Part 5

202K 9.7K 85
                                        

Rasanya jantungku terasa mau copot. Apakah Delvin yang akan dijodohkan olehku?

Mataku dan mata Delvin bersirobok. Tatapan matanya menatapku dengan penuh tanya. Mungkin dia sama sepertiku bertanya-tanya dalam hati apakah aku dan dia yang bakal dijodohkan.

"Nah, itu calon prianya sudah datang, Delvin ayuk duduk di sini dulu,"

Tante Ani menyambut anaknya pulang dengan suka cita. Kalau aku sih dengan duka cita menyambut kedatangan nih orang.

Dan dugaanku benar ternyata, bahwa aku bakal dijodohkan dengan Delvin. Sebagian hati kecilku sangat senang menerima kenyataan bahwa aku dijodohkan sama Delvin. Tetapi sebagian lagi tidak. Ego ku tidak mau menerima kembali Delvin dalam hidupku. Rasa sakit nya walaupun sudah lama tetapi sampai sekarang masih terasa.

Delvin duduk di sampingku. Dia tampak tenang saat Oom Dimas --Papa Delvin-- menjelaskan perihal maksud para tetua menjodohkan kami. Niat mereka menjodohkan kami adalah, agar mereka jadi besan dan tentu saja mereka bisa menjadi dekat.

Om Dimas menatap kami berdua secara bergantian, tak henti-hentinya mama dan Tante Ani tersenyum bahagia.

"Jadi, bagaimana menurut kalian, apakah kalian bersedia kami jodohkan?" tanya Om Dimas pada kami berdua --aku dan Delvin--

Aku menghela napas, sejujurnya aku sangat bersedia apalagi mama sangat antusias jika aku dan Delvin menikah.

"Aku bersedia." ujarku mantap.

Aku memejamkan mata sebentar, meringankan beban yang ada dibenakku. Semoga keputusan ini benar. Semoga Tuhan merestukan aku dan Delvin nantinya.

Sekarang kami semua menunggu jawaban dari mulut Delvin.

Jantungku berpacu dengan cepat, berharap jawaban yang keluar dari mulut dia adalah kata 'iya'

--Flashback--

Diam-diam aku menatapnya dari kejauhan. Menatapnya yang sedang bermain futsal di lapangan bersama teman futsalnya. Saat tubuhnya basah karena keringat, membuatnya sangat sexy dan kadar kegantengannya bertambah.

"Jangan dilihat dari jauh aja dong, ayok tunjukkan keberanian loe kalau loe suka sama dia." Celutuk Syafa sahabatku yang juga ikut nonton pertandingan futsal antar sekolah. Tentu saja seperti biasa, Delvin selalu menjadi kapten futsal.

Aku menggeleng tanpa melihat Syafa, "nggak mau ah, aku belum berani bilang begituan sama Delvin." kataku sedikit ciut.

Cowok yang aku lihatin terus adalah Delvin. Cowok yang sudah tiga tahun aku suka, dan lebih tepatnya suka dalam diam.

Dia terkenal baik di sekolah dan juga sholeh. Aku lebih suka sama dia karena ngajinya yang bagus, suara adzannya yang merdu serta dia sudah khatam Al-Quran.

How perfect he is?!

Aku kira aku hanya suka karena kagum, tapi kalau aku sukanya karena kagum biasanya aku melupakan pria itu hanya sebentar saja, paling lama seminggu. Tetapi beda halnya dengan Delvin, semakin aku mencoba melupakannya semakin terasa ia menari-nari di benakku. Jadi aku pikir ini bukanlah sekedar kagum tetapi cinta.

Terdengar suara decakkan keras dari arah sampingku, "ck, masa ngomong gitu aja gak berani sih? Mau sampai kapan mendam terus? Ini sudah mau berjalan tiga tahun loe suka sama cowok gak peka itu." Kata Syafa sambil melirikku dengan sebal.

Memang aku gak berani ngomong begituan sama Delvin, karena aku juga cukup tahu diri juga karena Delvin tidak suka dengan wanita yang agak gemukkan.

My Love From The PastCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang