sedang menyanyi itu, tiba-tiba handphone yang berada di saku roknya bergetar.
"Cckk! Siapa sih?! Ganggu aja!" Baiknya dengan kesal.
Ternyata ia mendapat pesan dari Flora yang mencarinya. Lalu, seakan lupa dengan seseorang yang ada di rooftop, Clarista pergi terburu buru ke kelasnya. Karena berjalan menelusuri lorong sambil menunggu kedatangan temanya adalah tujuan awal Clarista.
Sesampainya di lorong depan kelas XI IPS 1, ia melihat Flora dan Tia sedang menunggunya.
"Lo kemana aja?" Tanya Flora.
"Gue abis jalan jalan sambil nunggu klean." Jawab Clarista.
"Pantasan aja, gue liat tasnya ada tapi orangnya gak ada." Ucap Flora.
"Makanya, datang ke sekolah itu cepetan. Biar gue nggak setiap hari jalan jalan macam orang gila yang sering ngejar Lo pas SMP dulu" ucap Clarista yang membuat Tia dan Flora terkejut.
"Serius Ris, Flora sering dikejar orang gila dulu?" Tanya Tia sambil menahan tawanya.
Clarista hanya bisa mengangguk karena ia sudah tertawa lepas sedari tadi sambil mengingat lucunya ekspresi Flora yang dikejar orang gila dulu.
"Apaan sih kalian? Udah nggak jaman kali ngingat masa lalu.!" Sebaliknya Flora karena melihat kedua temannya yang tertawa karena kisahnya dulu.
Kehebohan Clarista dan Tia mengundang siswa lain yang penasaran.
"Apaan sih Tia? Kok pada ketawa nggak jelas gitu?" Tanya Nando kepo.
"Lo ta-tanyain aja sama si Clarista!" Jawab Tia yang cukup terbatas akibat tertawa.
Bukan hanya Nando yang penasaran. Ada juga Luna, Mery, Aldy dan Ronal yang membuat Flora jadi salah tingkah.
"Gi-gini nih ceritanya,-"
"Stop Ris, nggak usah ember deh. " Ucap Flora yang malu.
"Ha ha, dulu pas gue dan Flora masih SMP, Flora itu suka banget gangguin orang gila yang selalu lewat depan rumahnya. Awalnya si orang gila cuek cuek aja. Lalu, mungkin dianya kesal karena digangguin Flora terus, si orang gila itu tuh selalu nungguin Flora di depan pagar rumahnya. Bukan hanya ditungguin pulang tapi Flora dikejar terus terusan." Jelas Clarista yang terpotong karena tak kuasa menahan tawanya.
Kini bukan hanya Clarista dan Tia yang tertawa. Tapi Nando, Luna, Mery, Aldy, dan Ronal.
"Lo serius kan Cla?" Tanya Luna sambil tertawa.
"Iya dong. Yang ngeliat itu bukan hanya gue doang. Hmmm, tuh, tanya aja di Deva. Dia juga ada ngeliat si Flora di kejar orang gila sampe nangis!" Ujar Clarista.
Luna dan Aldy segera menghampiri Deva yang sedang melintas.
"What?! Flora sampe nangid Ris?" Tanya Mery geli.
Clarista mengangguk. Tak lama Luna dan Aldy kembali dengan tawa yang pecah karena ia juga mendengar hal yang sama dari Deva. Walau Deva menceritakannya dengan nada yang dingin, tapi bagi mereka itu tetaplah lucu.
Wajah Flora mulai memerah. Ia merasa sangat malu karena di tertawa kan. Hal ini membuat sifat Flora berubah drastis. Dari yang suka teriak teriak nggak jelas jadi orang yang pemalu.
Sadar akan wajah Flora yang menahan malu, Ronal dengan sedikit mehanah tawanya mulai mendekati Flora.
"Ternyata lo lucu juga ya?" Ucap Ronal sambil mengacak gemas rambut Flora.
Mereka yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa membelalakkan mata masing-masing.
Mereka tak percaya karena Ronal bisa sedekat itu dengan Flora cewek yang kurang disukai banyak pria karena sifatnya yang kasar.
Diperlakukan seperti itu oleh Ronal, Flora hanya bisa diam seribu bahasa dengan wajahnya yang sangat merah
***
Gimana?
Masih garing ya?Ga papa lah yang penting ceritanya jadi
Voment please 😘😘😘

KAMU SEDANG MEMBACA
" DEAR DIARY "
Teen Fiction"antara rasa suka dan kagum sedang melanda hatiku saat ini" "Mustahil untuk memiliki keduanya" "Tapi tak mungkin aku melepas salah satu dari mereka" "Ada pepatah mengatakan jika kita menginginkan keduanya, maka semuanya akan hilang" "Atau, melepas k...