Pengadilan

1K 99 58
                                        

Di atas pic. Raynelle Afsheen, di book 3 namanya berubah jadi Raynelle Raffertha tapi panggilannya tetep Ray.. ^^

"Kenapa bisa seperti ini!" James Barnave meninju dinding hingga retak. Selama hidupnya ia belum pernah mengalami kegagalan selama ia menjadi kepala klan. "Padahal tinggal sedikit lagi aku melenyapkan Raffertha. Sialan!" Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. "Aku sudah menyingkirkan Hendrick melalui tangan adiknya, dan aku hampir menghabisi Leonel tapi gagal karena gadis manusia itu! Bahkan Marrie putriku juga tewas."

"Lalu kita harus bagaimana ayah?" Jeremy yang sedari tadi diam menyaksikan kekesalan ayahnya akhirnya turut bersuara. "Kelahiran anak-anak Leonel adalah permulaan kebangkitan klan Raffertha, dan mereka juga sudah menginjak remaja. Tiga puluh tahun lagi mereka akan menginjak usia dewasa baru, akan semakin sulit untuk mengalahkan mereka."

"Aku tidak bisa terima ini. Aku akan sangat malu dengan leluhur Barnave jika aku sampai gagal mengalahkan Raffertha." James kembali meninju dinding hingga retak kemudian membanting meja beserta darah segar yang menjadi suguhan terlezat malam itu.

Setelah kediaman Barnave dipenuhi ketegangan dengan murkanya James, kini di kediaman Fourie juga mengalami hal serupa ketika Jules Fourie masih memperdebatkan perihal kematian adiknya, Vera Fourie.

"Aku bersumpah akan menuntut balas pada Leonel ayah, dia benar-benar tidak tahu terimakasih! Setelah keluarga kita menjaganya dan menyelamatkannya, inikah balasannya untuk keluarga kita?"

Edzard Fourie hanya terdiam mendengar serapah putranya. Ia paham betul bahwa dirinya memiliki hubungan yang baik dengan Alaric Raffertha, kepala klan Raffertha sebelum Hendrick. Kini hubungan klan Fourie dan klan Raffertha sudah diambang perpecahan. Ia menyayangkan tindakan putri bungsunya yang dengan gegabah memancing kemarahan Leonel dan menyayangkan Leonel yang tak bisa mengontrol dirinya hanya karena seorang gadis dari ras manusia.

Setelah mendengar kabar bahwa anak-anak Leonel muncul, ia mulai merasa lega karena pada akhirnya Leonel telah berhasil membangkitkan kembali klannya yang sudah diambang kepunahan. Tapi tetap saja, permusuhan ini begitu mengganjal pikirannya. Ia sangat menghargai Alaric, tapi ia harus bermusuhan dengan Leonel, putra Alaric sendiri.

"Kita tunggu keputusan dewan pada sidang besok," ujarnya sebelum meninggalkan tempatnya, sementara Jules masih memaki.

Di tempat lain, tepatnya penjara khusus Vampire di pusat kota, Leonel duduk bersandar sambil menatap sinar bulan yang membuatnya tenang. Ia terus meyakinkan diri didalam hatinya bahwa ia tidak bersalah, dan ia tahu Raynelle pasti akan bertindak lebih dari harapannnya. Ia tahu istrinya adalah sosok yang tangguh bahkan saat dia menjadi manusia.

Ia mengamati sosok kelalawar datang melalui celah-celah jeruji perak dan tak lama seekor kelalawar itu berubah menjadi sosok wanita yang paling ia tunggu-tunggu.

"Ray?"

"Hey kenapa wajahmu murung begitu? Kau tidak senang aku datang?" Raynelle langsung mencubit pipi suaminya yang masih tampak sedih. "Kau tahu? Aku rindu seringai jahatmu."

Mendengar hal itu Leonel langsung tersenyum, meskipun sudah menjadi Vampire, Ray tetap terlihat lucu baginya dan tak ada yang berubah sama sekali dari dirinya.

"Bagaimana dengan Louis dan Loury? Apa mereka masih suka ribut?"

"Yah, sudah remajapun mereka masih suka berisik." Ray menghela pelan. "Tapi aku sudah meminta seseorang untuk menjaganya"

"Mungkin itu turunan dari ibunya," sindir Leonel pada isitrinya kemudian menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya, rindunya sengaja ia biarkan tumpah ruah memenuhi relung hatinya. "Ray, aku butuh darahmu."

Book 3 : RafferthaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang