Peraturan baru yang dikeluarkan dewan membuat Leonel dan Raynelle menjadi sibuk untuk mempersiapkan pertahanan dan strategi dalam pertempuran yang tidak seimbang ini. Mereka selalu berpesan pada kedua anaknya untuk tetap diam di rumah selama mereka mengurus keperluan mereka untuk meningkatkan kewaspadaan.
Hari ini Charoline kembali mengundang seluruh kepala klan beserta para istriya untuk menyerahkan identitas klan mereka masing-masing sebagai syarat agar tetap mendapat akses di Blood Centre. Raut wajah yang bersitegang dengan hawa permusuhan membuat kediaman Ruthven semakin mencekam, namun gadis itu tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala Dewan Vampire meskipun sebenarnya ia ingin mengakhiri semua.
Raynelle melirik kearah nyonya Barnave yang duduk dengan logat angkuh yang elegan, sementara nyonya Fourie...ini pertama kalinya Raynelle melihat nyonya Forie secara langsung. Meskipun nyonya Fourie selalu terlihat tenang, namun Raynelle menangkap hawa aneh darinya terutama saat adu pandang dengannya, seolah-olah nyonya Fourie mengatakan 'kau gadis yang telah merebut menantuku sekaligus penyebab kematian putriku'.
Di tempat lain, Louis dan Loury tetap berdiam di rumah dengan patuh. Mereka tahu betul bahwa keluarga mereka sedang terancam, meskipun mereka sendiri tidak tahu harus bagaimana selain memperhatikan sikap kedua orang tuanya yang selalu cemas disela-sela candaan mereka.
Louis cukup berambisi untuk membantu kedua orang tuanya, di usianya yang hampir menginjak remaja membuat pola pikirnya bergerak cepat seperti ayahnya. Ia tak henti-hentinya melamun dengan kening berkerut, menikmati pikirannya yang merambah pada titik masalah yang akan mereka hadapi.
Sementara Loury adalah gadis cerdas dan pengertian. Ia bisa membaca situasi yang orang tua mereka alami, sehingga ia dan saudaranya lebih memilih untuk patuh. Kejanggalan yang ia rasakan membuatnya tak berani beranjak sedikitpun dari rumah.
Pada saat yang sama, mereka mendengar pergerakan di sekitar rumah. Kedua bersaudara itu saling menatap waspada sambil merapatkan diri. Mereka tahu bahwa pergerakan itu bukan kedua orang tuanya yang saat ini tak ada dirumah.
Mereka segera melesat menuju tempat penyimpanan senjata. Louis sudah menarik pedang milik ayahnya sementara Loury sudah menggenggam busur hitam milik ibunya. Mereka kembali ke ruang tengah sambil menatap seisi rumah dengan waspada. Mata mereka menangkap kelebatan bayangan hitam pekat dan jumlah bayangan itu lebih dari dua orang.
"Louis, sepertinya mereka menggunakan kesempatan ini dengan baik." Loury sudah bersiap menarik busurnya dengan kuat.
"Apapun yang terjadi, kita harus hadapi semampu kita. Ayah dan ibu pasti segera datang."
Loury terdiam mendengar penuturan Louis dan hanya bisa berharap bahwa orang tua mereka benar-benar akan datang.
Tak lama, pintu utama terbuka secara paksa dengan keras, membuat mereka sedikit melonjak kaget. Udara dingin berhembus menerpa wajah keduanya dan masing-masing semakin menggenggam erat senjata di tangan masing-masing.
Suara tawa membahana disusul munculnya sosok jangkung berjubah hitam dengan langkah santai namun terasa angkuh.
"Halo anak-anak," sapanya ramah dengan aura kelicikan. "Lama tidak berjumpa dengan paman."
Sosok itu tak lain adalah Jules Fourie, kemudian disusul sosok lain yang sudah menyeringai menatap wajah kedua anak itu.
"Kemarilah, kita main bersama," ajaknya masih dengan raut ramah.
Louis dan Loury tetap bergeming di tempatnya sambil mengangkat senjata di tangan mereka.
"Atau...kalian mau main perang-perangan denganku?" Senyum ramah jules berubah menjadi seringai jahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Book 3 : Raffertha
FantasyPerang telah usai 70 tahun yang lalu, namun perseteruan antar dua klan yang terjadi selama ratusan tahun masih berlangsung. Suasana semakin keruh ketika klan Fourie menyatakan kerjasama dengan klan Barnave untuk memusuhi klan Raffertha. Kedamaian Re...
