Part 17

204K 7.8K 291
                                        

Author POV

Ferlyn mencoba dirinya untuk tidur, tetapi dia tidak bisa tidur karena Delvin tidak ada di sampingnya.

Dari kejadian tadi, Delvin belum pulang sampai sekarang. Dirinya cemas, takut kalau Delvin bakal kenapa-kenapa.

Ingin dia menanyakan dimana suaminya berada, tetapi dia tidak mempunyai nomor telepon Delvin. Bodohnya, ia lupa meminta nomor Delvin. Istri macam apa dia yang tidak tahu nomor ponsel suami sendiri?!

Tiba-tiba ponselnya bergetar, di layar ponselnya tertera nama Mama Ani --Mama Delvin--.Ferlyn tercenung, 'ada apa di larut malam Mama mertuanya menelpon?'

Jantung Ferlyn mencelos, takut kalau Mama mertuanya tahu apa yang telah di perbuat oleh putra kesayangannya. Karena mana mungkin Mama mertuanya tidak tahu, karena kejahatan yang di perbuat oleh suaminya sudah di ketahui oleh Papa Dimas. Suaminya.

"Halo, assalamu'alaikum," suara Ferlyn bergetar.

"Wa'alaikumsallam, apa kabarmu Nak?"

Suara Mama Ani sangat teduh di dengar.

"Alhamdulillah Ferlyn baik, Ma."

Terdengar helaan nafas kasar di seberang sana. "Fer, Mama sudah tahu apa yang dia perbuat,"

"Maksud Mama?" Tanyanya pura-pura tidak tahu.

"Ferlyn, jangan pura-pura tidak tahu, Nak. Astagfirullah, kenapa kamu tidak bilang pada Mama kalau Delvin menyakitimu secara fisik, heh? Kenapa kamu menutupinya? Kenapa kamu tidak bilang pada Mama? Kamu tahu, Mama sangat sayang padamu layaknya kamu adalah anak kandung Mama. Mama... Hiks... Mama sangat malu jika masalah ini sampai terdengar oleh kedua orangtuamu. Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga, Fer!" Tangis Mama.

Mendengar Mama terisak membuatnya ikut sedih. Aku bukannya tidak mau bilang pada Mama soal masalah ini. Tetapi, ini adalah masalah rumah tangganya dan Delvin. Tidak seharusnya orang luar mencampuri urusan pribadi kami. Bukan Ferlyn menganggap Mama mertuanya adalah orang luar, hanya saja dia tidak mau menjadi tukang ngadu dengan masalah pernikahan yang menimpanya.

"Ma... Ferlyn tidak apa-apa kok. Ferlyn mohon, Mama jangan bilang pada kedua orangtua Ferlyn, ya."

Mama mertuanya sesenggukan. "Bagaimana jangan bilang?! Karena cepat atau lambat orangtuamu pasti tahu, Nak."

Ferlyn tertegun dengan ucapan Mama mertuanya. Yang Mama mertuanya bilang memanglah benar, cepat atau lambat orangtuanya bakal tahu kehidupan pernikahannya.

"Tapi Ma, biarkan seperti ini dulu, biarkan orangtua Ferlyn tidak tahu dulu dan aku harap Mama dan Papa Dimas jangan lasih tahu pada orangtua Ferlyn ya, aku mohon pada Mama." Mohonnya.

Mama Ani terisak pelan, "ya Allah, Ferlyn, dosa apa kamu sampai di siksa sama Delvin. Hiks..."

Ferlyn memegang dadanya nyeri. Mendengar Mama Ani menangis membuat hatinya tersayat. Dia sangat menyesal, coba saja dulu ia tidak mencelakai orang yang di cintai Delvin. Pasti Delvin tidak akan membencinya.

"Ma, jangan nangis. Ini bukan salah Delvin, Ma. Ini murni salah Ferlyn."

Mama Ani makin terisak, "Fer, Mama tidak tahu lagi harus bagaimana. Pokoknya besok kalian datang ke rumah
Mama, okay."

Paginya, Ferlyn memasak untuk dirinya dan suaminya. Pipi dia merona mengingat kejadian tadi pagi di saat ia bangun.

Saat ia bangun, Delvin memeluk pinggangnya dengan erat. Jarang sekali dia memeluk pinggangnya saat mereka tidur. Sedangkan wajah Ferlyn berada di leher jenjang Delvin.

My Love From The PastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang