chapter 3

4 0 0
                                    

Happy reading

Tik tok tik tok tik tok tik tok

Hanya suara detik jam yang mengisi suasana di forbidden cafe, tempat dimana Deva dan Clarista sedang duduk berhadapan di sebuah meja.

Sudah hampir 1 jam mereka duduk berhadapan. Namun masih belum ada mengeluarkan sepatah katapun.

Deva hanya menatap dingin Clarista seolah berharap ia pergi. Sebaliknya, Clarista hanya membalas tatapan Deva dengan senyuman manis yang ia miliki.

"Sebenarnya apa sih yang Lo mau? Dasar cewek aneh, sekarang jadi penguntit" Deva akhirnya membuka suaranya.

"Kan udah berkali-kali gue bilang, gue hanya mau lo ngajarin gue belajar" kata Clarista yang terlihat tidak memperdulikan kata kasar dari Deva.

Deva tampak menimbang-nimbang perkataan Clarista. Jika ia menolaknya, maka Clarista pasti akan terus menerornya. Tapi jika ia menerimanya, maka ia akan berurusan dengan Clarista lebih jauh.

"Hmmmm, gimana kalau gue bayar deh?" Tawar Clarista.

"Huft, nggak perlu" ucap Deva.

"Nggak perlu bayaran maksudnya? Berarti Lo mau dong ajarin gue?" Senyuman Clarista semakin melebar.

"Iya. Gue mau ajarin lo. " Ucap Deva.

"Yesssss..." Clarista sangat senang karena ia yakin setelah diajari Deva, nilainya akan semakin membaik.

Walau sebenarnya nilai Clarista sudah sangat baik. Buktinya, ia bisa masuk SMA Permata Bangsa dengan hasil tes 90. Serta, ia selalu masuk peringkat 3 besar di seluruh sekolahnya yang dulu. Padahal ia sangat sering pindah. Tapi Clarista dapat menyesuaikan materi materi yang ada di setiap sekolah.

"Tapi,-" Deva menggantungkan kalimatnya.

"Tapi apa?" Clarista penasaran.

"Lo, nggak boleh bocorin hal ini ke siapapun orangnya. Dan disekolah Lo harus pura-pura nggak ngenalin gue. Gimana?" Gantian, kini Deva yang menawari Clarista.

"Siiiaaappp..." Clarista mengacungkan jempol tangannya ke arah Deva pertanda ia menyetujui syarat Deva.

"Oh iya, kita belajarnya dimana?" Tanya Clarista.

"Di cafe ini aja. Soalnya disini sepi jadi tenang kalau lagi belajar." Jelas Deva

"Jam?" Tanya Clarista lagi.

"Sekitar jam 3 aja biar nggak kesorean. Lo sempatkan?"

"Sempat kok." Balas Clarista.

"Bisa pinjam hp lo sebentar nggak. Penting banget nih" raut wajah Clarista berubah.

"Nggak," tolak Deva mentah-mentah.

"Please Dev. Ini darurat. Hp gue mati "
Rayu Clarista.

"Ya udah deh. Nih" Deva sebenarnya terpaksa memberikan handphone-nya pada Clarista. Ia merasa curiga dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah drastis. Namun ia tak mau bila urusannya dengan Clarista tambah Rumit nantinya hanya karena handphone.

Di hadapannya, Clarista tampak sedang mengotak-atik handphone Deva.

"Selesai, nih thanks y" setelah mengembalikan kepada sang empunya, Clarista langsung berlari keluar. Tak lupa ia membayar pesanannya di kasir.

Melihat aksi Clarista yang cukup mencurigakan, Deva yang bisa menggelengkan kepalanya. Lalu, ia teringat dengan apa yang dilakukan Clarista di handphone-nya.

CLARISTA CANTIK

itulah nama yang tertera di urutan kontak baru milik Deva.

"Ckk, Lo memang nggak berubah, dasar cewek aneh." Deva tersenyum sambil melihat nama itu.

Malamnya,
Clarista berada di balkon kamarnya sambil menatap bintang yang sedang bertebaran di langit malam. Kebetulan cuaca sangat bagus. Jadi jumlah bintangnya sangat banyak hampir menutupi langit.

Lalu ia teringat dengan kejadian yang ia lalui hari ini. Clarista hanya tersenyum mengingat tabrakannya dengan Deva yang membawa berkah baginya.

Dan ia juga teringat dengan novel yang dipinjamnya saat di perpus. Kebetulan judul novel yang dipinjamnya hampir sama dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Little Star
Judul novel yang dibaca Clarista dan bergenre romance kesukaannya.

Hari semakin larut, Clarista masih berada di balkon sambil membaca novelnya.

Terdengar suara ketukan di pintu kamar Clarista.

"Rista, kamu udah tidur?" Suara Yuna, mama Clarista.

Yuna membuka perlahan pintu kamar anaknya dan mendapati Clarista yang berada di balkon.

"Ya ampun Rista, kenapa kamu belum tidur? Ini udah jam sepuluh. Besok kan kamu sekolah. Nanti kamu sakit. Ayo, cepat tidur." Omel Yuna panjang lebar kepada putri semata wayangnya.

Walau sedang marah, nada suara Yuna tetap tidak berubah. Selalu lembut.

"Eh, iya ma. Rista tadi keasyikan baca." Ucap Clarista yang menuju kasurnya.

"Lain kali, nggak boleh gitu lagi ya, jaga kesehatan kamu juga. Kalau kamu flu nanti belajarnya terganggu."
Sambung Yuna.

"Iya mama. Selamat malam" ucap Clarista.

"Selamat malam, tidur yang nyenyak ya" ucap Yuna sambil mengecup kening putrinya.

Yuna pun mematikan lampu kamar Clarista dan perlahan menutup pintu kamarnya.

Lama kelamaan, mata Clarista mulai mengantuk.

"Good night my little star" bisik Clarista sebelum benar-benar tertidur.

Drrrrrtttttt

Dan disaat yang bersamaan, sebuah pesan masuk di handphone Clarista.
Belum ada nama di kontak tersebut. Namun isi pesannya bertuliskan
" Good night "

Drrrrrtttttt drrrrrtttttt

Mendengar handphonenya yang bergetar berkali-kali di atas nakasnya, Clarista pun terbangun. Ia meregangkan tubuhnya terlebih dahulu agar tidak kram.

Ia melihat sudah pukul 5 pagi. Ternyata itu adalah alarm yang sudah di setel Clarista. Sudah menjadi kebiasaannya selalu bangun pagi sejak kecil.

Biasanya, hal yang dilakukan Clarista ketika bangun pagi adalah berolahraga terlebih dahulu, kemudian ia membantu Yuna membuat sarapan. Setelah itu baru ia mandi dan berpakaian serta berangkat ke sekolah.

Baru saja ia ingin menyimpan kembali handphonenya di atas nakas, Clarista melihat ada sebuah pesan masuk tepat pukul 10:34, tanpa nama.

Awalnya ia terkejut. Namun lama kelamaan sudut bibirnya mulai tertarik ke atas. Membentuk senyuman yang sangat manis.

Apa mungkin, ia yang mengirimnya?
Batin Clarista.

.
.
.
______________________________________

Hai guys

Semoga menghibur ya

Voment 😘😘😘

" DEAR DIARY "Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang