6 - Ribut

24 5 0
                                        

✍✍✍

Fira yang memang bekerja part time hari ini harus ijin terlebih dahulu pada Yusuf dan Tiara. Ia memang mengambil sift sore hingga malam sebagai kasir sekaligus pelayan di Paradiso Caffe.

Gafis itu segera mengganti bajunya dengan seragam berwarna krem dan celana jins panjang. Tak lupa juga ia mengenakan celemek yang memiliki lambang Paradiso Caffe.

"Eh Ra, langsung gantiin gue ya,"

"Siap Sal," jawab Fira seraya merapikan ikatan rambutnya. Salsa yang sebelumnya menjadi kasir kini di ganti dengan Fira. Gadis itu langsung mengecek penjualan hari ini dan uang yang terkumpul.

Tampak di luar Farrell tengah menatap Fira dengan tatapan tajam. Ia sungguh membenci gadis tidak tahu diri itu. Rasanya kecewa namun tidak bisa ia ungkapkan.

Farrell mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang.

"Paradiso Caffe sekarang,"

TUT TUT TUT

Ucapnya secara singkat dan langsung mengakhiri sambungan telponnya.

Setelah itu ia berbalik dan berniat menunggu sahabatnya di taman yang berada di samping Caffe tersebut.

Tak lama kemudian, ia menatap para sahabatnya yang baru saja memasuki area parkir tempat tersebut.

"Tumben lo ngajakin ketemu, kangen ya Rell?" tanya Raphael setelah sampai di hadapan Raphael.

"Kenapa deh muka lo? Jangan di jelek-jelekin deh Rell, miris gue liatnya," sambung Eko yang mendapat respon tawa dari Surya dan Raphael. Ya, hanya mereka. Karena memang Farrell tidak menghubungi Kevlar. Ia tahu jika sahabat yang satunya itu akan mencegah Farrell berbuat hal yang tidak-tidak pada Fira.

"Berisik lo pada, buruan masuk," Farrell berucap datar dan segera meninggalkan ketiga sahabatnya yang hanya cengo menatap kepergian Farrell. Namun mereka tetap mengikuti langkah kaki Farrell.

"Eh Fir? Lo kerja di sini?"

Fira yang sedari tadi menulis di buku catatan kecilnya harus mendongak ketika seseorang tampak menyebut namanya. Dan orang itu adalah Surya.

Bukannya langsung menjawab pertanyaan Surya, tatapan mata teduh Fira beralih menatap Farrell yang menatapnya sangat dingin.

"Ra?" panggil Raphael dengan menggoyangkan tangannya di hadapan wajah Fira.

"Eh? Iya Rap, gue part time di sini," jawab Fira kikuk. Sesekali ia melirik ke arah Farrell yang tidak melepaskan pandangannya sedikitpun.

"Yang tanya Suryadi Ra, bukan gue," kekeh Raphael.

Fira terkekeh menanggapinya.

"Sejak kapan lho kerja di sini Ra? Baru tau gue," Eko menyahut.

"Baru dua Minggu Put," jawab Fira, "Ohya, kalian mau pesen apa?" tanya Fira seraya menyerahkan beberapa menu yang di jual di Caffe tersebut.

Tampak Raphael, Surya, dan Eko a.k.a Putra menyebutkan pesanan mereka.

"Lo pesen apa bos?" tanya Surya seraya menyikut pelan lengan Farrell yang hanya diam.

"Gue pesen dia," ucap Farrell dingin. Hal itu segera membuat Fira menatapnya terkejut.

"Berapa harga lo?" tanya Farrell lagi.

Alis Fira mengernyit, "Maksud lo apa?"

"Jangan munafik lo. Bukannya lo butuh uang?"

"Rell apa-apaan lo," ucap Raphael yang merasa janggal dengan kedua anak Adam dan hawa tersebut.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 20, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

THE REASONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang