Suara gemerisik lembaran kertas memenuhi ruangan rapat yang di selimuti nuansa tegang mencekam. Di kursi dewan, Charoline Ruthven berusaha sebaik mungkin untuk menyikapi apa yang terjadi di wilayahnya. Ras Vampire mendapat kecaman keras dari berbagai kalangan terutama untuk mereka yang saat ini sedang berseteru.
Pernah terbesit sedikit di benak Charoline untuk meminta bantuan pada tuan Edzard Fourie, mengingat ia pernah berteman baik dengan tuan Alaric Raffertha. Namun, akhir-akhir ini ia seperti melihat hubungan yang kurang baik antara tuan Edzard dengan Leonel, dan itu membuatnya harus berpikir ribuan kali untuk meminta bantuan klan Fourie.
"Berdasarkan jumlah korban terbanyak, berasal dari wilayah Rexaine Utara. Banyak yang tewas dari kalangan Manusia, dan dari wilayah Rexaine Barat sendiri banyak yang terluka dan beberapa di antaranya juga tewas," ujar kepala dewan dari Rexaine Pusat. "Laporan sementara dari Rexaine Timur, mereka juga mendapat serangan serupa meskipun tidak memakan korban. Namun Rexaine Timur menetapkan siaga level satu, jika suatu saat mereka kembali menyerang." Kini ia menatap Charoline, selaku Dewan Rexaine Selatan. "Bagaimana nona Ruthven? Apa anda bersedia menerima keputusan dari kami? Untuk mengurangi resiko lebih banyak korban lagi, kami sudah sepakat untuk menyegel Rexaine Selatan dan mengisolasi semua Vampire."
"Lalu bagaimana dengan akses mereka di Blood Centre? Apakah itu juga berlaku?" tanya Charoline dalam situasi krisinya.
"Kalau begitu tarik semua akses mereka di Blood Centre dan gunakan itu untuk mengambil darah disana. Mereka akan tetap mendapat pasokan darah namun hanya anda yang boleh mengambilkannya untuk mereka."
Charoline menghela frustasi. Mengambil darah untuk semua para klan adalah hal yang benar-benar menguji mentalnya, ia harus berhadapan dengan tuan James Barnave yang angkuh itu, ditambah ia hanyalah bocah Vampire yang belum dianggap menginjak usia dewasa.
"Apakah tidak ada keringanan untuk kami? Salah satu dari kepala klan adalah seorang mentor di Espada Academy dan..."
"Anda tidak perlu khawatir soal itu nona Ruthven. Kami sudah menghubungi semua pihak akademi yang memiliki mentor seorang Vampire untuk menggantikannya sementara," jawabnya lagi.
Charoline menghela resah. "Sial!" umpatnya dalam hati. "Baiklah, saya menyetujui keputusan ini," ujarnya kemudian.
"Dan satu lagi nona Ruthven." Charoline menunggu kalimat berikutnya. "Selama perselisihan antar klan Vampire belum selesai, kami tidak akan membuka segel di Rexaine Selatan. Jadi mohon kerjasamanya untuk membantu menyelesaikan masalah mereka."
"Ya, saya mengerti," sahut Charoline pasrah. "Dimana saya harus tanda tangan?"
Salah seorang Elf membawa perkamen besar dan meletakkannya di meja Charoline. Dengan cepat, Charoline menorehkan tinta hitam di sana dan sedetik kemudian coretan hitam itu berubah menjadi warna emas.
"Sekarang dengan keputusan akhir yang telah di setujui berbagai pihak, maka kami para dewan memutuskan untuk menyegel wilayah Rexaine Selatan dengan peraturan bahwa Vampire di sana dalam status terisolasi. Mohon sampaikan pada penduduk di wilayah masing-masing untuk tak mendekati area tersegel. Dan nona Ruthven, mohon sampaikan keputusan ini pada seluruh kepala klan di Rexaine Selatan."
"Baik, saya mengerti."
"Demikian, rapat selesai."
Tak lama semua peserta rapat membubarkan diri tak terkecuali Charoline yang dilanda gelisah dan kesal. Ada kalanya ia memaki posisinya sebagai Dewan Rexaine Selatan dan segala tugas beratnya. Klan Ruthven adalah klan yang enggan berbaur dengan siapapun termasuk dirinya, tapi tugasnya sebagai Dewan membuatnya terpaksa harus berkomunikasi dengan banyak orang termasuk orang-orang menyebalkan dari klan Barnave.
KAMU SEDANG MEMBACA
Book 3 : Raffertha
FantasyPerang telah usai 70 tahun yang lalu, namun perseteruan antar dua klan yang terjadi selama ratusan tahun masih berlangsung. Suasana semakin keruh ketika klan Fourie menyatakan kerjasama dengan klan Barnave untuk memusuhi klan Raffertha. Kedamaian Re...
