14. Maksud Terselubung

2.6K 213 35
                                        

Aku duduk tepat di tengah-tengah ruangan didampingi papi dan daddy menghadap lebih dari lima petinggi sekolah menentukan nasibku kedepannya.

Max duduk di sebelah kanan menjadi korban atas tindakan kekerasanku. Di sana, dia tersenyum miring puas akan diriku yang sudah ia atur bagaimana nanti. Belum lagi tatapan tajam dari ayahnya yang membuatku ingin muntah saat ini juga.

“Jadi, apa dasarmu melakukan kekerasan pada temanmu sendiri, Max,” celetuk ketua komite memecah canggung yang menyelimuti ruangan.

Aku melirik papi dan daddy sejenak lalu menyakinkan diri menjawab, “Karena dia menghina keluarga saya. Mengolok-olok seakan kami menjijikan.”

“Itu bukan hal besar. Semua siswa pernah mengolok tetapi tidak ada yang berakhir separah ini. Apa kau yakin karena itu?!” Ketua komite mengangkat sebelah alisnya, meragukan jawabanku.

“Orangtuamu memang semuanya laki-laki, seharusnya kamu tidak masalah dengan itu saat orang lain mengungkitnya.” Tambah Kepala Sekolah dengan suara lantang.

“Dia bukan mengungkit, tapi mengolok!” tegasku.

“Ini hanya masalah sepele, Kit. Kau harusnya lebih dewasa dalam bersikap.” Lagi-lagi Kepala Sekolah menyudutkanku.

“Dengan ini maka hukuman yang pantas dikeluarkannya Kit Prachaya agar kejadian serupa tak terulang lagi.” Putus Ketua Komite final.

Suara gemeletuk pelan dari gigi daddy yang beradu terdengar. Jelas sekali terlihat kalau dia sedang geram.

Baru saja daddy hendak bangkit namun urung karena papi bangkit lebih dulu membuatku mendesah tak percaya. Biasanya papi sangat menurut tapi kali ini dia terlihat berbeda.

“Apa seperti ini peraturan yang sekolah buat? Mengeluarkan murid yang nyatanya tak sepenuhnya bersalah demi melindungi sang anak donatur?!” Suara lantang papi menggema di seluruh sudut ruangan.

“Pak, tolong tenangkan diri anda. Berkatalah dengan lebih sopan!” tegur Kepala Sekolah.

“Lupakan kesopanan saat ini. Kita berbicara realita yang dasarnya tak pantas kita santuni. Saya percayakan anak saya bersekolah di sini, pagi hingga sore saya biarkan para guru menjadi orangtua pengganti bagi—”

Ucapan papi terhenti, ia menoleh padaku yang menggenggam tangannya. Matanya memerah, menahan amarah yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Perlahan, aku menggeleng pelan. Menyuruhnya berhenti dari isyarat mata. Percuma, bagaimana pun papi menyangkalnya, Max yang akan memenangkan semua ini. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang akan terjadi hari ini sudah diatur.

Kecuali satu.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka kasar, keningku menyerit saat mendapati Oat masuk dengan siswa-siswi lain yang memasang wajah kesal.

Seluruh orang di ruangan bangkit, saling tukar pandang menanyakan apa yang terjadi.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi, atau kalian akan mendapat hukuman yang sama!” gertak Kepala Sekolah berseru.

Oat dan para siswa tidak gentar. Alih-alih keluar mereka malah masuk lebih dalam.

“Ini tidak adil, Pak. Hanya karena Max kalah dalam adu kekuatan lalu segala konsekuensinya dijatuhkan pada Kit!” balas Oat tak kalah kuat.

Kepala Sekolah beranjak dari tempatnya. Tangannya mengacung menyuruh Oat beserta yang lain segera pergi. Otot wajahnya mulai terlihat, aku yakin, saat ini dia sedang khawatir.

“Pergi atau kau akan mengalami nasib yang sama!” tegasnya sekali lagi.

“Max mengolokku. Dia bilang orangtuaku hina karena jelek,” celetuk seorang siswi yang maju mensejajari Oat.

Daddy's [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang