Terbongkar

318 29 13
                                        

Langit-langit temaram dengan aroma lembab yang begitu menyengat, itulah hal yang pertama kali Raynelle lihat dan rasakan saat membuka mata. Cahaya bulan menembus celah-celah pada dinding ruangan. Ia merasakan sediiki pening di kepalanya dan menyadari bahwa tangannya terikat rantai. Ia menggerakan tangannya dengan kencang hingga suara bergerincing membuat pintu terbuka dan menampakan sosok Jeremy.

"Senang rasanya melihatmu sudah sadar nyonya." Jeremy menyeringai dan mendekat perlahan. "Selmat datang di kediaman Barnave."

"Dimana Loury!" teriak Raynelle dengan geram sambil berusaha membebaskan diri.

"Shhh! Tenanglah nyonya, putrimu baik-baik saja. Kau tidak perlu panik."

"Sial, kalau saja Lee tidak mengambil kekuatanku, aku pasti bisa melepaskan diri dengan mudah," umpat Raynelle dalam hati. "Jika kau ingin menahannya, setidaknya biarkan aku merawatnya."

"Aku sudah meminta putraku untuk merawat putrimu nyonya. Kau senang pasti senang mendengarnya."

Raynelle bergeser menjauh perlahan ketika Jeremy mendekatinya. Kemudian segera memalingkan wajahnya dengan cepat ketika tangan Jeremy henda menyentuh dagunya.

"Jangan macam-macam denganku!"

"Hey, kau yang menciumku duluan dan kau menuduhku macam-macam?" Ia terkekeh. "Seharusnya aku memberimu pelajaran karena sudah macam-macam denganku."

"Itu tidak sengaja!" sahut Raynelle dingin sekaligus merasa bersalah dan malu.

"Tidak sengaja," gumamnya membeo kemudian tersenyum miring.

Jeremy menarik dagu Raynelle dan mekasanya agar mereka saling berhadapan, bertatap muka. Raynelle masih memberontak namun kepalanya tak bisa bergerak saat Jeremy mejepiit pipinya dengan kedua tangannya.

"Ciumanmu terasa seperti sebuah kesalahan dari Nirwana."

"Berhentilah membahas hal itu, sialan!" Raynelle menatap tajam wajah penuh seringai dihadapannya.

"Kenapa? Kau merasa bersalah pada Leonel?" Jeremy tersenyum miring. "Ah, aku jadi punya ide bagus untukmu. Kenapa kau tidak bergabung saja menjadi bagian dari Barnave?"

"Kau bahkan menawarkan hal konyol seperti itu padaku?" Raynelle tersenyum miring sambil menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa Jeremy menanyakan hal yang tak mungkin bakal ia turuti?

"Hei kau itu bukan Pure Blood, akan sangat mudah untuk merubah statusmu. Aku bisa saja membersihkan darah Raffertha dari tubuhmu dan menggantinya dengan darah Barnave. Dengan begitu, kau akan sepenuhnya menjadi milik kami."

"Aku takan membiarkan semuanya sesuai keinginanmu. Bahkan jika aku harus mati sekalipun, aku takan sudi menjadi bagian dari Barnave!"

Kalimat Raynelle membuat Jeremy gemas. Ia mendekatkan wajanya hingga pipi mereka bersentuhan kemudian berbisik, "Perlukah aku mengulang kembali ciumanmu? Ah, atau melakukan hal lebih dari itu untuk membuatmu semakin bersalah pada Leonel?"

"Jangan kurang ajar!"

"Dengan begitu, kau semakin tak punya muka untuk kembali padanya. Tapi—sepertinya cara menyenagkan itu sedikit merepotkan kalau kau belum bisa tunduk padaku." Jeremy mengeluarkan sebotol cairan kemudian menyuntikkannya di tubuh Raynelle. "Tenang saja, ini bukan obat perangsang. Aku takan melakukannya dengan cara kotor seperti itu."

"Cairan apa yang kau suntikkan?"

"Kau akan tahu setelah merasakan efeknya," jawab Jeremy tersenyum. "Nah sekarang, nikmatilah penderitaanmu. Aku akan segera kembali."

Raynelle masih terdiam sepeningggalan Jeremy, menantikan apa yang akan terjadi pada tubuhnya. Beberapa menit ia tak merasakan apa-apa dan itu membuatnya semakin heran dan sedikit—khawatir karena biasanya semakin lama efeknya dimulai, maka pengaruhnya akan semakin kuat dan menyiksa.

Book 3 : RafferthaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang