Part 4

210K 10.1K 100
                                        

Malamnya aku menunaikan kewajibanku yaitu shalat istikharah. Mencari petunjuk Nya apakah keputusan mama menjodohkanku itu benar atau tidak.

Setelah shalat istikharah aku membaca kitab suci sampai menjelang subuh.

Aku melepaskan mukenahku, lalu melipatnya dan meletakan mukenahku ke dalam lemari. Tadinya aku sempat mau berbalik tidur lagi, tetapi sekarang waktu subuh, matahari pun tampak malu menyinari bumi.

Aku memutuskan ke dapur membantu Mbok Mirnah memasak sarapan untuk keluarga. Aku juga pandai memasak karena Mbok mengajariku memasak sejak SMP. Karena waktu aku semasa SMP, mama dan papa sibuk mengurusi pekerjaannya sedangkan aku di tinggal di mansion kecil ini bersama asissten rumah tangga keluarga Edwardo.

Aku melihat Mbok sedang sibuk memotong wortel. Tanpa tedeng aling aling, aku mendekati mbok.

"Selamat pagi mbok." sapaku.

Mbok berjingkat kaget. "duh si Non, ngagetin mbok saja." dengus mbok Mirnah sambil mengelus dada.

Aku hanya terkekeh sambil memeluk mbok, "mau Ferlyn bantuin mbok?" tanyaku.

"Tentu saja jika Nona bersedia."

Aku pun memulai memasak di bantu oleh Mbok Mirnah.

Aku sudah menemukan jawabannya, dari lubuk hati ini aku harus menerima permintaan mama. Bukan menolaknya. Jawaban hati aku adalah aku harus menerima pria yang mama pilih untuk aku.

Aku sudah mantap dengan pilihan mama. Aku tau mama memilihkan pria untukku bukan pria sembarangan. Jadi aku harus percaya sepenuhnya pada pria yang mama pilihkan untukku.

"Ferlyn! Kenapa sering melamun sih akhir-akhir ini?!" suara Derian menyentakkanku.

Astaga pria ini benar-benar!

Hobi sekali sih ngagetin aku mulu.

Dengan sebal aku mengetuk pelan kepalanya, "Nyebelin ah! Ganggu orang aja." rajukku.

Derian terkekeh geli, "Lha, emang benar kan? Kamu ini bukannya catatin hasil meeting kemarin malah note nya kosong. Dan lagi-lagi kamu melamun. Mikirin apa sih?"

Yah mulai deh keponya. Nanti kalau gak di jawab malah dia mengganggu ku. Dari bbm lah, nge-Line aku pokoknya aku di usik mulu sama dia sampai aku mau menceritakan masalah yang aku hadapi. Malah aku sempat berpikir kalau Derian ini sifatnya seperti Sherly, kerjaannya kepo.

"Dih, kepo!"

Derian mencolek daguku, "sensi amat sih neng. Lagi PMS ya?" katanya menggoda sambil mengedip centil ala banci kaleng.

Huh!

"Derian udah deh gak usah nyentuh aku!" kataku sambil menepis tangannya yang masih di daguku.

"Gak ah sebelum kamu ceritain."

Aih, minta dikurban ini orang!

Sambil menghela napas panjang aku menceritakan semuanya, dari awal sampai dijodohkan. Derian menatapku dengan iba. Memang aku pantas untuk dikasihankan.

"Yang kuat ya," Derian berkata tanpa nada menggoda lagi, aku tersenyum seolah ini tidak apa-apa.

Aku meminta dukungan pada adikku yang berada di Scotlandia. Entah kenapa waktu mama memberitahu bahwa aku akan ke rumah sahabatnya tadinya aku tidak gugup. Tetapi saat sorenya nyaliku menciut. Keberanianku pupus sudah. Aku tidak tau lagi harus bersikap bagaimana pada sahabat mama --calon mertua-- dan pria itu yang notabenenya anak dari sahabat mama --calon suamiku--.

My Love From The PastCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang